Jangan Tinggi Hati, Sebab Hanya Allah yang Maha Tinggi

Allah yang Maha Tinggi

Pecihitam.org – Menjadi manusia yang disegani adalah harapan semua orang. Namun, menjadi tinggi hati karena banyak yang menyegani adalah perbuatan yang di larang. Tidak ada yang pantas mempunyai sifat sombong dan merasa dirinya tinggi kecuali hanya Allah dzat yang Maha Tinggi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebab, hakikat manusia adalah makhluk yang tak berdaya, yang jauh dari kata sempurna. Maka untuk apa merasa lebih berada daripada yang lainnya? Toh, saat satu saja kenikmatannya dicabut oleh Allah, maka ia akan merasakan betapa tidak berharganya manusia tanpa pertolongan-Nya.

Sifat yang harus dimiliki oleh seorang hamba adalah tawadhu dan merasa hina. Sebab Nabi Saw bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Dan tidaklah seorang yang tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Tarmidzi)

Berapa banyak mereka yang dihilangkan jabatannya, sebab ia merasa sombong atas apa yang ia punya, serta lupa bahwa apa yang ia punya hanyalah titipan dari yang Maha Esa.

Baca Juga:  Cara Menjaga Sholat Malam Setelah Berlalunya Bulan Ramadhan

Maka jika tengok kepada kepribadian ulama-ulama kita, mereka tidak ada yang merasa dirinya alim, atau lebih mahir dari yang lainnya. Mereka akan selalu tawadhu dan merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa.

Jika mereka saja yang berilmu selalu merasa seperti itu, maka apa yang dapat disombongkan oleh orang-orang seperti kita, yang masih sangat butuh kepada ilmu dan keberkahan para ulama?! Wal ‘iyadhu billah.

Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra ayat 37,

وَلَا تَمۡشِ فِی ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولࣰا

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”

Ayat diatas jelas bahwa Allah memberikan peringatan besar kepada manusia, untuk tidak bersifat sombong. Sebab, tidak ada satupun yang patut disombongkan dalam dirinya.

Sering kali kita dengar bahwa kesombongan adalah pangkal dari kehancuran. Jika dipikir-pikir, memang benar petuah itu. Sebab saat dirinya sombong, dia merasa dirinya yang paling tinggi. Padahal sesungguhnya ia telah lupa bahwa ada Allah dzat Maha Tinggi yang memberikan kenikmatan kepada dirinya. Jika sudah begitu, maka tinggal menunggu adzab Allah yang pedih baginya.

Baca Juga:  Ini Konsep Buruh dalam Fiqih Yang Harus Kita Pahami

Allah juga telah memberikan contoh dengan adanya mayat Firaun yang ada sampai sekarang, itu adalah sebagai bukti bahwa adzab Allah adalah nyata. Kita tahu bahwa semasa hidupnya Firaun selalu menyombongkan dirinya, hingga ia mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan bagi semesta ini. Maka tidak ragu jika Allah mengabadikan namanya didalam al-Qur’an dan mengawetkan jasadnya hingga saat ini. Agar, umat manusia tidak ada yang berbuat demikian.

Nama Firaun banyak diabadikan di al-Qur’an, bahwa ia menerima adzab yang pedih dari Allah. Diantaranya adalah surat al-Ankabut ayat 39

وَقَـٰرُونَ وَفِرۡعَوۡنَ وَهَـٰمَـٰنَۖ وَلَقَدۡ جَاۤءَهُم مُّوسَىٰ بِٱلۡبَیِّنَـٰتِ فَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَمَا كَانُوا۟ سَـٰبِقِینَ

“Dan (juga) Karun, Fir‘aun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah).”

Maka kiranya umat-umat terdahulu yang Allah abadikan namanya dalam al-Qur’an, entah yang baik ataupun buruk, bisa menjadi contoh bagi kita. Agar selalu merasa bahwa manusia hanyalah makhluk yang selalu butuh kepada Tuhannya. Dan jauh dari kata tinggi dan sempurna. Sebab, hanya Allah dzat yang Maha Tinggi. Wallahu A’lam bisshowab.