Kisah Waliyullah Ibrahim bin Adham; Karomah Dan Kalam Hikmahnya

Ibrahim bin Adham, Kisah Waliyullah

Pecihitam.org – Ibrahim bin Adham adalah seorang tokoh sufi ternama, tergolong dalam kelompok tabi’in, meninggal dinegeri Syam pada tahun 161 H/778 M rahimahullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beliau adalah seorang waliyullah, berasal dari keluarga kerajaan wilayah khurasan. Berkelana ke pedalaman arab kemudian ke Mekkah al-Mukarramah, disana ia bertemu dengan Sufyan Tsauri dan Fudhail bin ‘Iyadh kemudian bersahabat dengan mereka.

Ibrahim bin Adham mengais rezeki dengan bekerja sebagai  pengetam atau penuai, berkebun dan lainnya. Abu hanifah, tokoh ulama mujtahid terkenal adalah juga merupakan salah seorang sahabat Ibrahim bin Adham.

Karomah Ibrahim bin Adham

Berkata Imam Yafi’i rahimahullah: Imam al-Qusyairi meriwayatkan dengan sanadnya, beliau bercerita: pernah suatu ketika kami bersama sama dengan Ibrahim bin Adham berada di tepi laut. Kemudian kami berhenti di semak belukar yang banyak kayu-kayu kering, lalu kami berkata kepada Ibrahim:

“bagaimana bila malam ini kita berdiam di sini dan membakar beberapa kayu untuk perapian ?” Ibrahim bin Adham pun menjawab “boleh, lakukanlah!”

Maka kami pun menetap di situ dan membakar beberapa kayu. Saat itu kami hanya membawa bekal beberapa potong roti. Disaat kami sedang menyantap roti, salah seorang dari kami berkata:

“alangkah bagusnya bara api ini bila ada daging yang bisa kita bakar dengannya untuk kita makan“, kemudian Ibrahim bin Adham berkata: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla Maha Kuasa atas memberi daging tersebut kepada kalian”.

Baca Juga:  Kisah Ibrahim bin Adham Mencari Kehalalan Sebutir Kurma

Sesaat setelahnya, tiba-tiba datanglah seekor singa membawa rusa jantan dimulutnya, singa tersebut lalu mendekati kami dan meletakkan rusa yang sudah lunglai lehernya itu dihadapan kami.

Kemudian Ibrahim bin Adham berdiri dan berkata: “sembelihlah rusa itu!, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi kalian makanan”

Maka kami pun langsung menyembelihnya dan memanggang dagingnya, sedangkan si singa masih tetap diam disitu sembari melihat kearah kami.

Muhammad bin Mubarak as-Shuwari berkata: suatu hari aku sedang berada di jalan baitul maqdis bersama dengan Ibrahim bin Adham, ketika sampai di sebatang pohon delima kami memutuskan beristirahat di bawahnya, lantas kami menunaikan shalat sunnat dhuha disana.

Kemudian sesaat setelah selesai shalat, aku mendengar suara yang keluar dari pohon tersebut, ia berkata: “sungguh adalah suatu kemuliaan bagi kami jika saudara mencicipi apa yang ada pada kami”.

Lalu Ibrahim bin Adham pun berkata kepadaku: “wahai Muhammad, marilah kita penuhi permintaannya !”, kemudian Ibrahim mengambil dua buah delima dari pohon itu dan memberikan kepadaku salah satunya seraya berkata: “wahai Muhammad, makanlah!”.

Baca Juga:  Dialog Kyai NU dan Seorang Pemuda Bercelana Cingkrang

Muhammad bin Mubarak melanjutkan ceritanya : “beberapa hari kemudian aku kembali melewati pohon tersebut, alangkah terkejutnya aku ketika kulihat pohon itu tumbuh besar dan subur dengan begitu banyak buah yang dihasilkannya. Penduduk di daerah tersebut menamakan pohon itu dengan Syajaratul-‘abidin yang berarti pohon orang-orang ahli ibadah”

Beberapa Kalam Hikmahnya

  • Pokok segala ibadah adalah tafakkur dan diam, terkecuali diam dari berzikir kepada Allah.
  • Amalan shaleh yang paling berat timbangannya kelak di yaumil mizan adalah amalan yang paling berat dirasa oleh badan.
  • Jihad yang paling dahsyat adalah jihad melawan hawa nafsu, barangsiapa yang mampu menahan hawa nafsunya maka ia sungguh telah beristirahat daripada dunia beserta balanya, dan adalah ia dilindungi lagi sejahtera daripada penyakit dunia.
  • Barangsiapa melakukan kebaikan yang hanya sesuai dengan kesukaannya, dan menjauh dari keburukan yang hanya ia benci saja, maka amal kebaikan tersebut tidak berpahala baginya dan tidak terselamatkan ia dari dosa keburukan yang ia tinggalkan itu.
  • Zuhud ada tiga macam : zuhud fardhu, zuhud salamah dan zuhud fadhal. Maka zuhud fardhu itu yakni zuhud pada yang haram, zuhud salamah adalah zuhud pada yang syubhat/samar-samar, dan zuhud fadhal adalah zuhud pada yang halal.
  • Tidak ada yang lebih dahsyat lagi berat terhadap iblis melainkan orang ‘alim lagi halim/sabar, yang jika bicara, ia berbicara dengan ilmu dan jika diam maka ia diam dengan sabar. Hingga berkata iblis mengenainya : “sungguh diamnya itu lebih membuat aku tertekan ketimbang bicaranya”.
  • Menyedikitkankan rakus dan loba dapat mewarisi kejujuran dan kewara’an, sedangkan memperbanyak keduanya dapat mewarisi dukacita dan kegelisahan.
  • Sibukkan hati kalian dengan rasa takut terhadap Allah, sibukkan badan kalian dengan ketekunan pada menta’ati-Nya, wajah kalian dengan rasa malu kepada-Nya dan sibukkan lidah kalian dengan berzikir kepada-Nya. Dan tundukkanlah pandangan kalian daripada melihat segala yang diharamkan Allah.
  • Jika engkau dapat mengekalkan pandanganmu kepada cermin taubat, niscaya akan nyata bagimu aib kejelekan maksiat.
Baca Juga:  Kisah Pengaduan Sahabat pada Nabi Muhammad Perihal Konflik Rumah Tangga Mereka

Demikian sepintas lalu kisah mengenai Al-‘Arifbillah Syeikh Ibrahim bin Adham, karomah yang dimilikinya dan beberapa kalam hikmah yang muncul dari lisannya. Semoga dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita ummat manusia. Wallahua’lambisshawab !

Muhammad Haekal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *