Mengenal Mbah Abdurrahman Kebumen, Ulama Nusantara dengan Karomah Luar Biasa

Mengenal Mbah Abdurrahman Kebumen, Ulama Nusantara dengan Karomah Luar Biasa

PeciHitam.org – Mbah Kyai Abdurrahman adalah seorang ulama yang merintis berdirinya (muassis) Pondok Pesantren Al-Huda di Dusun Jetis, Desa Kutosari, Kebumen.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pondok Pesantren yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Jetis ini didirikan sekitar tahun 1880 Masehi. Hal ini juga dapat dibuktikan dengan adanya tulisan tahun “1880 Masehi” pada kayu rangka penyangga mushalla pesantren ini.

Mbah Abdurrahman, panggilan akrab K.H. Abdurrahman yang merupakan putera dari Kiai Imanjali bin Kiai Abdus Somad. Beliau berasal dari Desa Ambalkebrek, Kecamatan Ambal Kebumen, sebuah desa yang berada sekitar 4 km dari pantai Ambal pesisir laut selatan Kebumen.

Nama kecil Mbah Abdurrahman sebenarnya adalah Solihin, beliau diberi nama Abdurrahman oleh gurunya setelah selesai menimba ilmu di Tanah Suci. Sebelum menuntut ilmu di tanah suci, Solihin nyantri di Pondok Pesantren Ringin Agung, Jember Jawa Timur.

Ada sebuah kisah yang menjadi wasilah akhirnya Solihin menimba ilmu di Pondok Pesantren Ringin Agung. Pekerjaan Solihin sehari-hari ketika kecil adalah angon (menggembala) kerbau milik pamannya. Pada suatu hari, ada seekor kerbau yang digembalanya hilang.

Pamannya tidak mau tahu dan menuntut Solihin untuk mencari sampai ketemu. Dengan menangis karena diliputi rasa takut dan merasa bersalah, Solihin terus berjalan mencari ke arah timur. Berhari-hari berjalan, akhirnya sampailah Solihin di Pondok Pesantren Ringin Agung, kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan ngaji di sana.

Dengan penuh keprihatinan dan himmah yang kuat, Solihin berhasil menguasai berbagai ilmu diajarkan oleh gurunya. Akhirnya, setelah beberapa tahun menimba ilmu di Pesantren Ringin Agung, Solihin meminta restu gurunya untuk melanjutkan tholabul ilmi ke Tanah Suci.

Baca Juga:  Mengenal Fiqih Melalui Kiai Bisri Syansuri

Sebelum berangkat ke tanah suci Solihin diberi syarat untuk meminta doa restu kedua orang tuanya di Kebumen dan berziarah ke Makam Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan. Orang tuanya sempat kaget dan tidak percaya kalau ternyata Solihin, anaknya masih hidup. Karena sudah bertahun-tahun Solihin tidak pulang ke rumah, bahkan oleh keluarganya ia sudah dianggap meninggal.

Tiba di Tanah Suci, Solihin muda berguru tasawuf dan thariqah kepada Syekh ‘Abdur Rauf dan Syekh Sulaiman Zuhdi di daerah Jabal Qubais, sebuah pegunungan di daerah sebelah timur Masjidil Haram. Guru beliau Syekh Sulaiman Zuhdi, yang dikenal dengan julukan Syekh Jabal Qubais merupakan silsilah ke-32 dari Nabi Muhammad SAW.

Seorang ulama besar yang berperan besar dalam penyebaran Thariqah Naqsabandiyah di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Beberapa ‘ulama Nusantara yang juga pernah berguru pada Syeh Sulaiman Zuhdi diantaranya Syekh M. Hadi dan Syekh Ali Ridho Girikusumo (Jawa Tengah), Syekh Sulaiman Huta Pungkut (Sumatera Barat), Syekh Abdul Wahab Rokan (Aceh), dan lain-lain.

