Surah As-Sajdah Ayat 15-17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah As-Sajadah Ayat 15-17

Pecihitam.org – Kandungan Surah As-Sajdah Ayat 15-17 ini, menerangkan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui betapa besar kebahagiaan dan kesenangan yang akan diberikan Allah kepadanya di akhirat nanti, dan betapa enak dan nyamannya tinggal di dalam surga itu. Semua itu adalah balasan perbuatan baik yang telah dikerjakan selama hidup di dunia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah As-Sajdah Ayat 15-17

Surah As-Sajdah Ayat 15
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا۟ بِهَا خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَسَبَّحُوا۟ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Terjemahan: “Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.

Tafsir Jalalain: إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا (Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami) yakni Alquran ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُو (adalah orang-orang yang apabila diperingatkan) dinasihati هَا خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَسَبَّحُوا۟ (dengan ayat-ayat Kami mereka menyungkur sujud dan bertasbih) seraya بِحَمْدِ رَبِّهِمْ (memuji Rabbnya) dengan mengucapkan kalimat, “Subhaanallaah wa bihamdihi” وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (sedangkan mereka tidak menyombongkan diri) lantaran beriman dan berlaku taat itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا (“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami.”) yaitu yang membenarkan hanyalah, ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا۟ بِهَا خَرُّوا۟ سُجَّدًا (“Orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat [Kami], mereka menyungkur sujud.”) yaitu mereka mendengarkan dan mentaatinya, dengan perkataan dan perbuatan.

وَسَبَّحُوا۟ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (“Dan bertasbih serta memuji Rabb-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.”) yaitu, dari mengikuti dan mematuhi-Nya, tidak sebagaimana yang dilakukan oleh kaum kafir yang bodoh dan fajir.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan mengakui bahwa Muhammad itu adalah rasul Allah adalah orang-orang yang apabila diperingatkan kepada mereka ayat-ayat Allah dan dibacakan di hadapan mereka, mereka lalu bersujud kepada-Nya.

Mereka juga bertasbih memuji-Nya seraya membaca, “Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘adhim.” Sujud yang demikian dinamakan sujud tilawah. Hukumnya sunah, baik dalam salat maupun di luar salat. Tindakan mereka itu adalah tanda ketaatan dan ketundukan mereka.

Hal itu juga sebagai tanda bahwa mereka benar-benar menghayati ajaran dan petunjuk ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka. Tidak sedikit pun terdapat sikap angkuh dan sombong dalam menghambakan diri kepada Allah. Mereka juga senang dan khusyuk dalam beribadah.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya yang mempercayai ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang, apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Kami, langsung menyungkur sujud kepada Allah dan menyucikan-Nya dari segala kekurangan, serta selalu memuji-Nya dengan segala kesempurnaan-Nya. Dan mereka tidak sombong untuk tunduk kepada ayat-ayat ini.

Surah As-Sajdah Ayat 16
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

Terjeahan: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 38-40 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ (Lambung mereka jauh) diri mereka jauh عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ (dari tempat tidurnya) dari tempat pembaringannya disebabkan mereka selalu melakukan salat tahajud di malam hari يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا (sedangkan mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut) akan azab-Nya وَطَمَعًا (dan penuh harap) akan rahmat-Nya وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ (dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka) yaitu menyedekahkannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ (“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.”) maksudnya adalah bangun malam serta meninggalkan tidur dan berbaring di pembaringan yang terhampar.

Tentang firman-Nya ini, Mujahid dan al-Hasan berkata: “Yang dimaksud adalah bangun malam [shalat malam].” Dari Anas, ‘Ikrimah, Muhammad bin al-Munkadir, Abu Hazim dan Qatadah berkata: “Yaitu shalat antara ‘Isya’ dan shubuh.

يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا (“Sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap.”) yaitu takut terhadap bencana hukuman-Nya dan berharap limpahan pahala-Nya. وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ (“Dan mereka menafkahkan sebagian dari rizky yang Kami berikan kepada mereka.”) hingga mereka menyatukan antara perbuatan ibadah yang lazim [bermanfaat untuk pribadi] dan yang muta’addi [bermanfaat untuk umum].

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan tanda-tanda lain lagi bagi orang-orang yang beriman. Di antaranya adalah mereka mengurangi tidur, dan sering bangun di pertengahan malam untuk melakukan salat dan berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari siksaan-Nya. Mereka juga menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah mereka peroleh dari Allah.

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw yang menerangkan keutamaan dan manfaat salat malam, terutama untuk mendekatkan diri kepada Allah untuk menambah kekuatan iman di dalam dada. Salat Tahajud dapat mengangkat manusia ke tempat yang terpuji,

sebagaimana Allah berfirman: Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (al-Isra’/17: 79) Pada ayat yang lain, Allah menerangkan bahwa salat dan membaca Al- Qur’an di malam hari dapat menguatkan jiwa.

Dengan demikian, jiwa itu akan dapat menerima kewajiban yang lebih berat dan besar dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.

Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan. (al-Muzzammil/73: 1-6) Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Abu Dawud, dan ath-thabrani bahwa Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari api neraka.

Baca Juga:  Dilindungi Dari Dajjal: Salah Satu Keutamaan Membaca Surat al-Kahfi

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau benar-benar telah menanyakan sesuatu yang besar, sesungguhnya perbuatan itu mudah dilakukan oleh orang yang dimudahkan Allah baginya, Engkau menyembah Allah, tidak menyekutukan Nya dengan sesuatupun, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.”

Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya, “Maukah engkau aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, sedekah menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api, dan salat pada pertengahan malam.” Kemudian beliau membaca Tatajafa . sampai akhir ayat. (Riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Abu Dawud, dan ath-thabrani)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-thabari dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Maksud “lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka” ialah beribadah kepada Allah, zikir, salat, berdiri, duduk atau berbaring, mereka selalu mengingat Allah.”.

Tafsir Quraish Shihab: Lambung mereka selalu jauh dari tempat tidur untuk berdoa kepada Allah, dengan rasa takut dari murka-Nya dan mengharapkan kasih sayang-Nya. Mereka pun selalu menafkahkan harta yang Kami karuniakan di jalan kebaikan.

Surah As-Sajdah Ayat 17
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Terjemahan: “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.

Tafsir Jalalain: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ (Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan) apa yang tersembunyi أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ (bagi mereka yaitu berupa bermacam-macam nikmat yang menyedapkan pandangan mata) yakni nikmat-nikmat surga yang menyenangkan hati mereka. Menurut suatu qiraat lafal ukhfiya dibaca ukhfii, artinya apa yang Aku sembunyikan جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ (“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyedapkan pandangan mata serbagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”) yaitu tidak ada seorang pun yang mengetahui besarnya kenikmatan tempat tinggal di dalam surga yang disembunyikan oleh Allah serta berbagai kelezatan yang tidak ditampakkan kepada seorang pun.

Ketika mereka menyembunyikan amal-amal mereka, demikian pula Allah menyembunyikan pahala yang akan diberikan kepada mereka, sebagai balasan yang setimpal. Karena balasan [yang akan diberikan] sesuai dengan jenis amal perbuatannya.

Tentang firman Allah ini al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku telah mempersiapkan untuk hamba-Ku yang shalih sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak terlintas dalam benak hati manusia.’”

Abu Hurairah berkata: “Bacalah ini jika kalian suka: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ (“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyedapkan pandangan mata serbagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”)”

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Al-Bukhari meriwayatkan, Sufyan bercerita kepada kami, Abuz Zinad bercerita kepada kami, dari al-A’raj, bahwa Abu Hurairah, ia berkata: “Allah Ta’ala berfirman seperti itu.” Dikatakan kepada Sufyan tentang suatu riwayat, beliau menjawab: “Tentang apa?” (HR Muslim dan at-Tirmidzi dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah.

At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”). Hammad bin Salamah berkata dari Tsabit bin Abi Rafi’, bahwa Abu Hurairah ra. berkata: “Hammad mengira berasal dari Rasulullah saw.: “Barangsiapa yang memasuki surga, dia akan mendapatkan kenikmatan dan tidak berputus asa, tidak akan hancur bajunya dan tidak lenyap kepemudaannya. Di surga terdapat sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di dalam benak hati manusia.” (HR Muslim dari hadits Hammad bin Salamah.)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui betapa besar kebahagiaan dan kesenangan yang akan diberikan Allah kepadanya di akhirat nanti, dan betapa enak dan nyamannya tinggal di dalam surga itu. Semua itu adalah balasan perbuatan baik yang telah dikerjakan selama hidup di dunia.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan imam-imam hadis yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: Allah berfirman, “Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya dan belum pernah tergores di dalam hati manusia, kecuali apa yang telah Aku kemukakan kepadamu. Bacalah, jika kamu menghendakinya “Fala talamu nafs . sampai akhir.”

Diriwayatkan oleh al-Firyabi, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir ath-thabari, ath-thabrani, al-hakim dan dinyatakan sebagai hadis sahih dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Sesungguhnya termaktub dalam Taurat bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang yang jauh lambung mereka dari tempat tidurnya, apa yang belum dilihat mata, belum didengar telinga, belum tergores dalam hati manusia. Malaikat yang dekat kepada Tuhan tidak mengetahuinya demikian pula para rasul yang diutusnya. Sesungguhnya itu terdapat pula di dalam Al-Qur’an, sebagaimana tersebut dalam ayat ini.”.

Tafsir Quraish Shihab: Seseorang tidak akan dapat mengetahui banyaknya nikmat besar yang Allah sediakan dan simpan untuk mereka, yang dapat menyedapkan pandangan mereka, sebagai balasan atas ketaatan dan perbuatan yang mereka lakukan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah As-Sajdah Ayat 15-17 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S