Surah Al-Qalam Ayat 1-7; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Qalam Ayat 1-7

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Qalam Ayat 1-7 ini, Surah ini berisikan pembelaan terhadap Rasululah saw. dan pemantapan keinginan hatinya agar tetap teguh pada kebenaran tanpa harus mengalah pada siapa pun. Dalam Surah ini, siksa yang diterima oleh penduduk Mekah dianalogikan dengan apa yang diderita oleh pemilik kebun yang ceritanya dituturkan di dalam Surah ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Diterangkan juga berita gembira untuk orang-orang Mukmin dari sisi Tuhan dan bahwa mereka itu tidak sama dengan orang-orang kafir.

Selain itu, Surah ini berisi penolakan terhadap kepalsuan para pendusta yang menyandangkan sesuatu yang tidak benar untuk diri mereka, ancaman terhadap mereka berupa penjelasan keadaan mereka di akhirat dan nasehat kepada Rasulullah saw. untuk selalu sabar dan tabah. Surah ini ditutup dengan keterangan tentang kemuliaan al-Qur’ân.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam Ayat 1-7

Surah Al-Qalam Ayat 1
نٓ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ

Terjemahan: “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

Tafsir Jalalain: Al-Qalam (Pena) نٓ (Nun) adalah salah satu dari huruf hijaiah, hanya Allahlah yang mengetahui arti dan maksudnya وَٱلۡقَلَمِ (demi qalam) yang dipakai untuk menulis nasib semua makhluk di Lohmahfuz وَمَا يَسۡطُرُونَ (dan apa yang mereka tulis) apa yang ditulis oleh para malaikat berupa kebaikan dan kesalehan.

Tafsir Ibnu Katsir: Mengenai huruf hijaiyah telah dijelaskan di dalam surah al-Baqarah. Firman Allah: وَٱلۡقَلَمِ (“Demi kalam”) secara lahiriyah, tampak bahwa ia sejenis dengan pena yang dipergunakan untuk menulis. Seperti pada firman Allah yang artinya:

“Bacalah, dan Rabb-mu lah yang Paling Pemurah yang mengajarkan [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 3-5). Yang demikian itu merupakan sumpah dari Allah Ta’ala sekaligus peringatan bagi makhluk-Nya atas apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka, berupa pengajaran tulis-menulis yang dengannya ilmu pengetahuan diperoleh. Oleh karena itu Dia berfirman:

وَمَا يَسۡطُرُونَ (“dan apa yang mereka tulis.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan: “Yakni, apa yang mereka tulis.” Abudh dhuha menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Wamaa yasthuruuna; berarti dan apa yang mereka kerjakan.”

Tafsir Kemenag: Para mufasir berbeda pendapat tentang arti huruf “nun” yang terdapat dalam ayat ini. (Selanjutnya lihat jilid I dalam keterangan tentang huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada permulaan surah dalam Al-Qur’an). Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan al-qalam (pena) dan segala macam yang ditulis dengannya.

Suatu sumpah dilakukan adalah untuk meyakinkan pendengar atau orang yang diajak berbicara bahwa ucapan atau perkataan yang disampaikan itu adalah benar, tidak diragukan sedikit pun. Akan tetapi, sumpah itu kadang-kadang mempunyai arti yang lain, yaitu untuk mengingatkan orang yang diajak berbicara atau pendengar bahwa yang dipakai untuk bersumpah itu adalah suatu yang mulia, bernilai, bermanfaat, dan berharga.

Oleh karena itu, perlu dipikirkan dan direnungkan agar dapat menjadi iktibar dan pengajaran dalam kehidupan dunia yang fana ini. Sumpah dalam arti kedua ini adalah sumpah-sumpah Allah yang terdapat dalam surah-surah Al-Qur’an, seperti wal-‘asr (demi masa), was-sama’ (demi langit), wal-fajr (demi fajar), dan sebagainya. Seakan-akan dengan sumpah itu, Allah mengingatkan kepada manusia agar memperhatikan masa, langit, fajar, dan sebagainya.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan yang disebutkan itu perlu diperhatikan karena ada kaitannya dengan hidup dan kehidupan manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan qalam (pena) dan segala sesuatu yang ditulis dengannya.

