Sejarah Perang Salib dan Pentingnya Peranan Panglima Salahudin Al-Ayyubi

Sejarah Perang Salib dan Pentingnya Peranan Panglima Salahudin Al-Ayyubi

PeciHitam.org Sejarah kelam tidak pernah terlepas dari perjalanan hidup manusia. Bentuk kelamnya sejarah Manusia adalah timbulnya perang yang bermotifkan kepentingan duniawi bukan untuk mempertahankan diri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perang Salib adalah salah satunya. Perang berkepanjangan dengan berbagai kisah Heroik di dalamya. Perang yang sangat banyak versinya dan berlangsung silih berganti pada era kerajaan atau dinasti berbeda-beda.

Istilah Perang Salib

Perang Salib adalah sebutan bagi berbagai lintasan perang Lintas Agama dengan berbagai motif di dalamnya. Perang ini berlangsung di Asia Barat (sekitaran Lebanon-Palestina) dan di Eropa.

Perang yang terjadi antara abad ke-11 sampai abad ke-17, yang disokong  atau bahkan diarahkan langsung oleh Gereka Katolik yang berpusat di Roma.

Perang Salib seringkali diistilah dengan perang Suci Holy War dan seorang yang ikut perang adalah sebuah perbuatan salih. Orang Katolik pada masa itu berkeyakinan bahwa dosa-dosa mereka akan terampuni dengan bergabung dengan pasukan perang suci ini.

Ahli sejarawan juga banyak mengistilhkan, perang ini hanya disematkan pada sebuah konvoi ziarah bersenjata untuk tujuan Yerusalem. Akan tetapi ada pula yang menyebut, perang salib adalah semua peristiwa Kampanye Militer Katolik dengan dalih iming-iming Pahala Rohani.

Setidaknya Perang Salib terbagi kedalam 9 fase Perang dalam kurun waktu 1095 sampai 1271.

Awal Perang Salib

Perang Salib yang paling terkenal adalah perang-perang perebutan tanah Suci (Baitul Maqdis) melawan orang Islam. Perang ini berjalan dari tahun 1096 sampai tahun 1271 terjadi di dekat laut Mediterania. Selain berhadapan dengan orang Islam, perang ini juga bertujuan untuk memerangi Orang Moro Iberia, dan musuh intern yaitu orang-orang Kristen Katolik yang dianggap Kaum Bidah.

Meletusnya perang Salib I dicetuskan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. Pernyataan perang ini dihasilkan dalam sebuah rapat sidang Konsili Clermont.

Baca Juga:  Sejarah Singkat Terjadinya Perang Salib 5 (1217 M - 1221 M)

Isi dari maklumat Konsili ini adalah mengimbau para Umat Katolik untuk angkat senjata membantu Kaisar Bizantium, Alexios I Komnenos. Kaisar ini sedang berseteru dengan Kerajaan Turki Seljuk  yang beragama Islam. Patron-patron propaganda yaitu tentang adanya perang suci dengan imbalan surga.

Imbauannya ditanggapi dengan penuh semangat oleh seluruh lapisan masyarakat Eropa Barat. Para sukarelawan dikukuhkan menjadi anggota Laskar Salib melalui pernyataan ikut bergabung di muka umum.

Orang mengajukan diri lantaran didorong oleh niat yang berbeda-beda. Ada yang sekadar ingin pergi ke Yerusalem agar ikut terangkat beramai-ramai ke surga, ada yang melakukannya demi bakti kepada majikan, ada yang hendak mencari ketenaran dan nama baik, dan ada pula yang bernafsu meraup keuntungan ekonomi maupun politik melalui keikutsertaannya.

Pada serangan pertama ke wilayah kekuasaan Turki Seljuk, tentara Salib mendirikan Negara Tentara Salin yaitu Kerajaan Yerusalem, Kepangeranan Antiokhia, Negara Kabupaten Edessa dan Negara Kabupaten Tripoli. Akan tetapi mereka mengalami kekalahan memalukan pada tahun 1291 M setelah hampir dua abad menguasai Yerusalem.

Fase Lain Perang Salib

Perang Salib lainnya juga terjadi pada awal abad ke-12. Perang ini terkenal dengan perang Reconquista atau Penaklukan Kembali, yang mana terjadi pada tahun 1123 M. Kampanye perang ini berlangsung sangat lama sekitar 3,5 abad.

Perang yang terjadi di Semenanjung Iberia (Negara Spanyol dan Portugal) menjadikan penanda runtuhnya Kekuasaan Islam di Eropa pada tahun 1492.

Selain perang dengan musuh pasukan Islam, kampanye perang salib ini juga dilakukan untuk menakluka suku-suku penyembah berhala di wilayah Eropa Timur. Perang terjadi pada sekitaran tahun 1147 dan menuju negara-negara Jerman, Denmark, dan Swedia.

Fase lain dari perang Salib juga terjadi pada tahun 1199 yang mana Paus Inosensius III membuat fatwa untuk membuat sebuah Perang Salib politik. Perang salib Politik  memiliki tujuan untuk memerangi orang-orang yang menyeleweng dari ajaran Kristen Roma (kaum Bidah) di wiaya Lengadok dan para penguasa daerah yang tidak tunduk pada perintah Paus di Vatikan.

Baca Juga:  6 Agama di Indonesia yang Resmi dan Diakui, Lengkap Sejarah Masuknya

Perang salib untuk memberangus kaum Bidah dan penguasa yang Ngeyel berlangsung sampai abad ke-15. Perlu dipahami pula, bahwa kekuasaan Agama Katolik pada masa itu sangat sebagaimana tergambar pada kewenangan Paus (Raja Roma) adalah penguasa tertinggi seluruh kerajaan yang menganut paham Katolik.

Para penganut Protestan yang tidak sepemahaman dengan Gereka Katolik Roma juga diberangus pada abad ke-16. Perang Salib juga dilancarkan untuk membendung laju ekspansi Kekaisaran Turki Usmani pada pertengahan abad ke-14, dan baru berakhir dengan pembentukan Perang Liga Suci pada tahun 1699.

Peranan Salahudin Al-Ayyubi

Nama Salahudin Al-Ayyubi memang kental dengan kisah perang Salib. Perang Kaum Muslim dan kaum Kristen pada era Salahudin Al-Ayubi yang masuk dalam era Perang Salib fase kedua. Perang yang terjadi pada tahun 1187 M menjadikan Islam menguasai kawasan Baitul Maqdis Yerusalem.

Salahudin Al-Ayubi (Yusuf bin Najmudin al-Ayubi) digambarkan sebagai panglima perang hebat. Ayah beliau bernama Najmudin Ayub berasal dari daerah Turki dekat Danau Van (Van Golu), danau Air asin terbesar di Turki saat ini.

Ayah Salahudin bermigrasi ke Kota Tikrit (daerah Irak) dengan adik beliau yang bernama Asadudin Syirkuh, yang akan kemudian membawa Salahudin kedalam medan perang.

Salahudin berasal dari suku Kurdi yang terkenal dengan suku Nomad. Awal mula persentuhan Salahudin dengan peperangan ketika dia dititahkan untuk mengantar pamannya, Asadudin Syirkuh, membawa pasukan dari Damaskus (Suriah) ke Mesir di utara benua Afrika untuk membebaskan dari serangan pasukan Kristen.

Salahudin yang pada awalnya, sosok yang dikira lemah dan terlalu lembek ini malah menjelma jadi sosok yang kuat dan berpengaruh diantara pasukan Muslim bahkan sampai ditakuti oleh para musuh Islam.

Baca Juga:  Potret Peradaban Islam di Spanyol, dari Masa Jaya Hingga Runtuhnya

Misi selanjutnya adalah menaklukan Al-Quds yang berada di bawah Kerajaan Yerusalem. Raja berkuasa di Yerusalem adalah Raja Baldwin (Baudouin) IV, terkenal dengan nama Raja Kusta/ Lepra.

Ketika itu Salahudin berkata Ketika Tuhan memberiku negeri Mesir, aku yakin bahwa Dia juga bermaksud memberiku tanah Palestina.

Salahudin pada mulanya menjalin perjanjian damai dengan Raja Baldwin IV, Raja Yerusalem, yang terkenal bijaksana dan tidak menginginkan adanya pertumpahan darah antar keduanya.

Perjanjian damai tersebut kandas dengan adanya pelanggaran orang kaum Kristen ditandai oleh penyerangan kafilah dagang Muslim dekat benteng Akkra (Kerak) oleh Count Rheinald de Chatillon.

Kafilah dibunuh dan dirampas harta dagangan mereka. Atas provokasi ini, akhirnya pecah peperangan antar pasukan Islam dan Kristen. Dilain pihak, pergantian kekuasaan dari Baldwin IV ke Baldwin V menjadikan kerajaan Yerusalem kurang stabil. Terlebih kekuasaan Baldwin V hanya berlangsung singkat dilanjutkan oleh Raja Guy de Lusignan, seorang penganut Kristen Fanatik.

Perang berkesudahan dengan tertangkapnya Raja Guy de Lusignan pada pertempuran Hattin/ Hittin pada tanggal 4 Juli 1187. Kemudian Salahudin menuju Kota Yerusalem dan mendapatkan perlawanan seadaanya dari sisa-sisa pasukan Salib serta warga sipil.

Kejadian berkesan dari peperangan Salib ini adalah ketika Salahudin mengirimkan dokter dan perawat pribadi untuk mengobati sakit Kusta Raja Baldwin IV setelah pertempuran di Akkra.

Reputasi Salahudin Al-Ayyubi yang kesohor menjadikan beliau mendirikan Kerajaan sendiri di Mesir dengan nama Dinasti Ayyubiyah lepas dari kekuasaan Seljuk di Damaskus.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan