Misteri Dibalik Syair Kidung Wahyu Kolosebo Karya Sri Narendra Kalaseba

Kidung Wahyu Kolosebo

Pecihitam.org – Kidung wahyu kolosebo merupakan sya’ir yang diciptakan oleh Sri Narendra Kalaseba pada waktu ia berusia 23 tahun. Syair tersebut ia tulis selama 9 tahun di era modern. Uniknya syair ini malah banyak dikenal oleh masyarakat hasil dari ciptaan Kanjeng Sunan Kalijaga, padahal bukan. Sya’ir ini berisikan ajaran-ajaran agama islam untuk menghilangkan hawa nafsu dan selalu mendekat dengan Allah SWT.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dari segi arti kidung wahyu kolosebo yaitu petunjuk bagi manusia untuk menuju kepada sang Maha Kuasa. Maka dari itu sya’ir atau kidung ini memiliki semangat spiritualisme islam yang tinggi, dibalut dengan nuansa mistisme Jawa.

Kidung wahyu kolosebo ini berisikan arahan dan tuntunan bagi umat manusia yang mencari jalan menuju Sang Maha Kuasa. Inilah lirik dan arti dari Kidung wahyu kolosebo:

Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kujaga diri dari perbuatan nista dan sesuka hati
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Dengan mengendalikan hawa, hawa nafsu angkara
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
Meski setan bergentayangan, selalu membuat godaan
Hinggo pupusing jaman
Sampai akhir zaman

Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
Sekuat tenaga saya memadamkan api, bisanya kemurkaan
Maper hardening ponco, saben ulesing netro
Mengendalikan lima indera dalam setiap kedipan mata
Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan
Dilandasi rasa welas asih Sang Pemberi Kemuliaan
Sang Hyang Jati Pengeran
Sang Maha Sejati Tuhan

Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku
Bertahta di kalbu, samudera penuntun perbuatan
Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi
Menuju kepada Tuhan, Dzat yang tidak ada asalnya
Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi
Menyatunya hamba dengan Tuhan, kehendak hati akan terjadi
Mukti ingsun, tanpo piranti
Saya jaya, tanpa perantara

Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
Menyebar ke jiwa madu sarinya perwita
Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno
Aneka warna prada, membangun diri yang sempurna (Prodo adalah guratan tinta emas pada kain batik)
Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno
Kesialan pasti musnah, musibah malapetaka nyata hilang
Tyasing roso mardiko …
Timbullah rasa merdeka

Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo
Semoga dengan ucapan pusaka kalimat syahadat
Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo
Benar-benar jadi mustika di dalam jiwa raga
Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono
Beruntung mulia waskita, digdaya dan berwibawa
Byar manjing sigro-sigro
Byar terwujud gilang-gemilang

Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh
Sakti tua utuh, tidak bisa diteluh (disantet)
Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah
Gagah riang gembira, merekah di sepanjang waktu
Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko
Kesatria tata sembara, wiratama seperti seribu bintang
Kataman wahyu … Kolosebo
Tertimpa (mendapatkan) wahyu kalaseba

Memuji ingsun kanthi suwito linuhung
Saya memuji dengan menghadap maha tinggi
Segoro gando arum, suhrep dupo kumelun
Laut berbau harum seperti dupa semerbak
Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur
Mengolah niat saya, mengidung (melantunkan) sabda (kata-kata) yang luhur
Titahing Sang Hyang Agung
Perintahnya Sang Maha Agung

Rembesing tresno, tondho luhing netro roso
Merembesnya kasih sayang, pertanda air mata rasa
Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci
Rasa perasaan hati, seperti air yang suci
Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang
Diwujudkan japa mantra, hebat jadi penerang
Palilahing Sang Hyang Wenang
Ridhonya Sang Maha Berwenang

Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono
Sembilan wujud dewa, tali kekuatan dunia (semesta)
Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo
Abadi memuji di singgasana surga
Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono
Sang Raja Kolosebo, diwisuda di angkasa
Datan gingsir .. sewu warso
Tidak akan tenggelam ..seribu tahun

Demikianlah syair dan makna dari kidung wahyu kolosebo. Sejatinya kidung ini syarat akan pesan-pesan, harapan dan doa secara spiritual yang dibalut dengan nilai-nilai religius. Selain itu Kidung ini juga merupakan bentuk munajat dan kepasrahan seorang hamba pada Tuhannya, meminta agar dijauhkan dari sifat angkara murka dalam menjalani kehidupan duniawi.

Baca Juga:  Hubungan NU dan Santri yang Tak Terpisahkan

Semoga bermanfaat. Wallahua’lam bisshawab.

Lukman Hakim Hidayat