Dialog dengan Agama Lain dan Cara Berdialog yang Islami

dialog Islam dengan agama lain

Pecihitam.org – Apa sebenarnya defenisi dari agama? pertanyaan yang masih butuh disempurnakan jawabannya, jawaban beragam yang masih perlu ditarik benang merahnya, benang merah yang masih perlu dicari sumber keautitentikannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dialog identik dengan percakapan antara dua orang atau lebih. Dalam penggunaannya, kata dialog ini berbeda dengan kata diskusi dan debat.

Dalam dialog menurut salah satu pakar bahasa, kita berusaha untuk memperluas perspektif kita sendiri, menunjukkan bidang bidang yang bertentangan, dan menemukan makna bersama.

Jika makna dari dialog demikian, lalu bagaimanakah Islam memandang dialog yang dilakukan antara muslim dengan non muslim.

Dialog dalam al-Qur’an, terbagi kepada dua macam yaitu percakapan yang hanya berusaha mengalahkan pihak lawan disebut debat, sedangkan percakapan yang dibarengi dengan cara yang baik itulah yang disebut dialog, dalam Qur’an surah al-Nahl 16/125 Allah swt. berfirman :

ادْعُ إِلى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Terjemahnya:

serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih tahu orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dan juga dalam Qur’an surah al-Ankabut ayat 46

Baca Juga:  Tujuh Nama Anak Rasulullah yang Harus Kita Ketahui, Siapa Sajakah Mereka?

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Terjemahnya :

 dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali terhadap orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami telah beriman terhadap (kitab-kitab) yang telah diturunkan kepada Kami dan yang telah diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepadaNya-lah kami berserah diri“.

Jadi dalam al-Qur’an dialog biasa menggunakan kata جادل  (jaadala), lalu bagaimanakah Umat islam memaknai ayat tersebut ?

Penafsiran atau pemaknaan dari Umat Islam terhadap ayat tersebut diantaranya dalam kitab tafsir al wasith lil Qur’anil karim yang ditulis oleh kumpulan Ulama di al-Azhar ayat dari surah al-Ankabut itu ditafsirkan sebagai berikut ;

Baca Juga:  Filsafat sebagai Warisan Islam yang Mengagumkan

“Bahwa ayat ini merupakan gaya atau metode berdialog dengan ahlul kitab, dengan makna  kita tidak boleh berdialog dengan ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani, tidak boleh berdebat dalam berbagai persoalan agama, dan menyerukan kepada iman kecuali itu dilakukan dengan cara yang terbaik,

Seperti menghadapi perdebatan yang keras atau kasar dengan cara kelembutan (kemurahan hati), dan berhadapan dengan perdebatan yang mengandung kemarahan dengan cara menahan atau meredamnya, Serta perdebatan yang mengandung kerusuhan dengan cara memberi saran atau nasihat dan adapun intensitasnya dengan penuh kesabaran,

Seperti pada surah al-Nahal ayat 125 sebelumnya yang telah kami sebutkan dan juga firman Allah swt dalam surah Thaha yang ditujukan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika memerintahkannya menemui Fira’un :

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Terjemahannya;

Maka sampaikanlah dengan perkataan yang lembut mudah-mudahan dia ( fir’aun) menjadi sadar dan menjadi takut.

Dan pemaknaan  إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُم maknanya kecuali terhadap mereka yang telah melampaui batas menzalimi kalian dan terlampau keras kepala, menyerang kalian, dan kelembutan tidak berperngaruh terhadap mereka, maka tidak ada kesalahan bagi kita dalam bertindak kasar tapi tidak sampai kepada peperangan karena surah ini turun sebelum adanya izin memerangi kaum musyrik.”

Baca Juga:  Pohon Zaqqum, Makanan bagi Para Penghuni Neraka

Jadi dapat kita simpulkan bahwa dalam Agama Islam, berdialog dengan orang yang berbeda agama itu boleh,  bahkan dalam Islam itu ketika berdialog lebih mungutamakan dan mengedepankan sifat lemah lembut, kasih sayang dan toleransi, sehingga pantaslah Islam disebut sebagai Agama yang penuh kasih sayang terhadap seluruh alam.

Wallahu a’lam.

Khalil Nurul Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *