Kualitas Spiritual Warga Negara dan Kemajuan Bangsa

spiritual bangsa

Pecihitam.org – Suatu negara pada hakekatnya ibarat organisasi besar. Negara sebagai organisasi yang besar memerlukan sistem manajemen yang tepat untuk mencapai tujuannya, seperti control social, perencanaan social, alokasi dan distribusi kekuasaan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Manajemen bisa berjalan efektif apabila warga negara yang merupakan sumber daya manusia dari suatu bangsa itu sendiri memiliki kualitas yang baik untuk menjalankan tugasnya masing-masing. 

Salah satu elemen sebuah negara adalah warga negara. Warga negara ibarat karyawan sebuah perusahaan sebagai roda penggerak berjalannya suatu proses industri. Perusahaan produktif tentunya harus memiliki karyawan yang produktif. Begitu pula negara, negara akan maju tentunya harus didukung warga negara yang unggul dan berkualitas. 

Suatu negara akan maju dan tidak, salah satunya dipengaruhi faktor kondisi spiritualitas yang dimiliki oleh warga negara tersebut. Di Indonesia, spiritualisme seperti ini sebenarnya masih merupakan suatu hal yang umum dan biasa dijumpai dalam masyarakat, atau dalam setiap sukubangsa di Indonesia, walaupun dengan kadar atau tingkatan yang berbeda-beda.

Dengan kata lain spiritualitas suatu suku bangsa, masyarakat atau komunitas berbeda-beda, dan ini disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut Imam al-Ghazali, negara dan moral tidak lagi merupakan dua hal yang terpisah, tetapi keduanya harus disatu-padukan, menjadi satu badan yang kompak.

Baca Juga:  Ancaman Arus Islam Formal

Menurutnya, negara yang tidak mempunyai moral berarti keruntuhan; dan sebaliknya moral yang tidak sejalan dengan negara adalah kelumpuhan. Seraya mengutip sabda Nabi Muhammad yang berbunyi: “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang utama.

Untuk ini Imam al-Ghazali menyebut adanya tiga akibat yang disebabkan krisis moral ini: Dalam bidang politik, ia akan menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan, yang umum dinamakan krisis gezag. Para pejabat negara mempergunakan kekuasaannya secara salah.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merajalela. Kekuasaan dipergunakan untuk memenuhi nafsu serakah individu dan kelompoknya. Jika pihak atasan sudah berbuat demikian, maka para pegawai di tingkat bawah mengambil teladan atas perilaku atasannya itu. Jika demikian yang terjadi, maka pemerintahan menjadi suatu alat pengrusak di tangan orang-orang yang tamak dan haus dengan kekuasaan.

Akibat dari krisis moral ini secara keseluruhan adalah munculnya budaya tamak,rakus haus akan kekuasaan . Mereka yang telah mengidap penyakit ini terus-menerus, akan menggunakan segala cara, menghalalkan segala cara, mereka hanya menuruti nafsu nya, demi tujuan yang diinginkannya.

Freud mengatakan bahwa pangkal dari berbagai macam penyakit yang mengganggu manusia berawal dari pertentangan di dalam hawa nafsu (sexueel conflict). Dalam bahasa al-Qur’an dikatakan: “Sesungguhnya nafsu cenderung selalu mengarahkan pada kesesatan” (Q.S. Yusuf (12):53).

Baca Juga:  Benarkah Radikalisme Hanya Identik dengan Agama?

Seiring dengan apa yang dikatakan al-Ghazali, apabila kita mencermati dengan saksama terkait fenomena sosiologis yang terjadi dimasyarakat Indonesia, kita akan menemukan dua kecenderungan yang saling berlawanan. Pertama, bangsa Indonesia menyebut dirinya sebagai bangsa yang religius. Simbol-simbol untuk itu sangat jelas dan kasat mata.

Diantaranya , KTP sebagai simbol untu menyatakan  keberagamaan seseorang dinegeri ini . Pembangunan tempat ibadah terus bertambah dari waktu ke waktu. Dari tempat-tempat suci tersebut berkumandang seruan dan ajakan untuk berbuat kebaikan. Jumlah orang yang naik haji dari tahun ke tahun tidak pernah berkurang.

Bahkan apabila kuota untuk jamaah haji Indonesia ditambah sekalipun, yakin dan pasti kuota itu akan terpenuhi. Media massa, baik cetak maupun elektronik, senantiasa memberikan tempat dan ruang untuk dakwah. Bahkan dalam kurun terakhir, buku-buku yang bernuansa keagamaan, kelihatan sangat menggembirakan dan banyak diminati.

Para pengamat tidak akan kesulitan untuk sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang taat beragama. Antusiasme beragama dari waktu ke waktu menunjukkan grafik yang senantiasa naik.

Akan tetapi disisi lain terjadi berbagai pelanggaran. Pelanggaran moral baginya dirasakan enteng saja, sekalipun pesan-pesan agama yang sering didengarnya mengecam perilaku itu, sejak dari ancaman yang ringan sampai ke tingkat yang sangat keras dan mengerikan.

Baca Juga:  Menyampaikan Pesan Sejuk dalam Kejumudan Sosial Melalui Filsafat Dekonstruksi

Bagaimanapun  pelanggaran moral yang terjadi walaupun itu kecil kadarnya, kalau hal itu terjadi terus-menerus dan sampai menjadi budaya, maka hal itu  akan dapat merapuhkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pendidikan dan moralitas merupakan dua pilar yang sangat penting bagi teguh dan kokohnya suatu negara. Pendidikan adalah suatu  upaya  dalam rangka mengantarkan manusianya untuk menjadi warga negara yang memiliki kekuatan intelektual dan spiritual, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya di segala aspek. Hal ini harus menjadi suatu garisan pokok dalam setiap proses pembangunan suatu bangsa.

Sumber tambahan:

  • A. Syafi’i Maarif, dalam Muslih Usa dan Aden Wijdan (ed.),  Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial. (Yogyakarta: Aditya Media, 1997) 
  • Zainal Abidin Ahmad, Konsepsi Negara Bermoral. (Jakarta: Bulan Bintang, 1975)