Bagaimana NU Dimata Dunia? Begini Cerita dari Para Ahli

Bagaimana NU Dimata Dunia? Begini Cerita dari Para Ahli

Pecihitam.org- NU adalah organisasi yang dikenal sangat moderat di berbagai kalangan, NU dimata dunia memiliki nama yang harum dan juga ada yang mengatakannya unik.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seorang peneliti Islam Indonesia yang bernama Martin Van Bruinessen asal Belanda dalam sebuah diskusi pernah mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi yang unik. Hal ini disebabkan NU hanya digandrungi oleh orang-orang Indonesia.

Padahal NU adalah organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia, akan tetapi organisasi ini hanya memiliki anggota dari Indonesia. Jikalau di luar negeri ada anggota NU, itu pun merupakan orang-orang Indonesia yang tinggal di sana.

Argumentasi Martin di atas sebenarnya menegaskan bahwa NU adalah Indonesia. Keberhasilan NU merepresentasikan Islam Indonesia sebagai Islam yang ramah dan toleran adalah sebuah kearifan kebangsaan.

Pada titik ini, NU tidak pernah menancapkan ideologinya di kancah internasional, sebagaimana kemunculan ideologi trans-nasional yang akhir-akhir ini marak terjadi.

Sebagai organisasi terbesar di negara berpenduduk Muslim terbesar, NU tidak serta merta kemudian menjalarkan hegemoninya ke berbagai pelosok dunia. Hal ini barangkali dilandasi oleh prinsip kebangsaan yang teguh dalam membangun keberagamaan yang membumi di Indonesia.

Baca Juga:  Siapakah Sebenarnya Kelompok Asy'ariyyah? Ini Penjelasannya

Sejak awal, NU merupakan Jam’iyyah Ijtima’iyyah yang membangun gerakan keagamaan pada level yang paling bawah, yaitu masyarakat. Jika kita kembali menengok sejarah, kelahiran NU tidak lain muncul karena keprihatinan akan upaya penghapusan kearifan lokal dalam keberagamaan masyarakat.

Pada level internasional, Komite Hijaz diinisiasi sebagai upaya untuk melindungi kepentingan bersama umat Islam dari ancaman gerakan Wahabisme di Saudi Arabia.

Sehingga NU sebagai gerakan sosial kemasyarakatan berupaya “menyelamatkan” tradisi pribumi yang menjadi cara beragama masyarakat di Indonesia.

Jikalau NU dalam sejarahnya pernah ambil bagian dalam gerakan politik, hal tersebut tidak lain adalah dinamika perjuangan kebangsaan dan nasionalisme.

Hampir semua kiprah politik NU, selalu dilandasi dengan ijtihad politik berbasis fiqih, yang merupakan kerangka acuan pengambilan hukum dalam Islam.

Beberapa ijtihad politik NU antara lain, seperti: sikap non kooperatif terhadap penjajah Belanda namun kooperatif saat penjajahan Jepang, penetapan dar al-Islam pada wilayah Indonesia, Resolusi Jihad, penerimaan Soekarno sebagai Presiden dalam kerangka waliy al-amri al-daruri bi asy-syaukah, sampai pada menjadi organisasi politik dan keluar dari politik merupakan sederet manifestasi ijtihad politik yang berdasar pada ajaran Islam (fiqih).

Baca Juga:  Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah

Bahkan dalam salah satu resistensi politik terhadap pemerintahan kolonial, NU pernah mengeluarkan fatwa tentang anti meniru sikap penjajah. Dasarnya adalah man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum (barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari kaum tersebut).

Manifesto ini kemudian melahirkan gerakan anti meniru sikap dan karakter penjajah, termasuk “haram” meniru cara berpakaian mereka. Anti meniru ini kemudian meniscayakan para warga nahdliyyin untuk memakai sarung sebagai identitas kulturalnya.

Dan yang menarik dari manifestasi politik tersebut adalah sikap dan dampak bagi kelangsungan bangsa Indonesia. Hal ini yang kemudian dimaknai sebagai nasionalisme kaum santri, di mana kepentingan bangsa menjadi maqashid yang mendasari sikap dan ijtihad dalam berpolitik.

Kiprah kebangsaan NU dalam hal ini tidak bisa dianggap remeh, mengingat NU merupakan organisasi terbesar yang ijtihad organisasinya akan diikuti oleh anggota yang notabene merupakan warga negara Indonesia.

Di sisi lain, keberadaan organisasi Islam yang relatif “kecil” dan “baru” yang belakangan muncul sering kali menggunakan simbol dan nama Islam untuk kepentingan ideologinya, di mana gerakannya seringkali bertentangan dengan nilai dasar bangasa Indonesia.

Baca Juga:  Mengenal Konsep Qiyas Ushuli dalam Metode Istidlal Akidah

Organisasi ini sering kali menonjolkan keangkuhan politiknya, mulai menganggap diri sebagai pembela Islam, menyatakan diri yang “paling” islami, sampai pada gerakan transnasional yang menganggap pemerintahan Indonesia sebagai tagut dan harus diganti dengan model yang menurut mereka paling islami.

Ormas-ormas yang gerakannya parsial dan sporaradis ini sering kali tidak berkaca pada sejarah kebangsaan yang dibangun oleh para leluhur bangsa. Mereka paling pandai bermain di media, sehingga senantiasa terekspos dan terlihat besar.

Mochamad Ari Irawan