Nilai-nilai Pancasila dalam Islam Sebagai Falsafah Bangsa Indonesia

pancasila dalam islam

Pecihitam.org – Pancasila adalah falsafah bangsa Indonesia. Pancasila bukanlah sebuah syariat namun nilai yang terkandung di dalamnya adalah syariat yang tersimpan. Pancasila tersimpan kepahaman Islam, karena ketika dijabarkan sila-sila dalam pancasila berisikan tentang landasan yang tertuang dari Al-Qur’an.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kandungan religius, sosial, moral, ekonomi, kemanusiaan serta persatuan semuanya juga terkandung dalam Pancasila, dan itu semua juga termasuk dalam ajaran Islam. Jiwa Pancasila juga sebagai semangat yang mencerminkan semangat Islam itu sendiri.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Yaitu sila yang menjiwai nilai-nilai yang lainnya, dimana sila pertama adalah konsep ketauhidan, yang dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa bahwa:

وَاعبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيئاً……..

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatupun”

Dalam sila pertama juga jelas tercantum bahwa dasar kuat bagi seorang manusia dalam kehidupannya adalah beragama secara tulus, tanpa menyekutukan Tuhan yang dia sembah. Dan dapat dikatakan bahwa meski di Indonesia banyak agama yang diakui oleh negara, pada intinya adalah apapun agamamu yang terpenting yaitu satu, dimana kau taat beragama dan kau percaya dengan Tuhan. Tuhan itu satu yang berbeda adalah cara kita menyembah Tuhan.

Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Maknanya adalah bahwa setiap manusia harus menegakkan keadilan dan keadaban dalam berperilaku. Baik secara individu maupun kelompok, baik dengan keluarga maupun dalam lingkungannya.

Ketika ada orang yang menolak sila yang kedua secara tidak langsung dia juga menolak untuk berhubungan baik dengan sesama. Sama saja dengan tidak menginginkan berteman dan berhubungan dengan orang lain.

Baca Juga:  Jarang yang Tahu, Ini Tanda-tanda Jodoh Kamu Sudah Dekat

Begitupun bisa dikatakan bahwa orang tersebut juga tidak mau untuk hidup dengan beradab dan berakhlak, dalam artian bahwa dia seperti hewan yang tidak memiliki adab sama saja dengan manusia yang tidak bermoral.

Sila ke tiga, persatuan Indonesia. Prinsip dalam membangun sesuatu apapun itu adalah bersatu, seperti semboyan Indonesia Bhineka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu. Persatuan adalah kunci, begitupun yang tercantum dalam al-Qur’an dimana Allah memerintahkan untuk bersatu dan mengecam terhadap perpecahan.

Prinsip persatuan ini juga telah nabi Muhammad Saw contohkan ketika beliau di Madinah, dimana beliau menjalin persatuan dengan kelompok-kelompok sosial dari kalangan ahli kitab, yahudi dan nasrani serta golongan lain yang kemudian dikenal sebagai piagam Madinah.

Dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman:

قُلْ يا أهْل الكِتَابِ تعَا لوْا إلى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ألاَّ نَعْبُدَإلاَّ اللهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْيْئٍا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَا بًا مِنْ دُونِ اللهِ فَإٍ تَوَلَوا فقولوا اشهدوابأنّامسلمونَ

“Katakanlah: ‘Hai Ahli kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan diantara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. jika mereka berpaling makaa katakanlah kepada mereka : ‘saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’”.

Indonesia dengan berbagai macam suku, agama, budaya mampu menyatukan elemen masyarakat. Sehingga dapat kita lihat bahwa Indonesia juga telah menerapkan dan mengamalkan semangat Al-Qur’an serta mencontoh sikap nabi untuk menjalin dan menjaga persatuan dari yang kecil hingga tataran terbesar.

Baca Juga:  Fatwa Ulama Tentang Arah Kiblat, Sejarah dan Cara Mencarinya

Apabila seseorang tidak menjalankan sila ke tiga atau bahkan tidak mengamalkannya maka sama saja dia menginginkan perpecahan dan juga kerusakan. Padahal kita tahu perpecahan dalam islam sangat dilarang.

Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dalam sila keempat, menjadi pemimpin haruslah yang bijaksana tidak miring sebelah atau kebijakan yang meruncing.

Dimana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, hukum untuk orang menengah kebawah sangatlah kejam dengan kebijakan yang tidak masuk akal. Sedangkan untuk para petinggi, elit politik atau orang yang memiliki jabatan sangatlah tumpul. Yang miskin ditekan dan yang kaya punya jabatan malah dibebaskan.

Wakil rakyat hanyalah sebuah embel-embel kekuasaan dimana mereka yang seharusnya menyampaikan aspirasi masyarakat malah semakin semena-mena, sehingga kebijakan tidaklah merata.

Sedangkan dalam Al-Qur’an yang namanya pemimpin haruslah yang adil dan bijaksana terhadap rakyatnya, tidak boleh semena-mena dan otoriter, seperti yang Allah contohkan dengan kepemimpinan fir’aun. Disamping itu pengambilan keputusan juga perlu yang namanya musyawarah agar mencapai mufakat atau keputusan bersama.

Sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam Al-Qur’an, menentukan pilihan memang dianjurkan dengan permusyawarahan seperti dalam surat Ali Imran ayat 159

فبما رحمةٍ من الله لنت لهم ولو كنت فظًّا غليظ القلب لانفضّوا من حولك.فَاعْفُ عَنْهُمْ واستغفر لهم وشاَورهم في الأمر ……

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu….”

Dalam sila kelima ini juga masih ada kaitannya dengan sila sebelumnya. Dimana dalam Islam dikatakan bahwa keadilan adalah sifat yang paling dekat dengan ketakwaan. Membela kedzoliman, penindasan adalah salah satu cirinya.

Baca Juga:  Asal Usul dan Keistimewaan Shalawat Munjiyat

Memperlakukan sama antar sesama makhluk adalah keadilan. Meski menurut pepatah bahwa adil tidak harus sama, namun adil adalah merata. Adil itu tidak membedakan dia kaya atau dia miskin, seperti memberikan hukuman terhadap pelanggar hukum. Apabila dia adalah seorang koruptor dan merugikan negara harus tetap mendapatkan hukuman yang setimpal, bukan karena dia punya uang hukum bisa dibeli.

إنَّ الله يأ مركم أن تؤدّوا الأماناتِ إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أنَّ أنتحكموا بالعدل ……

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”

Dengan demikian, secara umum pancasila adalah falsafah bangsa Indonesia dengan kandungan yang terdapat didalamya bernafaskan syari’at Islam yang harus dipegang teguh dalam kehidupan bernegara. Wallahu a’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik