Maaher At Thuwailibi Sering Hina Ulama NU, Nadhiyyin Balas Mendoakan Kesembuhannya

Maaher Attuwailibi

Pecihitam.org – Ada beberapa catatan terhadap “ngustad” tanpa (z) Maher Attuwailib mengenai materi isi ceramahnya. Saya kutipkan beberapa isi ceramahnya secara maknawi (riwayah bil ma’na), lalu saya komentari satu demi satu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

  1. Ahli bid’ah kelas kakap di Negara adalah Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, MA dan Habib Prof. Dr. KH, Muhammad Quraish Shihab, MA sengaja saya sertakan Gelar dan namanya supaya kita paham kedudukan dan keilmuan kedua ulama yang dituduh sebagai pelaku bid’ah terbesar di Indonesia
  2. Tua, Geger otak, ulama masuk angin yang ditujukan kepada Prof. Dr (HC) KH. Ma’ruf Amin, MA mantan ketua MUI Pusat yang saat ini menjadi wakil Presiden RI 2019-2024
  3. Menyebut polisi sebagai “monyet-monyet berseragam cokelat” atau “monyet berseragam bencong”

Habib Quraish Shihab dan KH. Said Agil Siraj adalah ahli bid’ah kelas kakap. Bid’ah yang dimaksud mungkin karena keduanya adalah ulama yang tidak melakukan penentangan terhadap amalan-amalan yang selama ini dilakukan di Indonesia. Misalnya, Maulidan, Mi’raj, Barazanji, Tahlilan, dan acara-acara keagamaan yang ada di Indonesia yang menurut ngustad Maheer adalah bid’ah.

Bid’ah adalah segala sesuatu yang tidak ada contohnya pada masa Rasulullah saw. Kalau seperti itu maksudnya maka tuduhan ngustad Maheer tentang bid’ah, pada saat yang sama ia pun melakukan bid’ah bahkan dosa besar sebab tidak ada contoh dari Nabi Muhammad saw melakukan cacian, hinaan kepada orang lain seperti yang dilakukan ngustad Maheer.

Baca Juga:  Tubuh Perempuan Itu (Bukan) Fitnah

Pernahkah Nabi Muhammad saw menghina, mencaci maki pamannya Abu Lahab, Abu Jahal? Tidak. Justru yang dilakukan Nabi adalah sebaliknya. Kebencian ia balas dengan cinta, amarah ia balas dengan sabar, dendam ia balas dengan kasih sayang.

Maheer tidak melakukan itu, yang ia lakukan adalah sebaliknya, menghina pada orang yang selayaknya dipuji, membenci pada orang yang seharusnya dicintai, mendendam pada orang yang selayaknya disayang. Sungga jauh dari contoh Rasulullah saw.

Si tua, geger otak, ulama masuk angin yang dimaksud adalah mantan ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin. Pada saat menjelang pilgub, fatwa KH. Ma’ruf Amin menjadi angin segar bagi yang membenci calon gubernur DKI Basuki Cahya Purnama alias Ahok waktu itu dan menjadi alasan untuk mengatakan bahwa Ahok itu penista agama. Beliau begitu disanjung-sanjung.

Namun setelah pilgub selesai dan tibalah pilpres dan KH. Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presiden Joko Widodo, para pemujanya dulu berbalik membenci dan menghina beliau. Dari sini kita paham bahwa sebenarnya ia tidak mencintai beliau, katanya mari mengawal fatwa ulama tetapi saat ulamanya lain pilihan bukannya dikawal malah dihina.

Baca Juga:  Pondasi Toleransi: Janganlah Menilai Agama Orang Lain dari Kacamata Agama Kita

Ingatkah anda apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw kepada perempuan tua yang setiap hari menghina, mencaci maki beliua? Yang dilakukan beliau adalah membalasnya dengan memberinya makan setiap hari kepada nenek tersebut. Lalu Maheer apakah ikut ajaran Nabi Muhammad saw atau ikut nafsunya? Tentu bukan ikut pada ajaran Nabi Muhammad saw.  

Menyebut polisi dengan “monyet berseram bencong” atau “monyet berseragam cokelat” walaupun kemudian Maheer melakukan klarifikasi bahwa ucapannya itu bukan ditujukan pada sebuah lembaga tertentu, tetapi sebenarnya sangat jelas objek ucapannya itu.

Padahal telah dicontohkan oleh Nabi Musa as ketika diperintahkan oleh Allah swt ketika menasehati Fir’aun, ia diperintahkan menggunakan kata-kata yang lemah lembut (qaulan layyinan) lihat Qs Thaha/20:44.

Dengan tiga ungkapan di atas ngustad (tanpa z) Maheer sebenarnya sangat tidak layak disebut ustadz apalagi seorang ulama, walaupun ia berpakaian jubah ala Arab. Selain itu, ngustad (tanpa z) Maheer sebenarnya perlu diwaspadai karena dari isi ceramahnya ia nampaknya pro khilafah, pro kelompok radikal dan intoleran.

Baca Juga:  Menjadi Nahdliyyin Sejati, Bukan Menjadi "NU Bapakku, NU Nenekku"

Ceramahnya sedikitpun tidak mencerahkan akan dan hati, prilakunya menyalahi prilaku Nabi Muhammad saw. Hakikatnya sebuah ceramah adalah mencerahkan akal dan menentramkan jiwa. Dan sekali lagi ngustad Maheer tidak memiliki keduanya.

Lalu bagaimana reaksi nadhiyyin terhadap ulah ngustad Maheer yang menghina kyai Said Agil Sirad, Kya Ma’ruf Amin, Habib Quraish Shihab? Mereka tidak melakukan apa-apa, diam menjadi pilihan terbaik mereka daripada melayani, mungkin karena teman-teman NU paham bahwa Maheer itu bukan ustadz beneran, hanya pura-pura jadi ustadz.

Justru ketika tersebar foto bahwa ngustad Maheer sakit dan sedang dirawat di rumah sakit, teman-teman NU malah mendoakan kesembuhan baginya dan semoga ia segera menyadari kesalahannya dan akhirnya bertobat. Aamiin. Wallahu A’lam bis Shawab.

Muhammad Tahir A.