Hakikat Wanita Karir dalam Islam yang Sebenarnya

Hakikat Wanita Karir dalam Islam yang Sebenarnya

Pecihitam.org – Di antara tujuan emansipasi wanita adalah kebebasan individu, kemandirian ekonomi, dan karir. Dari ketiga hal ini, kebebasan individu menjadi prioritas paling utama yang diperjuangkan kaum wanita di tengah budaya patriarkhi yang begitu mengakar kuat di setiap lapisan masyarakat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ada yang beranggapan bahwa gerakan emansipasi wanita mendapat banyak pengaruh dari budaya Barat. Pandangan ini boleh jadi benar, tapi menjadi kurang tepat bila argumentasi yang disuguhkan oleh para feminis Muslim justru berangkat dari logika agama itu sendiri.

Mereka merombak sistem penafsiran kitab suci yang selama ini didominasi oleh mufassir laki-laki yang dianggap telah mengesampingkan posisi perempuan di ranah publik.

Terlepas dari itu semua, tulisan ini akan sedikit menyisir soal ‘wanita karir’ dalam Islam dan upaya menafsirkan ulang konsep ‘wanita karir’. Apa sebenarnya yang dimaksud wanita karir dalam Islam? Apakah seorang Muslimah yang sudah memiliki kebebasan penuh atas dirinya lalu bekerja di suatu tempat lantas disebut sebagai wanita karir?

Menurut pandangan saya, wanita karir jauh lebih luas dari sekedar wanita yang dapat secara bebas bekerja sesuai dengan kehendak dan kebebasannya.

Bila hanya sekedar bebas bekerja sesuai dengan kehendaknya, justru wanita Muslim tak ada bedanya dengan wanita Barat dan corak kebudayaan Barat pada umumnya.

Dalam keyakinan saya, hakikat wanita karir yang sebenar-benarnya dalam Islam adalah dengan menjadi ibu rumah tangga dan ibu dari anak-anak mereka.

Baca Juga:  Dalam Perspektif Budaya dan Politik Kebangsaan, Mungkinkah Pancasila Disebut Agama?

Tak bisa dipungkiri bahwa model karir semacam ini menuntut pendidikan yang sama atau malah melebihi jenis karir apapun di luar rumah.

Ada pendapat sesat yang beranggapan bahwa karir yang sangat mulia ini hanya menyangkut soal memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja.

Lebih dari itu, karir jenis ini berkaitan dengan tugas merawat manusia, baik muda maupun tua, dan ini adalah pekerjaan paling sulit di dunia. Seorang suami jelas akan kelabakan dan kewalahan bila melakukan pekerjaan ini, bukan lantaran dia seorang suami dan kebetulan menjadi pemimpin rumah tangga.

Karir seorang ibu mengharuskan kebijaksanaan yang matang, kecerdasan, kreativitas, keterampilan dan pengalaman, dan butuh ketajaman seni. Pendidikan jelas diperlukan sepanjang waktu yang bisa diberikan oleh seseorang, entah dalam ruang lingkup rumah tangga, pendidikan sekolah, kesusastraan dan seni, psikologi, dan kebudayaan.

Di samping itu, meskipun salah satu tugas ibu adalah mengatur rumah tangga, tapi melahirkan dan mengasuh anak adalah karir spiritual dan intelektual yang universal. Pekerjaan-pekerjaan ini juga tidak menyita seluruh energi seorang wanita sepanjang hidupnya. 

Lagi pula, tugas mengasuh anak – betapapun suami juga memiliki kewajiban mengasuhnya – tidak akan melebihi jangka waktu dua puluh tahun dalam hidupnya. Ia mungkin masih akan hidup sekitar tiga puluh tahun lagi.

Baca Juga:  Khilafah yang Tertolak

Pertanyaannya, patutkah jika wanita-wanita Muslim menghabiskan masa hidup yang berharga ini dengan gosip semata-mata sedangkan mereka sesungguhnya bisa bekerja dengan bakat dan energi mereka?

Dalam ajaran Islam telah jelas disebutkan bahwa setiap wanita, begitu juga dengan laki-laki, harus melaksanakan tugas mengabdi kepada Allah SWT dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada orang lain, tentunya sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Tugas ini bertambah wajib lantaran adanya fenomena kemorosotan moral umat Islam.

Keadaan dunia saat ini menuntut setiap wanita Muslim untuk berkarir paling tidak dalam sebagian masa hidupnya. Ini bisa dilakukan ketika dia masih dalam masa sekolah dan kuliah, atau selama dia bertugas sebagai ibu tapi memiliki banyak waktu untuk bisa bekerja di luar rumah.

Hemat saya, setiap wanita harus mengembangkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk setiap pekerjaan. Praktisnya, setiap bidang pekerjaan terbuka baginya dan tidak ada pengecualian. Selama tenaga dan keterampilannya dibutuhkan, maka sah dan harus dilakukan.

Meskipun, menjadi ibu adalah karir yang paling hakiki dalam Islam, tapi sekiranya wanita dapat bekerja dengan seluruh waktunya, maka itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Hanya saja, dan ini penting dipahami, Islam menganggap pria dan wanita diciptakan untuk fungsi-fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Misalnya, fungsi sebagai ibu berupa mengatur rumah tangga dan mengasuh anak, dan fungsi ayah sebagai pelindung, mencari nafkah, dan memikul seluruh tanggung jawab yang menuntut syarat-syarat fisik, psikis, dan emosional yang berlainan dari pria dan wanita.

Baca Juga:  Suami Melarang Istri Berkarir, Bagaimana Islam Memandang Hal Ini?

Jangan pernah beranggapan bahwa perbedaan fungsi ini (ayah dan ibu) sebagai sesuatu yang menindas perempuan atau menjadikan ia jenis kelamin yang kedua. Islam menganggap perbedaan ini perlu demi pemenuhan diri dari kedua jenis kelamin. Perbedaan peranan sama sekali bukanlah diskriminasi atau segregasi.

Tidak bisa diragukan lagi bahwa Allah SWT telah menjadikan pria dan wanita sederajat dalam hak-hak keagamaan, etika dan sipil, serta tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban mereka.

Hanya saja ada sedikit pengecualian, dan ini berkaitan dengan fungsi-fungsi mereka sebagai ayah dan ibu.

Meski demikian, jika memang dibutuhkan, atau dalam keadaan memaksa, aktivitas-aktivitas pria dan wanita boleh saling dipertukarkan atau menyimpang ke kawasan lawan tanpa disertai dengan prasangka terhadap perbedaan peranan yang telah ditetapkan oleh Tuhan di alam ini.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published.