Surah Al-An’am Ayat 74-79; Seri Tadabbur Al Qur’an

Surah Al-An'am Ayat 74-79; Seri Tadabbur Al Qur'an

Pecihitam.org – Surah Al-An’am Ayat 74-79 menjelaskan tentang kisah Nabi Ibrahim yang menasehati dan melarang ayahnya dan kaumnya untuk menyembah berhala. Akan tetapi ayahnya tidak juga berhenti dari perbuatan tersebut. Oleh sebab itu maka Ibrahim memohonkan ampunan untuk ayahnya sepanjang hayatnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Penjelasan Surah Al-An’am Ayat 74-79

Surah Al-An’am Ayat 74
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Penjelasan Tafsir Quraish Shihab: Ingatlah, hai Muhammad, saat Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, “Tidak selayaknya engkau menjadikan patung-patung tersebut sebagai Tuhan. Aku melihatmu dan kaum yang menyertaimu dalam penyembahan itu berada dalam jarak yang sangat jauh dari jalan kebenaran.”

Penjelasan Tafsir Jalalain: وَ (Dan) ingatlah إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ (ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar) julukan dan nama aslinya adalah Tarikh أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً (“Pantaskah engkau menjadikan patung-patung sebagai tuhan-tuhan?) yang engkau sembah. Kata tanya di sini bermakna celaan.
إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ (Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu) karena menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan فِي ضَلَالٍ (dalam kesesatan) yaitu tersesat dari jalan yang benar مُبِينٍ (yang nyata”) yang jelas.

Surah Al-An’am Ayat 75
وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

Penjelasan Tafsir Quraish Shihab: Sebagaimana Ibrahim mengetahui kesesatan kaumnya pada saat menyembah patung-patung tersebut, Kami juga menunjukkan kepadanya kerajaan Kami yang besar yang berada di langit, di bumi dan di antara keduanya, agar dapat dijadikan bukti kebenaran terhadap kaumnya dan bertambah iman.

Penjelasan Tafsir Jalalain: وَكَذَٰلِكَ (Dan demikianlah) sebagaimana apa yang telah Kami perhatikan terhadap Ibrahim, yakni ia menganggap sesat ayahnya dan kaum ayahnya نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ (Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan) kekuasaan

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 22-26; Seri Tadabbur Al Qur'an

السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (langit dan bumi) agar ia dapat mengambil kesimpulan tentang keesaan-Ku وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin) terhadap tanda-tanda keagungan Kami itu. Jumlah وَكَذَٰلِكَ serta jumlah yang setelahnya adalah jumlah I’tiradhiah yang diathafkan kepada Lafal قَالَ.

Surah Al-An’am Ayat 76
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

Penjelasan Tafsir Quraish Shihab: Ibrahiîm mencari Tuhannya, lalu diberi petunjuk oleh Allah. Saat kegelapan malam datang, dan ia melihat bintang berbinar-binar, ia berkata, “Ini Tuhanku.” Tetapi sesudah bintang tersebut tenggelam, ia menolak menjadikannya Tuhan dengan berkata, “Aku tidak bisa menerima Tuhan-tuhan yang bisa menghilang dan berubah-ubah.”

Penjelasan Tafsir Jalalain: فَلَمَّا جَنَّ (Ketika menjadi gelap) menjadi kelam pekat عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا (malam hari atasnya, dia melihat sebuah bintang) menurut sebuah pendapat bahwa yang dimaksud adalah bintang Zahrah/Venus

قَالَ (lalu dia berkata) kepada kaumnya yang pada waktu itu menjadi para penyembah bintang-bintang هَٰذَا رَبِّي (“Inilah Tuhanku”) menurut persangkaan-mu فَلَمَّا أَفَلَ (Tetapi saat bintang tersebut tenggelam) surut قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (dia berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”)

Maksudnya adalah bahwa aku tidak suka menjadikannya sebagai Tuhan sebab Tuhan tidak patut memiliki sifat yang berubah-ubah dan pindah-pindah tempat sebab kedua sifat ini hanyalah pantas disandang oleh makhluk-makhluk. Namun ternyata cara yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim tersebut tidak mempan pada diri mereka.

Surah Al-An’am Ayat 77
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

Penjelasan Tafsir Quraish Shihab: Ketika melihat bulan terbit, sesudah itu, ia mengatakan di dalam hatinya, “Ini Tuhanku.” Namun, sesudah bulan tersebut pun tenggelam dan menjadi tampak ketidakbenaran sifatnya sebagai Tuhan, ia berkata bermaksud mengarahkan kaumnya kepada pencarian hidayah, “Aku bersumpah, bila aku tidak ditunjuki Tuhanku kepada kebenaran, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang sesat.”

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 136; Seri Tadabbur Al Qur'an

Penjelasan Tafsir Jalalain: فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا (Kemudian ketika dia melihat bulan terbit) bulan mulai menampakkan sinarnya قَالَ (dia berkata) kepada mereka هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي (“Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku) memantapkan hidayah dalam diriku

لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”) perkataan tersebut merupakan bentuk sindiran Nabi Ibrahim kepada kaumnya bahwa mereka itu sedang di dalam kesesatan akan tetapi ternyata apa yang sudah dilakukannya itu sedikit pun tidak bermanfaat bagi kaumnya.

Surah Al-An’am Ayat 78
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Penjelasan Tafsir Quraish Shihab: Saat melihat matahari muncul ia berkata kepada dirinya sendiri, “Ini Tuhanku, karena ia yang paling besar.” Namun saat sesudah matahari tenggelam ia berkata, “Wahai kaumku, aku tidak bertanggung jawab atas berhala-berhala yang engkau jadikan sekutu Allah dalam beribadah.”

Penjelasan Tafsir Jalalain: فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا (Lalu ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, “Inilah) dhamir dalam Lafal “رَأَى” dimudzakarkan mengingat khabarnya mudzakkar

رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ (Tuhanku ini yang lebih besar.”) daripada bintang dan bulan فَلَمَّا أَفَلَتْ (maka saat matahari itu tenggelam) hujjah yang ia sampaikan kepada kaumnya itu cukup kuat dan tidak dapat dibantah lagi oleh mereka

Baca Juga:  Tanggapan Al-Ghazali terhadap Tafsir Ilmy (Tafsir Ilmiah)

قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (dia mengatakan, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”) dari mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala dan benda-benda hawadits/baru yang masih membutuhkan kepada yang menciptakannya. Akhirnya kaumnya itu berkata kepadanya, “Lalu apakah yang engkau sembah?” Nabi Ibrahim menjawab pada ayat berikutnya:

Surah Al-An’am Ayat 79
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Penjelasan Tafsir Quraish SHihab: Setelah memahami kelemahan makhluk-makhluk tersebut, ia menghadap Pencipta dan berkata, “Sungguh aku mengarahkan tujuanku hanya kepada penyembahan Allah semata, yang menciptakan langit dan bumi, dengan mengesampingkan semua yang bukan jalan-Nya. Setelah bukti-bukti keesaan yang aku lihat itu, aku tidak termasuk dalam orang-orang yang rela untuk menjadi musyrik.

Penjelasan Tafsir Jalalain: إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ (“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku) aku menghadapkan diri dengan beribadah لِلَّذِي فَطَرَ (kepada Tuhan yang telah menciptakan) yang telah mewujudkan السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ (langit dan bumi) yakni Allah SWT حَنِيفًا (dengan cenderung) meninggalkan semua agama untuk memeluk agama yang benar وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan.”) Allah.

Shadaqallahul ‘adzhim. Demikian penjelasan Tafsir Al Qur’an Surah Al-An’am Ayat 74-79 sebagai bagian dari kelanjutan Seri Tadabbur Al Qur’an kita. Semoga bermanfaat.

M Resky S