Surah Maryam Ayat 66-70; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Maryam Ayat 66-70

Pecihitam.org – Kandungan Surah Maryam Ayat 66-70 ini, Menerangkan sikap orang-orang yang tidak beriman pada hari kebangkitan, Allah berfirman, ‘dan orang kafir itu, meski mengetahui adanya akhirat, tetap saja berkata, ‘betulkah apabila aku telah mati, dikuburkan, dan tulang belulangku hancur, kelak aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan dari kubur dan hidup kembali’ hal ini mustahil terjadi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Demikianlah keingkaran orang-orang kafir. Tidakkah manusia yang ingkar itu memikirkan bahwa sesungguhnya kami telah menciptakannya dahulu sebelum dilahirkan, padahal sebelumnya dia belum berwujud sama sekali’ bila dia menyadari hal itu, niscaya dia mengetahui bahwa dia telah diciptakan dan pencipta itu adalah Allah.

Allah mengancam manusia semacam itu dengan bersumpah bahwa Dia akan mengumpulkan mereka di padang mahsyar bersama-sama dengan setan yang mereka anggap sebagai pemimpin mereka. Orang-orang kafir itu dikumpulkan secara berkelompok-kelompok sesuai dengan tingkat kedurhakaan mereka, lalu Allah menyisihkan yang paling ingkar, paling sombong dan durhaka dan paling banyak menyesatkan manusia di muka bumi dari masing-masing kelompok itu untuk dilemparkan lebih dahulu ke dalam neraka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 66-70

Surah Maryam Ayat 66
وَيَقُولُ الْإِنسَانُ أَإِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا

Terjemahan: Dan berkata manusia: “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?”

Tafsir Jalalain: وَيَقُولُ الْإِنسَانُ (Dan berkata manusia,) mereka yang ingkar kepada adanya hari berbangkit, yaitu Ubay bin Khalaf atau Walid bin Mughirah, ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikapnya itu أَإِذَا (“Betulkah apabila) dapat dibaca Aidza dan Ayidza

مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا (aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?”) yakni akan dihidupkan kembali dari kuburan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Muhammad. Kata tanya di sini mengandung makna Nafi atau kalimat negatif, maksudnya, Aku tidak akan dihidupkan kembali sesudah mati.

Huruf Ma adalah Zaidah yang faedahnya untuk mengukuhkan kalimat, demikian pula huruf Lamnya. Kemudian Allah menyanggah perkataan mereka itu melalui firman-Nya:.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah mengabarkan tentang manusia yang merasa heran dan menganggap mustahil kembalinya mereka setelah kematian. Dia berfirman dalam ayat ini: وَيَقُولُ الْإِنسَانُ أَإِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا.

Tafsir Kemenag: Al-Wahidi meriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan dalam kasus Ubay bin Khalaf. Dia mengambil sepotong tulang yang telah hampir remuk dan dihancurkannya dengan tangan seperti tepung, kemudian ditebarkannya ke angin kencang, maka bertebaranlah tulang itu.

Kemudian dia berkata, “Ada orang mengatakan bahwa kita akan dibangkitkan sesudah kita mati dan sesudah kita menjadi seperti tulang ini.” Apakah mungkin apabila saya telah mati akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali? Pertanyaan seperti itu terdapat pula pada ayat-ayat yang lain:

Dan mereka berkata, “Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?” (al-Waqi’ah/56: 47)

Dan firman-Nya: Dan mereka berkata, “Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (al-Isra`/17: 49)

Demikian pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh orang yang dangkal pikirannya dan tidak mau memikirkan secara mendalam kekuasaan Allah, karena mata hati mereka telah ditutupi oleh kesesatan dan kesenangan hidup dunia, sehingga tidak tampak lagi bagi mereka cahaya kebenaran yang terang benderang. Oleh sebab itu Allah menolak pertanyaan-pertanyaan mereka.

Apakah manusia yang berpikiran seperti itu tidak pernah tahu bahwa Allah telah menciptakannya dari tiada. Apakah ada yang dapat menciptakan sesuatu dari tiada, dapat pula menciptakannya dari sesuatu yang ada walaupun berupa tulang belulang atau benda-benda yang hancur.

Ini adalah suatu pemikiran yang aneh yang tidak akan timbul kecuali dari orang-orang yang hatinya telah diselubungi oleh keingkaran dan tidak mau memikirkan persoalan dengan teliti dan mendalam. Pada ayat lain Allah berfirman:

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rum/30: 27)

Dan firman-Nya: Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin/36: 78-79)

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 81-84; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman: “Anak Adam telah mendustakan-Ku sedang dia tidak berhak mendusta-kan-Ku. Anak Adam telah menyakiti-Ku sedang dia tidak berhak menya-kiti-Ku. Adapun pendustaannya terhadap-Ku ialah ucapannya bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku telah menciptakannya pertama kali.

Menciptakannya pertama kali tidaklah lebih mudah bagi-Ku dari menciptakan kemudian (maksudnya sama mudah). Adapun yang menyakiti-Ku ialah ucapannya:

Sesungguhnya Aku mempunyai anak, sedang Aku adalah Tuhan Yang Maha Esa Yang tergantung kepada-Ku segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula dilahirkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Aku.” (Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Surah Maryam Ayat 67
أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا

Terjemahan: Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?

Tafsir Jalalain: أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنسَانُ (Dan tidakkah manusia itu memikirkan) asal kata Yadzdzakkaru ini adalah Yatadzakkaru, kemudian huruf Ta diganti menjadi Dzal, lalu diidghamkan ke dalam huruf Dzal asal sehingga menjadi Yadzdzakkaru. Tetapi menurut qiraat yang lain dibaca Yadzkuru

أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا (bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedangkan ia tidak ada sama sekali) oleh karenanya mengapa ia tidak mengambil kesimpulan dari permulaan itu kepada pengembalian, yakni kembali kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا (“Dan berkata manusia: ‘Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?’ Dan tidaklah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?”)

Allah mengemukakan argumentasi tentang pengembalian tersebut dengan awal mula penciptaan. Yaitu, Dia telah menciptakan manusia yang dahulunya tidak ada sama sekali. Apakah Dia tidak mungkin mampu mengembalikannya, sedang makhluk-Nya itu sudah menjadi sesuatu.

Sebagaimana Allah berfirman: “Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (QS. Ar-Ruum: 27)

Di dalam hadits shahih: “Allah berfirman, `Ibnu Adam mendustakan Aku, padahal tidak boleh baginya mendustakan-Ku. Ibnu Adam menyakiti Aku, padahal tidak boleh baginya menyakiti-Ku. Kedustaannya kepadaku adalah perkataannya:

‘Aku tidak akan dikembalikan sebagaimana aku pertama kali diciptakan.’ Padahal awal penciptaan tidak lebih mudah bagi-Ku daripada akhirnya. Sedangkan upaya menyakiti-Ku adalah perkataannya bahwa sesungguhnya Aku mempunyai anak, padahal Aku Mahaesa, yang bergantung kepada-Ku segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada satu pun yang sebanding.” (HR. Al-Bukhari)

Tafsir Kemenag: Al-Wahidi meriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan dalam kasus Ubay bin Khalaf. Dia mengambil sepotong tulang yang telah hampir remuk dan dihancurkannya dengan tangan seperti tepung, kemudian ditebarkannya ke angin kencang, maka bertebaranlah tulang itu.

Kemudian dia berkata, “Ada orang mengatakan bahwa kita akan dibangkitkan sesudah kita mati dan sesudah kita menjadi seperti tulang ini.” Apakah mungkin apabila saya telah mati akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali? Pertanyaan seperti itu terdapat pula pada ayat-ayat yang lain:

Dan mereka berkata, “Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?” (al-Waqi’ah/56: 47)

Dan firman-Nya: Dan mereka berkata, “Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (al-Isra`/17: 49)

Demikian pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh orang yang dangkal pikirannya dan tidak mau memikirkan secara mendalam kekuasaan Allah, karena mata hati mereka telah ditutupi oleh kesesatan dan kesenangan hidup dunia, sehingga tidak tampak lagi bagi mereka cahaya kebenaran yang terang benderang. Oleh sebab itu Allah menolak pertanyaan-pertanyaan mereka.

Apakah manusia yang berpikiran seperti itu tidak pernah tahu bahwa Allah telah menciptakannya dari tiada. Apakah ada yang dapat menciptakan sesuatu dari tiada, dapat pula menciptakannya dari sesuatu yang ada walaupun berupa tulang belulang atau benda-benda yang hancur.

Ini adalah suatu pemikiran yang aneh yang tidak akan timbul kecuali dari orang-orang yang hatinya telah diselubungi oleh keingkaran dan tidak mau memikirkan persoalan dengan teliti dan mendalam. Pada ayat lain Allah berfirman:

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 56-57; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rum/30: 27)

Dan firman-Nya: Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin/36: 78-79)

Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman: “Anak Adam telah mendustakan-Ku sedang dia tidak berhak mendusta-kan-Ku. Anak Adam telah menyakiti-Ku sedang dia tidak berhak menya-kiti-Ku. Adapun pendustaannya terhadap-Ku ialah ucapannya bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku telah menciptakannya pertama kali.

Menciptakannya pertama kali tidaklah lebih mudah bagi-Ku dari menciptakan kemudian (maksudnya sama mudah). Adapun yang menyakiti-Ku ialah ucapannya: Sesungguhnya Aku mempunyai anak, sedang Aku adalah Tuhan Yang Maha Esa Yang tergantung kepada-Ku segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula dilahirkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Aku.” (Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Surah Maryam Ayat 68
أفَوَرَبِّكَ لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ جِثِيًّا

Terjemahan: Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut.

Tafsir Jalalain: فَوَرَبِّكَ لَنَحْشُرَنَّهُمْ (Demi Rabbmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka) orang-orang yang ingkar kepada adanya hari berbangkit itu وَالشَّيَاطِينَ (bersama dengan setan) Kami mengumpulkan masing-masing dari mereka bersama setan-setannya dalam keadaan terbelenggu

ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ (kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam) dari luarnya جِثِيًّا (dengan berlutut) berjalan dengan lututnya. Lafal Jitsiyyan adalah bentuk jamak dari lafal jaatsin, asal katanya adalah Jitsuwwun atau Jitsuwyun yang akar katanya berasal dari Jatsaa-Yajtsuu atau Jatsaa Yajtsii. Ada dua pendapat sehubungan dengan lafal ini.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَوَرَبِّكَ لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ (“Demi Rabbmu, sesungguh-nya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan.”) Allah bersumpah dengan diri-Nya yang Mahamulia bahwa Dia pasti akan membangkitkan mereka seluruhnya dengan syaitan-syaitan yang mereka ibadahi selain Allah; ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ جِثِيًّا (“Kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut.”)

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abb.as yaitu dalam keadaan duduk seperti firman-Nya: wa taraa kulla ummatin jaatsiyatan (“Dan [pada hari itu] kamu lihat tiap-tiap umat berlutut.”) (QS. Al-Jaatsiyah: 28). As-Suddi berkata tentang firman Allah: “jaatsiyatan” artinya berdiri. Pendapat senada diriwayatkan dari Murrah dari Ibnu Mas’ud seperti itu.

Tafsir Kemenag: Karena itu Allah mengancam manusia semacam itu dengan bersumpah bahwa Dia akan mengumpulkan mereka di padang mahsyar bersama-sama dengan setan yang mereka anggap sebagai pemimpin mereka.

Mereka akan melihat dan mengalami bagaimana dahsyat dan hebatnya suasana ketika itu, sehingga tidak ada yang dipikirkan oleh seseorang kecuali keselamatan dirinya sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa/80: 34-37)

Dalam suasana yang amat gawat dan kritis itulah mereka digiring ke neraka dalam keadaan berlutut dan hina tidak dapat berdiri lagi karena pengalaman yang amat pahit dan penderitaan yang tak terperikan.

Surah Maryam Ayat 69
ثُمَّ لَنَنزِعَنَّ مِن كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا

Terjemahan: Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ لَنَنزِعَنَّ مِن كُلِّ شِيعَةٍ (Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan) yakni setiap kelompok dari mereka أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا (siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah) sangat berani berbuat durhaka kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: ثُمَّ لَنَنزِعَنَّ مِن كُلِّ شِيعَةٍ (“Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan,”) yaitu dari setiap umat. Dikatakan oleh Mujahid: ayyuHum asyaddu ‘alar rahmaani ‘itiyyan (“Siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Rabb yang Mahapemurah,”) ats-Tsauri berkata dari Ibnu Abbas,

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

ia berkata: “Dari awal sampai dengan yang akhir akan ditahan sampai seluruh bilangan telah lengkap.” Mereka akan didatangkan seluruhnya, dimulai dari para pembesar demi Para pembesar yang sangat durhaka. Itulah firman-Nya:

ثُمَّ لَنَنزِعَنَّ مِن كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا (“Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Rabb Yang Mahapemurah.”)

Tentang firman-Nya ini Qatadah berkata: “Kemudian pasti Kami akan tarik dari setiap pemeluk agama para pemuka dan pemimpin mereka yang paling jahat. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Juraij dan banyak ulama Salaf.

Tafsir Kemenag: Karena itu Allah mengancam manusia semacam itu dengan bersumpah bahwa Dia akan mengumpulkan mereka di padang mahsyar bersama-sama dengan setan yang mereka anggap sebagai pemimpin mereka.

Mereka akan melihat dan mengalami bagaimana dahsyat dan hebatnya suasana ketika itu, sehingga tidak ada yang dipikirkan oleh seseorang kecuali keselamatan dirinya sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa/80: 34-37)

Dalam suasana yang amat gawat dan kritis itulah mereka digiring ke neraka dalam keadaan berlutut dan hina tidak dapat berdiri lagi karena pengalaman yang amat pahit dan penderitaan yang tak terperikan.

Surah Maryam Ayat 70
ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَى بِهَا صِلِيًّا

Terjemahan: Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَى بِهَا (Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang lebih utama terhadapnya) lebih berhak terhadap Jahanam, yaitu orang yang sangat durhaka kepada-Nya dan orang-orang yang sama seperti mereka

صِلِيًّا (untuk dimasukkan ke dalamnya) yang lebih utama masuk Jahanam dan lebih layak untuk menempatinya. Maka Kami memulai dengan mereka. Asal kata Shiliyyun adalah Shiliwyun, berasal dari Fi’il Shaliya atau Shalaa.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَى بِهَا صِلِيًّا (“Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.”) Kemudian di ayat ini terdapat sambungan berita atas berita. Sedangkan yang dimaksud adalah bahwa Allah Mahamengetahui siapa hamba-Nya yang berhak dijerumuskan ke neraka Jahannam dan dikekalkan di dalamnya.

Tafsir Kemenag: Orang-orang kafir itu dikumpulkan secara berkelompok-kelompok sesuai dengan tingkat kedurhakaan mereka, lalu Allah menyisihkan yang paling ingkar, paling sombong dan durhaka dan paling banyak menyesatkan manusia di muka bumi dari masing-masing kelompok itu untuk dilemparkan lebih dahulu ke dalam neraka.

Bagi Allah Yang Mahatahu Mahaluas Ilmu-Nya tidaklah sulit menentukan orang-orang yang seperti itu karena semua amal perbuatannya di dunia telah tercatat di dalam buku masing-masing, seperti tersebut dalam firman-Nya:

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatupun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah). (al-haqqah/69: 18). Mereka akan dibelenggu, dilemparkan ke neraka dan dalam neraka pun mereka akan dirantai seperti tersebut dalam firman-Nya:

(Allah berfirman), “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (al-haqqah/69: 30-32)

Sesudah itu barulah tiba giliran yang lain untuk dilemparkan pula ke neraka sesuai dengan tingkat kekufuran dan kedurhakaannya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Maryam Ayat 66-70 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S