Khazanah Tafsir Al-Qur’an III : Perkembangan Tafsir Al-Qur’an Abad ke-19

Tafsir Al-Qur’an Abad ke-19

Pecihitam.org – Guru besar di bidang tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Profesor KH. Abdul Mustaqim membagi dua garis besar dalam corak tafsir jawa. Pertama penafsiran yang beroriesntasi pada penggalian makna literal ( apa makna yang tersurat dan makna zhahir ). Kedua penafsiran yang menekankan pada yang ada dibalik surat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Artinya makna isyâri adalah makna tersirat ( makna isyâri atau makna batin ). Pada abad ke-19 perkembangan tafsir yang kelihatan maju terlihat di pulau Jawa. Biasanya dalam tradisi jawa, penafsiran isyari banyak ditemui dalam simbol-simbol berupa bangunan masjid, kitab-kitab sastra Jawa, dan beberapa tempat yang menuruut masyarakat Jawa dinilai suci.

Sistem penyajian dalam setiap kitab tafsir mempunyai perbedaan. Tentu hal tersebut merupakan hak prerogatif mufasir. Dalam sistem penyajian sudah tentu membutuhkan sistematis dalam penulisan maupun dalam struktur teknis penyajian. Menurut Islah Gusmian dalam sistem penyajian tafsir dapat dilihat dari dua kelompok. Pertama cara penyajian runut dan kedua cara penyajian tematik.

Jika kita menelusuri lebih dalam lagi, perkembangan penafsiran yang ada di pulau Jawa pada abad ke-19 mengalami kemajuan. Banyaknya peran ulama-ulama yang muncul dan berperan pentig dalam proses penafsiran dan juga pembukuan kitab tafsir. Oleh karena itu, berikut ini penulis akan menjelaskan perkembangan penafsiran pada abad ke-19 sebagai berikut.

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 39; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Pada abad ke-19 perkembangan tafsir di Indonesia khususnya di Jawa mengalami perkembangan sangat pesat. Perkembangan tersebut dapat dilihat ketika pada abad ke-17  yang hanya ditemukan beberapa kitab tafsir seperti kitab Tafsir Tarjuman al-Mustafid karya Abd. al-Ra’uf al-Sinkili.

Kitab Tafsir Tarjuman al-Mustafid merupakan terjemahan dari kitab Tafsir al-Jalalain. Dan abad ke-18 perkembangan tafsir mulai surut dikarnakan masuknya penjajah, kemudian pada abad ke-19 ini mulailah muncul beberapa kitab tafsir.

Tidak lama setelah munculnya kitab Tafsir Tarjuman al-Mustafid kemudian munculah kitab tafsir yang bercorak sufistik Tafsir al-Ma’arif. Namun kitab tafsir tersebut sampai saat ini belum ada yang mengetahui siapa penulisnya.

Kemudian pada abad ke-19 ditemukan kembali kitab tafsir yang menggunakan  bahasa Melayu- Jawa yaitu Kitab Tafsir Fars’idul Qur’an. Sama sepeti kitab sebelumya, kitab tafsir ini juga tidak ditemukan siapa penulisnya.

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 26-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Selain Tafsir Fars’idul Qur’an pada abad yang sama munculah kitab Tafsir Munir li Ma’alim al-Tanzil yang ditulis oleh seorang ulama ternama di Indonesia yaitu Imam Muhammad Nawawi al-Bantani ( 1813-1879 M ). Kitab tafsir karya Imam Nawawi ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Kitab tersebut juga ditulis ketika ia sedang berada di Mekkah.

Perkembangan tafsir al-Qur’an dari tahun ketahun jika dilihat mengalami kemanjuan. Namun yang perlu digaris bawahi kitab-kitab yang muncul pada abad-17 sampai abad ke-19 ada beberapa kitab yang tidak ditemukan nama pengarangnya. Tentu ini menjadi perhatian penting sebab, seorang mufasir akan dapat diketahui bagaimana latar belakang terbentuk atau munculnya suatu kitab manakala diketahui nama pengarangnya.

Selanjutnya, pada tahun 1920-an mulailah bermunculan kitab-kitab tafsir seperti H. Iljas dan Abd Jalil yang berjudul Alqoerannoel Hakim Beserta Toejoean dan Maksoednja. Dari judul kitabnya sudah terlihat, tafsir tersebut ditulis di Padang Panjang dengan menggukan bahasa Indonesia.

Baca Juga:  Khazanah Tafsir Al-Qur’an II : Perkembangan Tafsir di Era-Kolonialisme Abad ke-18

Pada abad yang sama, seorang pahlawan nasional yang bernama Cokroaminoto memperkenalkan terjemahan kitab tafsir karya Maulvi Mohamamd Ali dari Ahmadiyah Lahure. Meskipun pahlawan nasional dan guru dari Presiden Soekarno, Cokroaminoto mendapatkan banyak kritikan oleh pada ulama. Kritikan tersebut muncul dikarnakan dalam terjamah tersebut terdapat banyak kosa kata yang kurang tepat.

M. Dani Habibi, M. Ag