Beberapa tahun berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi, Solihin akhirnya di-bai’at oleh gurunya untuk menjadi mursyid dan di beri ijazah (kepercayaan) untuk mengembangkan Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyyah di tanah air. Oleh gurunya Solihin kemudian diberikan nama baru, yaitu Abdurrahman.

Pulang ke tanah air, Abdurrahman kembali ke kampung halamannya di Desa Ambalkebrek, Kecamatan Ambal. Di kampung halamannya, beliau kemudian aktif berdakwah, membuka majelis pengajian dan menyebarkan ajaran thariqah. Karena sering mengadakan kegiatan pengajian, suluk dan tawajuhan yang terkadang dilaksanakan secara tertutup, beliau dicurigai oleh penjajah Belanda.

Baca Juga:  Profil Lengkap Habib Umar bin Hafidz, Nasab Hingga Dakwahnya ke Seluruh Dunia

Beliau dituduh sedang menggalang kekuatan untuk memberontak pada pemerintah kolonial Belanda. Akhirnya, pada suatu ketika beliau ditangkap Belanda dan dimasukkan dalam penjara. Menurut cerita dari Mbah Sonhaji Jimbun (Guru Thariqah dari Gus Dur), ketika di dalam penjara karomah Mbah Abdurrahman mulai terlihat.

Pada suatu ketika, seluruh tahanan di dalam penjara terkena wabah penyakit gatal-gatal. Wabah penyakit tersebut berlangsung cukup lama dan tidak kunjung hilang. Akhirnya KH. Abdurrahman dan menawarkan diri untuk menyembuhkan. Oleh Mbah Abdurrahman, para penghuni penjara hanya disarankan untuk mengambil air wudlu dari padasan (tempat air yang terbuat dari tanah liat) milik beliau.

Secara khusus, memang Mbah Abdurrahman membawa padasan ke dalam penjara untuk memudahkan beliau dalam mengambil air wudlu. Konon, padasan milik Mbah Abdurrahman sampai sekarang masih ada. Setelah para tahanan mengambil air wudlu di padasan milik Mbah Abdurrahman, semua penyakit gatal seketika hilang.

Oleh sebab itu, dengan karamah yang dimiliki Mbah Abdurrahman, akhirnya beliau dilepaskan dari penjara. Namun karena beliau masih dianggap berbahaya, beliau diharuskan tinggal dekat pusat kota pemerintahan. Beliau kemudian ditempatkan di dusun Jetis, sebuah daerah di pinggiran sungai Lukulo yang saat itu membutuhkan seorang kiai.

Oleh masyarakat setempat Mbah Abdurrahman dibuatkan sebuah rumah dan mushalla sebagai majelis pengajian. Di dusun Jetis, beliau kemudian meneruskan dakwah mengajarkan ilmu agama dan menyebarkan ajaran Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah. Berawal dari sinilah Sejarah Pondok Pesantren Al-Huda dimulai.

Baca Juga:  Biografi Imam As Suyuthi Penyempurna Kitab Tafsir Jalallain

Sekitar tahun 1880-an, walaupun saat itu belum diberi nama Al-Huda. Nama Al-Huda baru digunakan pada periode kepemimpinan K.H. Mahfudz Hasbullah. (w. 1985). Mbah Abdurrahman wafat pada hari Jum’at, dengan posisi sedang melakukan sujud tilawah di dalam Shalat Shubuh.

Pondok Pesantren Al-Huda saat ini di asuh oleh K.H. Wahib Mahfudz (1986-sekarang), beliau merupakan keturunan ke-4 dari Mbah KH. Abdurrahman. (K.H. Wahib Mahfudz, putra dari K.H. Mahfudz bin K.H. Hasbullah bin K.H. Abdurrahman).

Berawal dari sebuah majelis pengajian kecil yang di rintis oleh Mbah Abdurrahman, Al-Huda saat ini berkembang pesat menjadi Pesantren Salaf-Modern. Selain dikenal suluk Thariqahnya, Pondok Pesantren Al-Huda juga terbilang cukup maju dengan lembaga pendidikannya, baik formal maupun nonformal. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq