Biografi Abu Yusuf al Kindi, Sang Filosof Muslim Arab Pertama

al kindi

Pecihitam. org – Al kindi, mungkin tidak asing lagi terkait nama filsuf satu ini. Kalau kita pernah membaca terkait seorang filsuf yang menjadikan seni music sebagai terapi bagi orang yang sakit, tentu kita akan mendapati nama Al Kindi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka tak heran jikalau Beliau selain sebagai dikenal sebagai seorang Filsuf pun rupanya dikenal jua sebagai musisi Islam terkenal pada masanya.

Dialah Abu Yusuf Ya’kub Ibnu Ishaq Ibnu Al Shabbah Ibnu ‘Imran Ibnu Muhammad Ibnu Al Asy’as Ibnu Qais Al Kindi. Beliau lahir di Kufah sekitar 185 H (801 M) dari keluarga yang terhormat.

Bahkan dalam sejarah dikatakan bahwa kakek buyutnya, Al Asy’as Ibnu Qais adalah seorang sahabat Rasulullah Saw., yang gugur di medan perang “Syuhada” bersama dengan Sa’id Ibnu Abi Waqqas dalam peperangan antara kaum muslimin dengan Persia di Irak.

Sedangkan Ayahnya yakni bernama Ishaq Ibnu AL Shabbah yang merupakan seorang Gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi (775-785 M) dan Al-Rasyid (786-809 M).

Terkait dunia pendidikan yang mengantarkan beliau dikenal sebagai seorang intelektual yang jenius, tentu dilaluinya dengan merantau demi belajar di usia yang masih muda dan hal ini dikarenakan sang Ayah yang telah menutup usia dimasa kanak-kanaknya.

Beliau menetap di Baghdad yang dimana pada waktu itu memang dikenal sebagai jantung kehidupan intelektual islam. Disanalah beliau tekun mempelajari berbagai disiplin ilmu seperti Ilmu Astronomi, Ilmu Alam, Ilmu Seni Musik, Ilmu matematika, Ilmu kedokteran, Ilmu filsafat dan beberapa ilmu lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Pemikiran Al Kindi dalam Memadukan Filsafat dan Agama

Sehingga dari ketekunannya dalam mempelajari Ilmu Filsafat, Al-Kindi dikenal sebagai orang Islam (berkebangsaan Arab) yang pertama dalam jajaran Filosof terkemuka. Dan karena itu pula beliau menyandang gelar Failasuf Al ‘arab  (Filosof berkebangsaan Arab).

Tidak hanya itu, beliau juga dikenal sebagai seorang penerjemah buku buku Yunani dan penulis yang kreatif serta produktif. Itulah mengapa Al-Kindi melahirkan begitu banyak karya meskipun beberapa karyanya menghilang, sehingga tidak dapat dijelaskan tentang berapa banyak karya beliau.

Namun diantara karya karyanya ialah Fi Al Falsafah al ‘Ula, Kitab Al Hassi ‘ala Ta’allum al Falsafat, Risalat ila al Ma’mun fi al illat wa ma’lul, Risalat fi Ta’lif al A’dad, dan Fi al Nafs.

Dan yang patut diacungi jempol dari beliau ialah terkait beberapa karya tulisanya yang diterjemahkan oleh Gerard Cremona (Seorang penerjemah) ke dalam bahasa Latin, yang rupanya sangat mempengaruhi pemikiran Eropa pada abad pertengahan.

Terkait kehebatan dalam menerjemahkan buku-buku Yunani, dalam hal ini beliau dikenal sebagai penerjemah terkemuka bahkan mendapatkan penghargaan dari khalifah Al-Ma’mun (seorang khalifah yang terkenal akan cintanya pada Filsafat dan Sains).

Baca Juga:  Kisah Khadijah binti Khuwailid hingga Menikah dengan Rasulullah

Itulah mengapa beberapa riwayat mengatakan bahwa sang Khalifah akan rela membayar siapa saja yang sanggup menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab dengan upah emas seberat buku yang diterjemahkannya.

Dalam sepanjang hidupnya, Al Kindi melewati pemerintahan sebanyak lima Khalifah Bani Abbas, yakni Al Amin (809-813 M), Al Ma’mun (813-833), Al Mu’tasim (833-842 M), Al Wasiq (842-847 M) dan Al Mutawakkil (847-861 M). Dari lima Khalifah yang dilewati Al kindi dalam hidupnya seperti yang disebutkan diatas tentu memiliki cerita yang berbeda beda.

Seperti pada masa Khalifah Al Ma’mun, Al Kindi di ajak bergabung dengan kalangan cendekiawan yang bergiat dalam usaha pengumpulan dan penerjemah karya karya Yunani (Musa Al Musawi, Min Al kindi ila Ibn Rusyd, hlm. 54-55).

Pada masa Khalifah ini pula Kaum Mu’tazilah perlahan-lahan mendapatkan tempat dihati masyarakat islam sehingga tak heran jika Mazhab Mu’tazilah dijadikan sebagai Mazhab negara. Kemudian pada masa Khalifah Al Mu’tasim, Al Kindi diangkat sebagai guru bagi Ahmad sang putra Khalifah.

Namun ketika masuk pada masa Khalifah Al Mutawakkil, disinilah terjadi perubahan Mazhab dari Mu’tazilah ke Ahlusunnah wal Jama’ah. Akhirnya Mazhab Mau’tazilah mulai gencar ditinggalkan oleh sebagian para pengikutnya.

Baca Juga:  Menghindari Sifat Sombong ala Syaikh Hamdun Al-Qashshar

Disisi lain, pada masa ini pula kedudukan Al kindi mulai dipojokkan oleh beberapa pihak dikarenakan Filsafat dianggap sebagai cabang Ilmu yang kurang hormat pada Agama.

Al Hasil? Al Kindi didera dan perpustakaannya yang bernama Al Kindiyah disita namun beberapa lama kemudian perpustakaannya dikembalikan.

Terkait kapan Al Kindi menutup usia, ternyata tidak catatan sejarah yang tahu pasti, namun Mustafa ‘Abd Raziq (Filsuf Islam asal Mesir) cenderung mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 252 H.

Sedangkan Massignon (seorang cendekiawan Katolik Islam) menunjuk tahun 260 H, sementara itu Yaqut al Himawi (Seorang penulis biografi Islam dan ahli Geografi asal Yunani) beranggapan bahwa Al Kindi Wafat sesudah berusia 80 tahun atau lebih.

Itulah sekilas terkait biografi sang Filosof Muslim berkebangsaan Arab yang pertama (Al Kindi), Semoga bermanfaat!

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.