Lafadz Bismillah; Makna, Sejarah dan Keutamaannya

bismillah

Pecihitam.org – Bismillah adalah kalimat pembuka, lengkapnya yaitu bismi-llahi ar-raḥmani ar-raḥimi (﷽). Kalimat ini tertera pada setiap awalan Surat di dalam Al-Qur’an, kecuali Surat At-Taubah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bacaan bismillah ini juga disebut Tasmiyah dan bagi orang Islam sangat dianjurkan membaca kalimat tersebut setiap melakukan sesuatu atau pekerjaan. Sehingga apa yang dikerjakan diniatkan atas nama Allah dan semoga mendapatkan restu atas pekerjaan tersebut.

Kalimat Basmillah juga pernah ditulis pada zaman Nabi Sulaiman untuk Ratu Bilqis sesuai dengan informasi dalam Al Qur’an yaitu di surat 27 (An-Naml) ayat 30.

إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Artinya: “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Arti dan Makna

Bismillah (بسم الله, ) artinya yaitu “Dengan nama Allah”. Di dalam Al-Quran, terdapat terdapat lafadz bismillah sebanyak 114 kali di setiap awalan surat. Hanya ada satu surat yaitu surat at Taubah yang tidak diawali kalimat bismillah.

Hal ini karena, At-Taubah adalah surat yang diawali dengan seruan perang, sedangkan kalimat bismillah mengandung makna kasih sayang. Oleh sebab itu tidak mungkin sebuah peperangan dilandasi dengan rasa kasih sayang.

Lantas, mengapa jumlahnya tetap 114 kalimat? Bukankah pada surat At-Taubah tidak ada, dan itu berarti jumlahnya menjadi 113?

Nah, memang dalam surat at Taubah tidak ada lafadz bismillah, adapun kalimat bismillah yang lain terdapat pada QS. An-Naml ayat 30. Sehingga jumlahnya dalam Al-Qur’an tetap genap menjadi 114.

Para ahli tafsir menjelaskan makna bismillah ke dalam empat hal:

  • Pertama, kata bi mengandung makna “‘kekuasaan dan pertolongan”. Dengan demikian, orang yang mengucap bismillah akan sadar bahwa segala sesuatu yang akan ia perbuat, semuanya atas dasar kekuasaan dan pertolongan Allah bukan karena diri sendiri.
  • Kedua, bismillah erat kaitannya dengan kalimat tauhid “La ilaha illa Allah” sehingga kalimat ini menegaskan bahwa Allah adalah sebab utama segala tindakan.
  • Ketiga, kalimat bismillah yang diucapkan seorang Muslim merupakan bentuk pengagungan Allah Swt sang Pencipta dan Penguasa alam semesta.
  • Keempat, di dalam kalimat ini mengandung kata yang merupakan sifat Allah yaitu ar-rahman dan ar-rahim. Hal ini menegaskan bahwa Allah adalah maha pemberi rahmat di dunia maupun di akhirat.

Susunan Kata Bismillah

Bismillah tersusun dari 5 bagian yang sudah diteliti para ahli dari berbagai sisi. Bismillah tersusun dari “jar” dan “majrur” yang di dalamnya tidak ada kata kerja (“fi’il”) atau subyek dan predikat (“mubtada” dan “khabar”). Kata kerjanya dalam bentuk yang berbeda-beda tidak disebutkan secara eksplisit.

Terdapat 4 nama yang digunakan dalam ayat dimana tiga dari nama-nama tersebut adalah nama-nama “Asmaul Husna” Ilahi dan satu kelompok yang terbentuk dari tiga asma.

Baca Juga:  Konsep Belajar Menurut Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

Mufradat Ayat

Ba

Huruf “Ba” jar bermakna “ilshaq” (untuk menunjukkan arti bertemu atau dikaitkan), meminta pertolongan, dan menyertai. Mengingat bahwa sebelum huruf “jar” kata yang harus mendahuluinya adalah kata kerja atau mirip kata kerja sehingga penggunaan kalimat “jar wa majrur” dapat berfungsi. Sebelum (بسم) terdapat kata kerja “muqaddar” (yang implisit) seperti kata kerja perintah “iqra” (bacalah) atau “ibda'” (mulailah).

Ism

Terkait dengan akar kata “ism” (nomina, kata benda) terdapat dua pendapat penting sebagaimana berikut:

  • Derivasinya dari akar kata su-mu-w yang bentuk jamaknya dinyatakan dengan kata “asma.” Sumuw bermakna tinggi dan mulia.
  • Derivasinya dari akar kata wa-s-m yang bermakna peletakan tanda.

Allah

Kata Allah merupakan lafaz jalalah dan mencakup seluruh nama Tuhan dalam Alquran. Menurut Muqaddasi terdapat 5 pendapat terkait dengan asal kata lafaz jalalah. Dalam Tafsir Partui az Quran secara singkat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kata kerja Ilah mempunyai arti menghamba, tunduk, dan tentram.
  2. Ilah adalah nama sebuah sesembahan entah sesembahan itu batil ataukah hak.
  3. Allah dengan huruf hamzah yang dihapus dan dengan ditambahkan alif dan lam adalah merupakan nama sesembahan yang hak.
  4. Allah adalah nama all-inkulsif (“jami”), sifat bagi Allah swt.
  5. Nama ini memiliki derivasi yang banyak dalam berbagai bahasa Sami dan akar katanya kembali kepada agama-agama kuno.

Rahman dan Rahim

Kedua kata ini sering sekali berada di tempat yang saling berdekatan. Derivasinya berasal dari kata rahima yang dalam bahasa Indonesia artinya kasih sayang dan cinta kasih. Keduanya sama-sama berasal dari akar kata yang satu seperti “nadman” dan “nadim”.

Perbedaan Makna Rahman dan Rahim

Dalam al Quran, terdapat makna yang berbeda dalam penggunaan kata rahman dan rahim. Misalnya sebagai berikut:

  1. Kata Rahman dalam Alquran selalu lebih dahulu dari kata Rahim. Hal ini karena Rahman merupakan “ism alam” (nomina non ajektifa) yang tidak dipakai pada selain Allah sehingga wajib untuk mendahulukan sifat rahman dari pada sifat Rahim-Nya.
  2. Rahman tidak akan muncul tanpa “alif” dan “lam”, namun rahim tidak ada aturan dan syarat seperti tersebut.
  3. Rahman digunakan secara mandiri dan jika digunakan secara bersamaan (“tarkib”), maka hanya akan bersanding dengan kata rahim saja. Sedangkan kata Rahim bisa bersanding dan disusun dengan asma-asma yang lainnya.
  4. Rahman adalah merupakan “ism ghairi munsharif” (nomina yang tidak menerima tanwin) dan tidak mengandung tanwin, meski tidak memiliki syarat-syarat untuk tidak di”tashrif”.
  5. Rahman dengan adanya dalil khusus dan karena mutlak digunakan pada Tuhan, tidak mempunyai bentuk jamak, “mutsanna” dan “mu’annats”. Namun rahim bisa juga dalam bentuk jamak, ruhama di mana hal ini ada dalam Alquran dan dalam bahasa Arab juga terdapat bentuk “mutsana” dan “mu’annats”.
  6. Penggunaan wazan “fa’lan” (Rahman) dalam ayat-ayat Alquran menunjukkan “mubalaghah” karena banyak penggunaannya, namun tidak demikian terkait dengan wazan “fa’il” (Rahim). Wazan ‘”fa’lan” untuk kata rahman adalah “mubalaghah” yang khusus untuk Tuhan. Kebanyakan mufasir mendukung pendapat ini.
  7. Dalam Alquran, kata rahman hanya diberlakukan pada Tuhan dan “ismi alam”, penamaan seseorang dengan rahman tidaklah pantas. Rahman disematkan dalam bentuk sifat Tuhan. Namun rahim terdang digunakan dalam bentuk sifat yang disebutkan pada Nabi Muhammad Saw.
  8. Rahim dalam penggunaannya selalu berpasangan yang berarti murni kasih sayang dan rahmat. Namun rahman terkadang digunakan dalam berbagai konteks dalam makna keagungan dan kebijaksanaan Tuhan. Penggunaan konteks seperti ini mencakup makna ancaman.
Baca Juga:  Allah Menjaga Nama Baik Zulaikha Walaupun Telah Menggoda Nabi Yusuf untuk Berzina

Sejarah dan Latar Belakang

Agama Lain

Dari ungkapan yang berdasar dzikrullah “Bismillah” mempunyai latar belakang dan persamaan-persamaan yang beragam di antara sejarah agama dan kaum. al-Zamakhsyari berkata bahwa masyarakat Arab sebelum Islam menggunakan nama-nama seperti seperti “Lata” atau “Uzza.”.

Theodor Noldeke mengingatkan bahwa pengulangan kata-kata “Dengan nama Tuhan” pada kitab Ibrani dan Kitab suci agama Kristen mirip dengan nama “bismillah.”

Begitu pula Dzikr Mazdai (salah satu sekte dalam agama Zoroaster) contohnya penyebutan “Nam Yazdan” yang berarti “dengan nama Yazdan” yang digunakan sekitar abad ke-3 Masehi ini mirip dengan “Bismillah”

Islam

Terdapat banyak riwayat tentang sunah Nabi Muhammad saw dalam penggunaan “Bismillahi Rahmanir Rahim.” Menurut riwayat yang dinukil oleh Ibnu Sa’ad dan Mas’udi, Sya’bi, A’masy, Abu Malik Qatadah, bahwa Nabi Saw pada awal kenabian telah membiasakan penggunaan lafadz “Bismika allahumma.”

Menurut Ibnu Hisyam, dalam perjanjian Hudaibiyah, Suhail bin Amr yang mewakili pihak Quraisy meminta untuk menuliskan “Bismika allahumma” sebagai ganti dari “Bismillahir Rahmanir Rahimi”. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan kaum Arab menuliskan “Bismika Allahumma.”

Kemudian lanjutan riwayat itu menunjukkan bahwa Rasulullah saw semenjak turunnya ayat 41 surah Hud (و قالَ ارکَبُوا فیها بِسم اللّه مَجریها و مُرسیها) telah menggunakan lafadz “Bismillah” dan setelah turunnya ayat 110 surah Al-Isra (قُلِ ادعُواللّهَ اَوِ ادعُوا الرَّحمن)، menggunakan lafadz “Bismillahir Rahman”, kemudian setelah turunnya ayat 30 surah Al-Naml. (انَّه مِن سُلَیمان و اءِنَّهُ بِسم اللّه الرحمن الرحیم) menggunakan lafadz sempurna “Bismillahir Rahmanir Rahim.”

Namun riwayat ini nampaknya lemah. Karena surah Al-Naml turun pada pertengahan periode Mekah, sementara sebelum masa ini kemungkinan penggunaan lafadz Bismillah secara sempurna sudah sangat sering digunakan.

Selain itu, menurut riwayat yang disampaikan oleh Thabari dan Wahidi Naisyaburi dari Ibnu Abbas dan yang lainnya, lafadz “Bismillahir Rahmanir Rahim” adalah lafadz pertama Alquran yang turun pada Nabi Muhammad Saw pada awal surah Al-‘Alaq (Iqra), dimana ungkapan ini dalam riwayat-riwayat dari sekte Syiah, dikenal sebagai pembuka Alquran.

Diriwayatkan oleh Kulaini yang disandarkan kepadanya dari Imam Shadiq as, permulaan semua kitab-kitab samawi adalah “Bismillahir Rahmanir Rahim.” Ungkapan ini pada mulanya terdapat pada semua surah Alquran kecuali surah Baraah (Al-Taubah).

Baca Juga:  Begini Para Sahabat Nabi Bangun Kerukunan Meski Beda Pendapat

Terjemahan Pertama Bismillah

Menurut sebuah riwayat, kemungkinan untuk pertama kalinya, Salman al Farisi meminta orang Iran untuk menerjemahkan surah Al-Fatihah dan Bismillahir Rahmanir Rahim, di mana dalam terjemahannya itu dikatakan bahwa “Bismillah…” ‘Dengan nama Yazdan yang Maha Penyayang’. (Ali Syawakh Ishaq, Jilid. 1, hlm. 10).

Dalam kitab Tafsir Thabari terjemahan Persia, yang penerjemahnya tidak dikenal disebutkan ‘Dengan nama Tuhan yang Maha Kasih dan Maha Sayang’ dan kini tetap eksis, dengan sedikit perubahan yaitu ‘Dengan Nama Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih’.

Namun sepertinya dalam kitab Kasyf al-Asrar, Meibadi, dimuat terjemahan Bismillah: “Dengan Nama Pemilik Dunia Pemelihara musuh dengan sikap pemurah dan penyayang kepada pecinta(Nya)”. Hal ini menunjukkan adanya warna dan corak penafsiran serta perhatian atas perbedaan makna “Rahman” dan “Rahim” dalam ungkapan-ungkapan agama.

Kedudukan dan Keistimewaan Bismillah

Dalam kitab-kitab ulama hadits, tafsir dan fiqih disebutkan tentang beberapa manfaat-manfaat dan pahala membaca bismillah, antara lain sebagai berikut:

  • Bismillah adalah ayat Al-Quran yang paling utama dan agung.
  • Bismillah merupakan salah satu nama Allah.
  • Kedekatan ayat ini dengan “ismi a’zham” (Nama Agung) Tuhan sama seperti kedekatan warna hitam pada mata dengan warna putihnya.
  • Bersumpah atas nama Tuhan “Bismillahi Rahmani Rahim” dalam beberapa doa menunjukkan tingginya nilai ayat ini.
  • Menulis bismillah dengan indah dengan maksud untuk mengagungkan Tuhan akan menyebabkan dosa orang itu diampuni.
  • Ketika seorang guru berkata kepada muridnya, “Bismillahir Rahmanir Rahim” kemudian jika murid itu mengucapkannya, maka akan dituliskan kebaikan bagi guru, bapak dan ibu anak itu serta akan dibebaskan dan dijauhkan dari api neraka.”
  • Dzikir nama Tuhan, khususnya bismillah pada permulaan setiap pekerjaan sangat dianjurkan berdasarkan hadis (کُلُّ أَمرٍ ذی بالٍ لَم یبْدَأ بِاسمِاللّهِ فَهُوَ اَبْتَر).
  • Berdzikir dengan bismillah telah menjadi ciri khas bagi kaum muslimin dan agama Islam. Mengeraskan bismllah juga menunjukkan keimanan, sebagaimana Rasulullah Saw ketika membaca Al-Quran, maka beliau akan mengeraskan kalimat bismillah dan kaum musyrikin pun akan takut.
  • Menjadi pembuka rezeki. Ucapan bismillah menjadi jalan untuk terbukanya pintu rezeki dan Allah akan memuliakan kita baik di dunia maupun di akhirat.
  • Mencerdaskan Akal. Dengan membaca lafadz bismillah ternyata mampu untuk meningkatkan kecerdasan akal dan membuka wawasan. Selain itu juga akan membantumu untuk menguatkan hafalan dan lebih cepat menangkap pelajaran dari guru.
  • Terhindar dari gangguan setan. Dengan rajin membaca bismillah, Insya Allah setan tidak akan menggangu dimanapun kita berada.
  • Membaca bismillah, atas ijin Allah juga bisa menjadi terapi untuk mengobati segala macam penyakit yang menimpa manusia, dengan tetap ikhtiar tentunya.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik