Ini Dia Karya Ulama Nusantara yang Dipelajari di Thailand

Ini Dia Karya Ulama Nusantara yang Dipelajari di Thailand

PeciHitam.org – Kitab Jawi yang dikarang oleh para ulama abad ke 16 dan 17 masih eksis dan digunakan dalam kajian Islam di Asia Tenggara, seperti di Indonesia, Malaysia, Thailand dan Philipina. Sebenarnya, karya para ulama Nusantara, khususnya Indonesia tidak terhitung jumlahnya, baik dalam bahasa Melayu maupun Arab.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menurut Joseph Chiyong Liow dalam bukunya Islam, Education, and Reformis In Southern Thailand menyebutkan bahwa Islam di Thailand mayoritas penganutnya berada di tiga Povinsi, yaitu Yala, Pattani dan Narathiwat.

Lembaga pendidikan Islam di Thailand secara umum sama dengan Pesantren di Indonesia. Pondok Pesantren dalam pengertian mereka adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan agama dan bahasa Arab.

Akan tetapi, menurut Jory Patric dalam bukunya Ghost of The Past in Southern Thailand: Essay on History and Histografi of Patanni menjelaskan bahwa secara umum, baik di Indonesia, Malaysia, dan Thailand pembelajaran di lembaga pendidikan Islam memiliki banyak kesamaan, hal tersebut karena hubungan guru murid yang memang terjalin antara para ulama di Nusantara.

Belajar di Pondok ini tidak mengenal kelas atau tingkatan. Mereka yang belajar di Pondok ini betugas untuk belajar setiap kitab yang telah ditentukan setelah menamatkan satu kitab. Apabila belum menamatkan kitab tersebut, santri ini belum boleh belajar kitab lanjutannya.

Baca Juga:  3 Kerajaan Islam di Indonesia Dari Masa ke Masa

Sehingga, dalam istilah pondok ini, mereka tidak mengenal tingkat atau kelas, yang ada hanya santri yang sudah mahir dan santri yang belum mahir.

Pondok jenis ini tidak mengeluarkan ijazah, hanya apabila mereka telah selesai belajar akan diberikan ijazah secara lisan bahwa yang bersangkutan telah siap untuk terjun ke masyarakat, begitu juga ijazah tersebut diberikan bagi para santri yang telah menamatkan belajar dan ingin mendirikan pondok dikampung halamannya.

Tidak jarang banyak diantara para santri ini belajar sampai 15 tahun, kemudian baru keluar dari pondok untuk menjadi ustadz di kampung halaman atau daerah lain yang dikehendaki oleh santri untuk menyebarkan ajaran Islam.

Bagi santri yang inign mendapatkan Ijazah, memilih belajar beberapa tahun di pondok untuk memperdalam ilmu agama, kemudian mereka pindah ke sekolah-sekolah yang mengajarkan ilmu agama Islam, seperti Madrasah di Indonesia.

Mereka tinggal di asrama dan belajar menurut kurikulum yang telah ditentukan. Kurikulum ini biasanya sudah berupa kitab baru yang telah disesuaikan dengan model pengajaran modern. Kitab Jawi juga merupakan kitab yang digunakan dalam pembelajaran di Pondok-pondok di Thailand.

Baca Juga:  Pemetaan Wilayah Dakwah Walisongo Di Jawa

Kitab yang diajarkan menggunakan kitab Jawi ini adalah kitab-kitab tauhid, fiqih dan tasawuf. Selain itu, di dalamnya juga diajarakan kitab-kitab tata bahasa arab utunk tingkat dasar. Tata bahasa Arab ini tetap diajarakan walaupun mereka belum belajar menggunakan kitab Arab.

Pada tingkatan dasar, kitab Ilmu agama Islam yang diajarkan merupakan kitab tentang dasar-dasar pengetahuan fiqih ibadah, seperti kitab fardu’n dan kitab Al-Mushalli karya Syaikh Daud bin Abdullah Fattani.

Setelah menamatkan kitab-kitab dasar yang ditentukan, barulah santri boleh melanjutkan ke kitab-kitab lainnya yang dianjurkan oleh guru, dan biasanya ini telah diketahui oleh setiap santri menurut kebiasaan para santri sebelumnya.

Kitab-kitab Jawi Karya Ulama Nusantara yang digunakan di Thailand di antaranya adalah kitab Sabilal Muhtadin karya Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, kitab Sirussalikin karya Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani, dan Jam’u Jawami’ Al-Musannafat karya Syekh Ismail bin Abdul Muthalib Al-Asyi.

Baca Juga:  Tiga Datuk Penyebar Islam di Sulawesi Selatan

Santri yang mempelajari kitab-kitab ini adalah mereka yang telah tergolong kepada para ustadz atau guru. Mereka telah terlebih dahulu mempelajari kitab-kitab pondok lainnya pada tingkat dasar dan ketika sudah dianggap menguasai kitab-kitab dasar tersebut, maka barulah mereka boleh mempelajari kitab-kitab selanjutnya.

Untuk kitab Tafsir pada tahap belajar kitab jawi, para santri belajar kitab tafsir Jalalain berbahasa Arab, kemudian setelah menamatkan kitab jalalain mereka baru belajar kitab Tafsir Shawi yang merupakan syarahan (penjelasan) lebih rinci dari kitab tafsir Jalalain.

Mohammad Mufid Muwaffaq