Inilah 5 Hal yang Menjadi Keprihatinan Ulama Terhadap Keilmuan Islam Sekarang Ini

Inilah 5 Hal yang Menjadi Keprihatinan Ulama Terhadap Keilmuan Islam Sekarang Ini

Pecihitam.org- Sejak dekade 80-an yang lalu hingga sekarang banyak muncul kesadaran sekaligus keprihatinan di kalangan ulama dan pemikir Islam, terhadap  keilmuan Islam sekarang ini, terlebih di tengah berkembanganya sosial masyarakat dengan segala tradisinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal tersebut sangat terasa di lingkungan pesantren, khususnya pesantren tradisional yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Kesadaran dan keprihatinan terhadap keilmuan islam sekarang ini antara lain dilatari oleh berbagai alasan dan perkembangan yang mengitari, seperti:

Pertama, Mulai terasa minimnya jumlah ulama dan kiai yang benar-benar menguasai ilmuilmu agama, seperti Tafsir, Hadits, Fiqh, dan Tasawuf. Akibatnya sangat minim mereka yang kemudian memberikan pengajaran kitab-kitab besar di pesantren.

Kedua, Maraknya aktivitas-aktivitas dakwah Islam dari sementara kelompok yang menamakan diri sebagai gerakan pembaharuan Islam atau gerakan pemurnian Islam di tengah-tengah masyarakat yang sering menimbulkan keributan dalam komunitas Islam.

Ketiga, Sarjana-sarjana agama Islam di luar pesantren banyak juga yang secara ilmiah cukup mumpuni, yakni menguasai berbagai macam ilmu.

Namun demikian entah apa sebabnya, merek kurang dekat dengan masyarakat bawah dan kurang dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat awam. Sarjanasarjana agama tersebut lebih tertarik pada jabatan birokrasi, misalnya menjadi pegawai negeri, ketimbang menjadi pemimpin umat di masyarakat.

Baca Juga:  Persamaan Antara Orang Kaya dan Miskin dalam Hadis Nabi, Apa Sajakah Itu?

Keempat, Daya tarik kehidupan politik kekuasaan dengan segala fasilitasnya banyak memalingkan ulama-ulama muda dari kiprah memberikan pencerahan masyarakat dan membimbing untuk memberdayakan mereka.

Kelima, Pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi informsi sudah mulai dirasakan, baik dari sisi positif maupun negatifnya (Yasid, 2010).

Wasath dalam agama adalah berpegang teguh dengan sirah Nabi. Ghuluw dalam agama adalah melewatinya dan taqshir (kurang) adalah tidak sampai kepadanya. Contohnya:

Seseorang berkata: “saya bangun sepanjang malam (ibadah) dan tidak tidur sepanjang tahun, karena shalat adalah ibadah yang paling utama, maka saya ingin menghidupkan semuanya dengan shalat”. Kami katakan: “ini ghuluw dalam agama Allah dan tidak berada di atas kebenaran dan kasus seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi”.

Ada tiga orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka.

Baca Juga:  Lafadz Bismillah; Makna, Sejarah dan Keutamaannya

Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?”

Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya.” Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka.” Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.”

Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (Al-Bukhari 5063 dan Muslim 1401).”

Baca Juga:  Hadits Tentang Dakwah dan Cara Berdakwah yang Baik, Para Dai Jangan Sembrono!

Mereka telah bertindak ghuluw dalam agama dan Rasulullah berlepas diri dari mereka, karena mereka membenci sunnahnya, yaitu puasa dan berbuka, bangun dan tidur, serta menikahi wanita.

Adapun muqashshir, yaitu orang yang berkata: “saya tidak perlu melakukan ibadah sunnah, saya tidak melakukan ibadah sunnah dan saya hanya melakukan yang wajib saja”. Terkadang ia kurang dalam ibadah wajib, maka ia adalah muqashshir.

Mochamad Ari Irawan