Meluruskan Salah Paham Tentang Tarekat

tentang tarekat

Pecihitam.org – Tidak sedikit yang masih memandang Tarekat sebelah mata, menganggap ajaran tarekat itu bid’ah, bahkan ada yang menganggap tarekat itu ajaran sesat karena mengkultuskan manusia. Itulah beberapa alasan yang digunakan oleh orang-orang yang salah paham tentang tarekat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jadi begini, kalau anda memahami tarekat itu tentang majelis perkumpulan yang isinya dzikir, maka anda boleh saja ikut dan boleh saja tidak. Anda bebas memilih karena di dunia ini banyak majelis atau perkumpulan sejenis yang berbasis agama.

Kalau anda memahami tarekat adalah untuk mendapat kumpulan bacaan dzikir yang dibacakan disaat tertentu, maka anda juga tidak harus bergabung di dalamnya. Karena anda bisa saja mengambil bacaan dzikir yang lain dari manapun saja, serta tidak harus sama dengan apa yang diamalkan oleh orang-orang tarekat.

Begitu pula jika anda memahami tarekat sekedar cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka anda pun bisa berdalih, bukankah dengan tuntunan syariat dan ibadah yang sudah ada kita juga bisa dekat dengan Allah. Ko malah jadi bingung ya, … Lantas bagaimana seharusnya kita memahami tentang tarekat?

Pada dasarnya Tarekat tidak bisa dimaknai secara terpisah seperti di atas, sebab akan kehilangan hakikat dan makna yang sebenarnya. Tarekat berasal dari kata Tareqatulah yang maknanya jalan menuju kehadirat Allah SWT.

Jika dalam bahasa sederhana tarekat bisa dipahami sebagai jalan, sedangkan dalam bahasa yang lebih modern tarekat lebih tepat disebut sebagai metodologi atau cara. Dengan demikian tarekat adalah jalan, metodologi atau cara untuk menjalankan ajaran agama secara baik dan benar sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Swt.

Baca Juga:  Belajar Tasawuf: Falsafah dari Pohon Tebu (manTeb ing kalBu)

Ketika Rasulullah Saw masih hidup, metode untuk mendekatkan diri kepada Allah ini disebut Tariqatusirriah (Jalan Rahasia) yang kemudian menjadi cikal bakal istilah tarekat saat ini. Kehidupan Nabi Saw di masjid bersama dengan orang-orang yang 24 jam tinggal bersama beliau, atau yang disebut Ahlussuffah itu adalah bentuk dari pelaksanaan tarekat yang hingga kini tetap dipertahankan.

Hakikat bertarekat tidak lain adalah agar bisa mengikuti sunnah Nabi secara dzohir dan batin yang akhirnya menuju pada ma’rifatulah. Sebab di akhir zaman ini kebanyakan orang hanya sibuk mengikuti sunnah Nabi secara dzohir saja.

Lihat saja, memang banyak yang mengikuti nabi dari cara berpakaian, makan, minum dan kehidupan fisik Nabi yang dijadikan panutan. Itu semua tidak salah dan tetap bagus, namun yang lebih bagus lagi adalah rohani kita bisa tersambung kepada rohani Nabi. Karena secara fisik kita terpisah oleh waktu dan zaman sedangkan ruh dengan ruh tidak akan terpisah.

Kita bisa saja mengikuti gaya Nabi dalam segala hal tapi sudah pasti kita tidak akan bisa mengambil “rasa” yang dirasakan oleh Nabi. Kita bisa saja meniru shalat Nabi, namun getaran dada Nabi dan tangisan Beliau di dalam shalat tidak akan pernah bisa kita tiru. Karena itu semua bukan ranah fiqih atau syariat, melainkan adalah bagian dari tasawuf yang dipraktekkan lewat tarekat.

Baca Juga:  Tasawuf dalam Pandangan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ulama Panutan Salafi

Manusia tidak akan bisa merindukan Allah jika dia sendiri tidak mau mengenal-Nya dengan baik, dan cara mengenal paling sempurna adalah lewat tarekat. Maka ketika tarekat dianggap bid’ah, saat itulah umat Islam kehilangan akan kehilangan kontak dengan Allah.

Lewat tuduhan bid’ah dan syirik itulah golongan-golongan tertentu menyusupkan ajaran-ajaran mereka di dalam Islam, yang tujuannya untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Kita tahu, bahwa di dunia ini hanya ada satu kelompok yang gemar sekali membid’ahkan bahkan mengharamkan tarekat dan tasawuf yaitu kelompok ciptaan orientalis yang menyusup ke dalam Islam.

Kelompok ini pula yang gemar melarang kita menunjukkan cinta kepada Nabi lewat berbagai bentuk seperti maulid, shalawat dan pujian kepada Nabi. Umat Islam selalu ditakut-takuti dengan istilah menyeramkan yaitu syirik, bid’ah dan kafir.

Ada hal penting yang harus di sadari oleh umat Islam, bahwa hakekat dari beragama adalah akhlak. Akhlak itu tidak bisa dipelajari apalagi di tiru begitu saja. Misalkan ketika anda membaca hadist bahwa Rasulullah Saw membuang duri dari jalan, kemudian anda meniru kebaikan itu dan anda merasa sudah mengikuti Nabi, anda keliru.

Sekedar meniru apa yang dilakukan Nabi tidak akan memindahkan apa yang ada di dalam dada Beliau. Akhlak yang hakiki itu bukan di dapat dengan sekedar meniru, apalagi hanya dengan modal membaca, tapi di dapat dengan cara menghubungkan dada kita dengan dada Nabi sehingga akhlak yang diterima benar-benar murni.

Lantas bagaimana cara menghubungkan dada kita dengan dada Nabi? Yaitu dengan cara menghubungkan dada kita kepada pewaris Rasulullah yang tersambung sanad dan rohaninya. Sehingga apa yang ada di dada Nabi juga akan berpindah ke dada kita.

Baca Juga:  Konsep Hulul Al-Hallaj dan Pro Kontra Para Ulama

Cara inilah yang dipakai Nabi untuk mengubah akhlak masyarakat jahiliyah kala itu, menjadi masyarakat yang berakhlak terpuji karena mereka mendapatkan getaran ilahiyah lewat dada dan sanubari Rasulullah Saw.

Mengikuti tarekat memang tidak diharuskan, namun ketika anda menolak tarekat, maka yang terjadi adalah anda hanya sekedar bergaya saja dalam mengikuti sunnah Nabi, sedangkan di dada anda masih bersemayam kesombongan yang dikutuk oleh Allah.

Analogi sederhananya seperti orang bodoh yang mencontoh gaya dokter dengan cara meniru fisiknya, memakai baju dokter dan peralatan dokter. Terlihat dari luar memang persis seperti dokter, tapi isi dalamnya tetap saj orang bodoh. Begitu juga orang yang hanya meniru penampilan dan ibadah Nabi Saw secara fisik saja, dari luar terlihat alim tetapi di dalamnya….?

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik