Surah Al-Furqan Ayat 68-71; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Furqan Ayat 68-71

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Furqan Ayat 68-71 ini, menjelaskan Rasulullah mengadu kepada Allah dengan berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak perlu dihiraukan. Mereka tidak beriman kepadanya, tidak memperhatikan janji dan peringatan-nya. Bahkan mereka berpaling darinya dan menolak mengikuti-nya. Kemudian Allah menyuruh rasul-Nya berlaku sabar dan tabah menghadapi kaumnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Furqan Ayat 68-71

Surah Al-Furqan Ayat 68
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Terjemahan: Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),

Tafsir Jalalain: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ (Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah) membunuhnya إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ (kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu) yakni salah satu di antara ketiga perbuatan tadi يَلْقَ أَثَامًا (niscaya dia mendapat pembalasan dosanya)

Tafsir Ibnu Katsir: Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah saw.ditanya: “Dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab: “Yaitu engkau jadikan bagi Allah tandingan-tandingan, padahal Dia yang menciptakanmu.” Ia bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab:

“Yaitu engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu.” Ia bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau pun menjawab: “Yaitu engkau berzina dengan istri tetanggamu.” ‘Abdullah lalu berkata: “Dan Allah menurunkan ayat untuk membenarkan hal itu, ‘Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah…’”

Demikianlah yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i, dari Ibnu Isma’il, dari Abu Mu’awiyah. Ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits al-A’masy dan Manhur. wallaaHu a’lam.

Ibnu Juraij berkata bahwa Sa’id bin Jubair mendengar Ibnu ‘Abbas bercerita, bahwa orang-orang dari pelaku syirik melakukan banyak pembunuhan dan banyak perzinahan. Kemudian mereka mendatangi Rasulullah saw.

dan berkata: “Sesungguhnya yang engkau katakan dan serukan itu adalah baik, seandainya engkau beritahu kepada kami tentang penghapus dosa apa yang telah kami kerjakan.” Maka turunlah: وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ (“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah lain beserta Allah.”) dan ayat seterusnya.

Firman Allah Ta’ala: وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (“Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat dosa.”)

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa ia berkata: “Atsaaman yaitu sebuah telaga di jahanam.” ‘Ikrimah berkata: “ يَلْقَ أَثَامًا; yaitu telaga di neraka jahanam tempat mengadzab para pezina. Demikian yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dan Mujahid.

As-Suddi berkata: يَلْقَ أَثَامًا; yaitu balasannya. Pendapat ini lebih serupa dengan dhahir ayat. Dan dengan ini pula penafsiran setelahnya sebagai pengganti,

Tafsir Kemenag: Keenam: Pada ayat ini, Allah menerangkan lagi sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yaitu dia tidak menyembah selain Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Dia benar-benar menganut tauhid yang murni. Bila dia beribadah, maka ibadahnya itu hanya semata-mata karena Allah, dan bila dia berbuat kebajikan, perbuatannya itu karena Allah bukan karena dia atau ingin dipuji orang. Bila dia berdoa, benar-benar doanya langsung dipanjatkan ke hadirat Allah tidak melalui perantara. Dia yakin sepenuhnya bahwa yang sanggup mengabulkan doanya hanya Allah semata.

Mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap siapa pun karena menyadari bahwa jiwa seseorang menjadi hak atas dirinya. Ia tidak boleh dibunuh kecuali dengan hak yang telah ditetapkan oleh Allah seperti murtad atau membunuh orang tanpa hak. Mereka tidak akan melakukan perbuatan zina karena menyadari bahwa berzina itu termasuk dosa besar, suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan dimurkai Allah.

Dengan memelihara kemurnian tauhid yang menjadi dasar bagi akidah, seseorang akan bersih jiwanya, jernih pikirannya, dan tidak dapat diombang-ambingkan oleh kepercayaan-kepercayaan yang menyesatkan. Dengan menjauhi pembunuhan tanpa hak, akan bersihlah dirinya dari perbuatan zalim dan bersihlah masyarakat dari kekacauan.

Hak setiap warga masyarakat akan terpelihara dengan baik sehingga mereka benar-benar dapat menikmati keamanan dan ketenteraman. Dengan memelihara dirinya dari perbuatan zina akan bersihlah dirinya dari kekotoran dan bersih pula masyarakat dari keonaran dan kekacauan nasab yang menimbulkan berbagai kesulitan dan ketidakstabilan. Sehubungan dengan hal ini, dalam sebuah hadis Nabi saw dijelaskan:

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab, ‘Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia yang menciptakan kamu. Aku bertanya pula, ‘Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, ‘Dosa membunuh anakmu karena takut (miskin) karena dia akan makan bersamamu.

Baca Juga:  Surah Al-Furqan Ayat 75-77; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Kemudian aku bertanya lagi, ‘Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, ‘Dosa berzina dengan istri tetanggamu. Allah menurunkan ayat ini untuk membenarkan sabda Nabi Muhammad.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian Allah mengancam orang-orang yang melakukan perbuatan dosa itu dengan ancaman yang amat keras, yaitu neraka di hari Kiamat sebagai balasan atas semua dosa yang telah mereka perbuat di dunia. Bahkan Allah akan melipatgandakan azab bagi mereka karena dosa besar yang mereka lakukan itu. Mereka akan dilemparkan ke neraka dan akan tetap di sana.

Di samping menderita siksaan jasmani seperti minuman yang sangat panas yang membakar kerongkongan dan usus mereka, mereka juga mendapat siksaan batin atau rohani, karena selalu mendapat penghinaan dan selalu menyesali kesalahan mereka sewaktu di dunia dahulu.

Tafsir Quraish Shihab: Kelima, mereka selalu memurnikan tawhid dan membuang segala bentuk kemusyrikan dalam sembahan. Keenam, tidak membunuh jiwa yang dilarang untuk dibunuh. Tetapi jika dianiaya, mereka akan membunuh atas dasar kebenaran.

Ketujuh, menjauhi perbuatan zina. Mereka mencukupkan diri dengan berbagai kenikmatan yang halal saja agar terhindar dari siksa yang membinasakan. Sesungguhnya siapa saja yang melakukan perkara-perkara jelek ini akan mendapatkan siksa.

Surah Al-Furqan Ayat 69
يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

Terjemahan: (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,

Tafsir Jalalain: يُضَاعَفْ (Yakni akan dilipatkan) menurut qiraat yang lain ia dibaca Yudha’afu dengan ditasydidkan huruf ‘Ainnya الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ (azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu) Fi’il tadi bila dibaca Jazm yakni Yudha’af dan Yakhlud maka kedudukannya menjadi Badal, jika keduanya dibaca Rafa’ yakni Yudha’afu dan Yakhludu berarti keduanya merupakan jumlah Isti’naf مُهَانًا (dalam keadaan terhina) lafal Muhaanan berkedudukan menjadi Hal atau keterangan keadaan.

Tafsir Ibnu Katsir: As-Suddi berkata: yalqa atsaaman; yaitu balasannya. Pendapat ini lebih serupa dengan dhahir ayat. Dan dengan ini pula penafsiran setelahnya sebagai pengganti, yaitu firman Allah Ta’ala: يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (“Yaitu akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat.”) yaitu diulang dan diperberat untuknya. وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (“Dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina.”) yaitu terendah lagi terhina.

Tafsir kemenag: Keenam: Pada ayat ini, Allah menerangkan lagi sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yaitu dia tidak menyembah selain Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Dia benar-benar menganut tauhid yang murni. Bila dia beribadah, maka ibadahnya itu hanya semata-mata karena Allah, dan bila dia berbuat kebajikan, perbuatannya itu karena Allah bukan karena dia atau ingin dipuji orang. Bila dia berdoa, benar-benar doanya langsung dipanjatkan ke hadirat Allah tidak melalui perantara. Dia yakin sepenuhnya bahwa yang sanggup mengabulkan doanya hanya Allah semata.

Mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap siapa pun karena menyadari bahwa jiwa seseorang menjadi hak atas dirinya. Ia tidak boleh dibunuh kecuali dengan hak yang telah ditetapkan oleh Allah seperti murtad atau membunuh orang tanpa hak.

Mereka tidak akan melakukan perbuatan zina karena menyadari bahwa berzina itu termasuk dosa besar, suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan dimurkai Allah. Dengan memelihara kemurnian tauhid yang menjadi dasar bagi akidah, seseorang akan bersih jiwanya, jernih pikirannya, dan tidak dapat diombang-ambingkan oleh kepercayaan-kepercayaan yang menyesatkan.

Dengan menjauhi pembunuhan tanpa hak, akan bersihlah dirinya dari perbuatan zalim dan bersihlah masyarakat dari kekacauan. Hak setiap warga masyarakat akan terpelihara dengan baik sehingga mereka benar-benar dapat menikmati keamanan dan ketenteraman.

Dengan memelihara dirinya dari perbuatan zina akan bersihlah dirinya dari kekotoran dan bersih pula masyarakat dari keonaran dan kekacauan nasab yang menimbulkan berbagai kesulitan dan ketidakstabilan. Sehubungan dengan hal ini, dalam sebuah hadis Nabi saw dijelaskan:

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab, ‘Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia yang menciptakan kamu. Aku bertanya pula, ‘Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, ‘Dosa membunuh anakmu karena takut (miskin) karena dia akan makan bersamamu.

Kemudian aku bertanya lagi, ‘Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, ‘Dosa berzina dengan istri tetanggamu. Allah menurunkan ayat ini untuk membenarkan sabda Nabi Muhammad.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian Allah mengancam orang-orang yang melakukan perbuatan dosa itu dengan ancaman yang amat keras, yaitu neraka di hari Kiamat sebagai balasan atas semua dosa yang telah mereka perbuat di dunia. Bahkan Allah akan melipatgandakan azab bagi mereka karena dosa besar yang mereka lakukan itu.

Baca Juga:  Surah Al-Furqan Ayat 32-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka akan dilemparkan ke neraka dan akan tetap di sana. Di samping menderita siksaan jasmani seperti minuman yang sangat panas yang membakar kerongkongan dan usus mereka, mereka juga mendapat siksaan batin atau rohani, karena selalu mendapat penghinaan dan selalu menyesali kesalahan mereka sewaktu di dunia dahulu.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari kiamat, dia akan mendapatkan siksa yang berlipat ganda dan kekal di dalamnya dalam keadaan hina dan tercela.

Surah Al-Furqan Ayat 70
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Terjemahan: kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsir Jalalain: إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا (Kecuali orang-orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh) dari kalangan mereka فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ ُ (maka kejahatan mereka itu diganti Allah) maksudnya dosa-dosa yang telah disebutkan tadi diganti oleh Allah حَسَنَاتٍ (dengan kebaikan) di akhirat kelak. وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا (Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) Dia tetap bersifat demikian.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا (“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shalih.”) yaitu balasan atas apa yang telah dilakukannya adalah bentuk yang amat burukk yang telah disebutkan tersebut. إِلَّا مَن تَابَ (“Kecuali orang-orang yang bertobat.”) di dunia kepada Allah dari semuanya itu.

Maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya. Di dalam ayat ini terkandung dalil tentang sahnya taubat seorang pembunuh. Dan tidak ada pertentangan antara ayat ini dengan ayat an-Nisaa’(“Dan baransiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja…” (an-Nisaa’: 93).

Sesungguhnya ayat an-Nisaa’ ini, sekalipun ayat Madaniyyah, akan tetapi bersifat mutlaq [tidak terikat satu sifat] yang dapat dimungkinkan kepada orang yang belum bertaubat. Sedangkan ayat ini muqayyad [diikat oleh satu sifat] dengan taubat.

(“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik….”)(an-Nisaa’: 48). Telah tercantum dalam Sunnah Shahihah yang berasal dari Rasulullah saw. tentang sahnya taubat seorang pembunuh, sebagaimana diceritakan sebagai suatu ketetapan dalam kitab orang yang membunuh 100 orang, kemudian ia bertaubat, lalu Allah menerima taubatnya. Serta hadits-hadits lain.

Firman-Nya: فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا (“Maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

Tafsir Kemenag: Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang mengerjakan perbuatan dosa seperti tersebut pada ayat di atas, lalu bertobat dengan sebenar-benar tobat, kembali beriman, serta selalu berbuat amal saleh, perbuatan mereka yang jahat itu akan diganti dengan kebaikan dan pahala yang berlipat ganda karena Allah adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Menurut sebagian mufasir, penggantian dosa kejahatan dengan pahala kebaikan itu ialah dengan menghapuskan segala dosa yang telah dikerjakan di masa yang lalu karena tobat yang benar, kemudian amal kebaikan yang dikerjakannya sesudah bertobat dilipatgandakan pahalanya sehingga bisa menghapus dosa yang telah dilakukan dahulu.

Mufasir-mufasir lain mengatakan bahwa Allah memberikan kepada orang yang bertobat itu pahala yang seimbang banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakan. Kemudian dia bertobat dan mengerjakan amal yang baik, maka amal yang baik itu akan diberi pahala yang berlipat ganda pula.

Jadi orang yang bertobat itu mendapat dua kebaikan yaitu dosa-dosanya yang terdahulu dihapuskan dan kemudian diberi pula pahala yang sama banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakannya itu.

Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa: Dari Abu thawil Syathab al-Mamdud, ia menghadap Nabi saw dan bertanya, “Apakah pendapat anda tentang seseorang yang mengerjakan segala dosa, tidak ada perbuatan dosa kecuali ia lakukan. Apakah tobatnya diterima? Nabi saw menjawab, “Apakah kamu sudah masuk Islam?” Dia menjawab, “Saya sendiri bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dan engkau adalah utusan Allah.” Nabi saw berkata, “Ya, benar. Kamu mengerjakan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Maka Allah akan menjadikan untukmu kebaikan semuanya.” Dia bertanya lagi, “Semua kesalahanku diampuni?” “Ya,” jawab Nabi saw. “Allahu Akbar,” kata orang tadi, dan dia terus bertakbir sampai pergi tidak kelihatan. (Riwayat al-thabrani)

Kemudian Allah menyatakan bahwa tobat yang diterima itu haruslah diiringi dengan perbuatan baik. Tobat dimulai dengan penyesalan atas perbuatan jahat yang telah dilaksanakan, dan berhenti dari berbuat maksiat, diiringi dengan perbuatan baik untuk menjadi bukti bahwa tobat itu adalah tobat yang sebenarnya dan dilakukan dengan sungguh-sungguh (nasuha).

Baca Juga:  Surah Al-Furqan Ayat 48-50; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Akan tetapi barangsiapa bertobat atas dosa-dosa tersebut, beriman dengan benar dan menyertainya dengan ketaatan dan amal saleh, maka dia akan diampuni. Kejahatan mereka yang telah lalu akan diganti dengan kebaikan yang akan dibalas dengan pahala yang sangat besar. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

Surah Al-Furqan Ayat 71
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

Terjemahan: Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Tafsir Jalalain: وَمَن تَابَ (Dan orang yang bertobat) dari dosa-dosanya selain dari orang-orang yang telah disebutkan tadi وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya) dia kembali kepada-Nya dengan bertobat, maka Dia akan membalasnya dengan kebaikan.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang keumuman rahmat-Nya terhadap para hamba-Nya. barangsiapa yang bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan menerima taubatnya dari dosa apapun, baik yang besar maupun yang kecil.

Maka Allah berfirman: وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (“Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”) yaitu Allah akan menerima taubatnya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: yang artinya: (“Tidakkah mereka mengetahui, bahwasannya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya?”)(at-Taubah: 104)

Tafsir Kemenag: Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang mengerjakan perbuatan dosa seperti tersebut pada ayat di atas, lalu bertobat dengan sebenar-benar tobat, kembali beriman, serta selalu berbuat amal saleh, perbuatan mereka yang jahat itu akan diganti dengan kebaikan dan pahala yang berlipat ganda karena Allah adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Menurut sebagian mufasir, penggantian dosa kejahatan dengan pahala kebaikan itu ialah dengan menghapuskan segala dosa yang telah dikerjakan di masa yang lalu karena tobat yang benar, kemudian amal kebaikan yang dikerjakannya sesudah bertobat dilipatgandakan pahalanya sehingga bisa menghapus dosa yang telah dilakukan dahulu.

Mufasir-mufasir lain mengatakan bahwa Allah memberikan kepada orang yang bertobat itu pahala yang seimbang banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakan. Kemudian dia bertobat dan mengerjakan amal yang baik, maka amal yang baik itu akan diberi pahala yang berlipat ganda pula.

Jadi orang yang bertobat itu mendapat dua kebaikan yaitu dosa-dosanya yang terdahulu dihapuskan dan kemudian diberi pula pahala yang sama banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakannya itu.

Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa: Dari Abu thawil Syathab al-Mamdud, ia menghadap Nabi saw dan bertanya, “Apakah pendapat anda tentang seseorang yang mengerjakan segala dosa, tidak ada perbuatan dosa kecuali ia lakukan. Apakah tobatnya diterima? Nabi saw menjawab, “Apakah kamu sudah masuk Islam?” Dia menjawab, “Saya sendiri bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dan engkau adalah utusan Allah.” Nabi saw berkata, “Ya, benar. Kamu mengerjakan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Maka Allah akan menjadikan untukmu kebaikan semuanya.” Dia bertanya lagi, “Semua kesalahanku diampuni?” “Ya,” jawab Nabi saw. “Allahu Akbar,” kata orang tadi, dan dia terus bertakbir sampai pergi tidak kelihatan. (Riwayat al-thabrani)

Kemudian Allah menyatakan bahwa tobat yang diterima itu haruslah diiringi dengan perbuatan baik. Tobat dimulai dengan penyesalan atas perbuatan jahat yang telah dilaksanakan, dan berhenti dari berbuat maksiat, diiringi dengan perbuatan baik untuk menjadi bukti bahwa tobat itu adalah tobat yang sebenarnya dan dilakukan dengan sungguh-sungguh (nasuha).

Tafsir Quraish Shihab: Demikianlah ketentuan Kami yang berlaku, yaitu barangsiapa bertobat atas dosanya dan dibuktikan dengan taat dan menjauhi maksiat, maka Allah akan menerima tobatnya.
Dengan tobat itulah dia kembali kepada Tuhannya setelah menjauh dari-Nya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Furqan Ayat 68-71 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S