Hal itu untuk menyatakan bahwa qalam itu termasuk nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada manusia, di samping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Dengan qalam, orang dapat mencatat ajaran agama Allah yang disampaikan kepada para rasul-Nya, dan mencatat pengetahuan-pengetahuan Allah yang baru ditemukannya.

Dengan Surah yang ditulis dengan qalam, orang dapat menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya. Dengan qalam, orang dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya, dan banyak lagi nikmat yang diperoleh manusia dengan qalam itu.

Pada masa Rasulullah saw, masyarakat Arab telah mengenal qalam dan kegunaannya, yaitu untuk menulis segala sesuatu yang terasa, yang terpikir, dan yang akan disampaikan kepada orang lain. Sekalipun demikian, belum banyak di antara mereka yang mempergunakannya karena masih banyak yang buta huruf dan ilmu pengetahuan belum berkembang.

Pada masa itu, kegunaan qalam sebagai sarana menyampaikan agama Allah sangat dirasakan. Dengan qalam, ayat-ayat Al-Qur’an ditulis di pelepah-pelepah kurma dan tulang-tulang binatang atas perintah Rasulullah. Beliau sendiri sangat menghargai orang-orang yang pandai menulis dan membaca.

Hal ini tampak pada keputusan Nabi Muhammad saw pada Perang Badar, yaitu seorang kafir yang ditawan kaum Muslimin dapat dibebaskan dengan cara membayar uang tebusan atau mengajar kaum Muslimin menulis dan membaca. Dengan ayat ini, seakan-akan Allah mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa ilmu-Nya sangat luas, tiada batas dan tiada terhingga.

Oleh karena itu, cari dan tuntutlah ilmu-Nya yang sangat luas itu agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan duniawi. Untuk mencatat dan menyampaikan ilmu kepada orang lain dan agar tidak hilang karena lupa atau orang yang memilikinya meninggal dunia, diperlukan qalam sebagai alat untuk menuliskannya.

Oleh karena itu, qalam erat hubungannya dan tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan ilmu, kesejahteraan, dan kemaslahatan umat manusia. Masa turun ayat ini dekat dengan ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, yaitu lima ayat pertama Surah al-‘Alaq.

Setelah Nabi menerima ayat 1-5 Surah al-‘Alaq itu, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan ketakutan. Setelah hilang rasa gentar dan takutnya, Nabi saw dibawa Khadijah, istri beliau, ke rumah Waraqah bin Naufal, anak dari saudara ayahnya (saudara sepupu).

Semua yang terjadi atas diri Rasulullah di gua Hira itu disampaikan kepada Waraqah, dan menanggapi hal itu, ia berkata, “Yang datang kepada Muhammad saw itu adalah seperti yang pernah datang kepada nabi-nabi sebelumnya. Oleh karena itu, yang disampaikan malaikat Jibril itu adalah agama yang benar-benar berasal dari Allah.” Kemudian Waraqah mengatakan bahwa ia akan mengikuti agama yang dibawa Muhammad itu.

Baca Juga:  Surah At Tariq; Tafsir, Terjemahan dan Asbabun Nuzul

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini berisikan pembelaan terhadap Rasululah saw. dan pemantapan keinginan hatinya agar tetap teguh pada kebenaran tanpa harus mengalah pada siapa pun. Dalam Surah ini, siksa yang diterima oleh penduduk Mekah dianalogikan dengan apa yang diderita oleh pemilik kebun yang ceritanya dituturkan di dalam Surah ini.

Diterangkan juga berita gembira untuk orang-orang Mukmin dari sisi Tuhan dan bahwa mereka itu tidak sama dengan orang-orang kafir. Selain itu, Surah ini berisi penolakan terhadap kepalsuan para pendusta yang menyandangkan sesuatu yang tidak benar untuk diri mereka, ancaman terhadap mereka berupa penjelasan keadaan mereka di akhirat dan nasehat kepada Rasulullah saw. untuk selalu sabar dan tabah.

Surah ini ditutup dengan keterangan tentang kemuliaan al-Qur’ân.]] Nûn adalah salah satu huruf fonemis yang digunakan untuk memulai sebagian Surah-Surah al-Qur’ân sebagai tantangan kepada orang-orang yang mendustakannya dan gugahan terhadap orang-orang yang mempercayainya.

Surah Al-Qalam Ayat 2
مَآ أَنتَ بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ بِمَجۡنُونٍ

Terjemahan: “berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.

Tafsir Jalalain: مَآ أَنتَ بِنِعۡمَةِ (Kamu sekali-kali bukanlah) hai Muhammad رَبِّكَ بِمَجۡنُونٍ (orang gila, berkat nikmat Rabbmu) yang telah mengaruniakan kenabian kepadamu, dan juga nikmat-nikmat-Nya yang lain. Ayat ini merupakan jawaban terhadap perkataan orang-orang kafir, yang mengatakan bahwa Muhammad adalah orang gila.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: مَآ أَنتَ بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ بِمَجۡنُونٍ (“Berkat rahmat Rabbmu, kamu [Muhammad] sekali sekali bukan orang gila.”) maksudnya alhamdulillah engkau bukanlah seorang yang tidak waras seperti yang dikatakan oleh orang bodoh dari kaummu yang mendustakan apa yang engkau bawa kepada mereka, berupa petunjuk dan kebenaran yang nyata, sehingga mereka menyebut dirimu gila karenanya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menyatakan dengan tegas kepada Nabi Muhammad saw bahwa beliau tidak memerlukan suatu nikmat pun dari orang lain selain dari nikmat Allah. Mungkinkah Muhammad itu dikatakan seorang gila, karena memperoleh nikmat dan karunia yang sangat besar dari Allah?

Pada ayat lain dinyatakan: Dan mereka berkata, “Wahai orang yang kepadanya diturunkan Al-Qur’an, sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar orang gila.” (al-hijr/15: 6) Setelah orang-orang Quraisy mengetahui pernyataan Waraqah bin Naufal itu dan Rasulullah menyampaikan agama Islam kepada mereka, maka mereka menuduh bahwa Muhammad saw dihinggapi penyakit gila atau seorang tukang tenung yang ingin memalingkan orang-orang Quraisy dari agama nenek moyang mereka.

Oleh karena itu, mereka memerintahkan kepada kaumnya agar jangan sekali-kali mendengarkan ucapan Muhammad saw, dan jangan mempercayai bahwa yang diterimanya benar-benar agama Allah. Mungkinkah seorang manusia, seorang gila atau seorang tukang tenung dipercaya Allah menyampaikan agama-Nya?

Sehubungan dengan sikap orang-orang Quraisy itu, turunlah ayat ini untuk menguatkan risalah Muhammad saw, menguatkan hati beliau, dan mengingatkan karunia yang telah dilimpahkan kepadanya. Dengan ini, Allah mengisyaratkan bahwa agama yang benar dan berasal dari-Nya ialah agama yang mendorong manusia mencari dan menuntut ilmu-Nya yang luas, kemudian memanfaatkan ilmu itu untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan.

Setiap ilmu Allah yang diperoleh itu harus ditulis dengan pena, agar dapat dipelajari dan dibaca oleh orang lain, sehingga ilmu itu berkembang. Dengan ilmu itu juga, manusia akan dapat mencapai kemajuan. Oleh karena itu, belajar membaca dan menulis dengan pena adalah pangkal kemajuan suatu umat. Apabila manusia ingin maju, maka galakkanlah belajar menulis dan membaca.

Dengan turunnya ayat ini, hati Rasulullah saw bertambah mantap, tenang, dan kuat untuk melaksanakan tugasnya menyampaikan agama Allah. Beliau mempunyai argumentasi yang kuat pula dalam menghadapi sikap orang-orang Quraisy.

Dengan ayat ini, Allah menjawab tuduhan orang-orang Quraisy itu dengan menyuruh mereka mempelajari kembali sejarah hidup Nabi Muhammad yang besar dan tumbuh di hadapan mata kepala mereka sendiri. Bukankah sebelum ia diutus menjadi rasul, orang-orang yang mengatakannya gila itu menghormati dan menjadikannya sebagai orang yang paling mereka percayai? Apakah mereka tidak ingat lagi bahwa di antara mereka pernah terjadi perselisihan tentang siapa yang berhak mengangkat hajar Aswad dan meletakkannya pada tempatnya yang semula.

Peristiwa itu hampir menimbulkan pertumpahan darah, dan tidak seorang pun yang dapat mendamaikannya. Lalu mereka minta kepada Muhammad untuk bersedia menjadi juru damai di antara mereka. Mereka menerima keputusan yang ditetapkan Muhammad atas mereka, dan mereka menganggap bahwa keputusan yang diberikannya itu adalah keputusan yang paling adil. Mungkinkah seorang yang semula baik, dianugerahi Allah kejujuran, kehalusan budi pekerti, selalu menolong dan membantu siapa saja yang memerlukannya, dan menjadi contoh dan teladan bagi orang Quraisy, tiba-tiba menjadi gila karena ia melaksanakan perintah Tuhan semesta alam, yaitu menyampaikan agama Allah dan berhijrah ke Medinah.

Jika diperhatikan susunan ayat ini, ada suatu teladan yang harus ditiru oleh kaum Muslimin, yaitu walaupun orang-orang Quraisy telah bersikap kasar dan menyakiti hati dan jasmaninya, namun Rasulullah saw membantah tuduhan-tuduhan mereka dengan cara yang baik dan mendidik. Beliau menyuruh mereka menggunakan akal pikiran yang benar dan menggunakan norma-norma yang baik.

Tafsir Quraish Shihab: Aku bersumpah demi pena yang biasa digunakan oleh malaikat dan lainnya untuk menulis, dan demi kebaikan dan manfaat yang mereka tuliskan, bahwa sesungguhnya kamu–dengan kenabian yang diberikan oleh Allah kepadamu–bukanlah seorang yang lemah akal dan bodoh.

Surah Al-Qalam Ayat 3
وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٍ

Terjemahan: “Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٍ (Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya) tiada pernah terputus.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٍ (“Dan sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang besar yang tiada putus-putusnya.”) yakni bahkan kamu akan mendapatkan pahala yang sangat besar dan balasan yang banyak, yang tidak akan pernah putus dan tidak juga lenyap atas penyampaian risalah yang kamu lakukan kepada manusia dan kesabaranmu atas gangguan yang mereka timpakan kepadamu. Kata ghairu mamnuuni; berarti tidak akan pernah putus. Mujahid mengatakan: “Ghairu mamnuuni berarti tidak terhingga.”

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 71-72 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Pada ayat yang lalu digambarkan tuduhan orang-orang kafir Mekah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad itu gila karena berani melawan ajaran nenek moyang mereka dan terus menerus mendakwahkan ajaran baru yang bertentangan dengan ajaran mereka, yang menyembah patung-patung dan berhala, padahal semua yang dilakukan Nabi adalah atas perintah Allah.

Allah yang memberikan nikmat kepada Nabi dengan ketabahan dan semangat yang besar dalam melaksanakan dakwah. Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Nabi benar-benar memperoleh pahala yang terus menerus tiada terputus.

Maka hal ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah orang yang gila karena beliau seorang yang memperoleh pahala dari Allah Ayat ini juga termasuk yang menerangkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, karena mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad dan kaum Muslimin akan memperoleh kemenangan besar.

Berkat pertolongan dan perlindungan Allah, usaha dan jerih payahnya membawa hasil dengan tersebarnya agama Islam di Jazirah Arab, yang kemudian memancar ke seluruh penjuru dunia. Orang-orang Quraisy yang semula berkuasa dan menganut agama syirik dalam masa 23 tahun menjadi mukmin dan menjadi pembela-pembela agama Islam.

Hal ini merupakan kemenangan yang besar bagi Muhammad saw dan kaum Muslimin, dan di akhirat nanti mereka akan memperoleh balasan kenikmatan yang kekal di dalam surga. Dengan pernyataan Allah yang demikian dan isyarat yang dipahami Nabi saw dari firman-Nya itu, bertambahlah kekuatan hati, kebulatan tekad, dan kesabaran beliau dalam melaksanakan dakwah, dengan tidak menghiraukan ejekan dan tekanan tindakan orang-orang Quraisy.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya–dengan apa yang kamu alami dalam menyampaikan risalah–kamu mendapat pahala besar yang tak terputus.

Surah Al-Qalam Ayat 4
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Terjemahan: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ (Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti) beragama عَظِيمٍ (yang agung.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيم (“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Sesungguhnya engkau benar-benar berada dalam agama yang agung, yakni Islam.” Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, Abu Malik, as-Suddi, dan ar-Rabi’ bin Anas. Demikian halnya yang dikatakan oleh adh-Dhahhak dan Ibnu Zaid. ‘Athiyah mengatakan:

“Engkau benar-benar berada di dalam etika yang agung.” Ma’mar menceritakan dari Qatadah, ‘Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. maka ia menjawab: “Akhlak beliau adalah al-Qur’an.”

Demikianlah hadits ringkas dari hadits yang cukup panjang. Dan itu berarti bahwa Nabi saw. menjadi percontohan al-Qur’an, baik dalam hal perintah, larangan, sebagai karakter sekaligus perangai beliau. Beliau berperangaikan al-Qur’an dan meninggalkan perangai yang beliau bawa sejak lahir.

Apa pun yang diperintahkan al-Qur’an, maka beliau pasti akan mengerjakannya, dan apapun yang dilarangnya beliau pun pasti menghindarinya. Dan itu disertai pula dengan apa yang diberikan Allah kepada beliau berupa akhlak yang sangat agung, yaitu rasa malu, pemurah, pemberani, pemberi maaf lagi sabar, serta semua akhlak mulia, sebagaimana yang ditegaskan di dalam kitab ash-shahihain dari Anas, dia berkata:

“Aku pernah melayani Rasulullah saw. selama sepuluh tahun, selama itu pula beliau tidak pernah mengatakan: ‘Ah’, sama sekali kepadaku.

Tafsir Quraish Shihab: Ayat ini memperkuat alasan yang dikemukakan ayat di atas dengan menyatakan bahwa pahala yang tidak terputus itu diperoleh Rasulullah saw sebagai buah dari akhlak beliau yang mulia.

Pernyataan bahwa Nabi Muhammad mempunyai akhlak yang agung merupakan pujian Allah kepada beliau, yang jarang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang lain. Secara tidak langsung, ayat ini juga menyatakan bahwa tuduhan-tuduhan orang musyrik bahwa Nabi Muhammad adalah orang gila merupakan tuduhan yang tidak beralasan sedikit pun, karena semakin baik budi pekerti seseorang semakin jauh ia dari penyakit gila. Sebaliknya semakin buruk budi pekerti seseorang, semakin dekat ia kepada penyakit gila.

Nabi Muhammad adalah seorang yang berakhlak agung, sehingga jauh dari perbuatan gila. Ayat ini menggambarkan tugas Rasulullah saw sebagai seorang yang berakhlak mulia. Beliau diberi tugas menyampaikan agama Allah kepada manusia agar dengan menganut agama itu mereka mempunyai akhlak yang mulia pula. Beliau bersabda: Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia (dari manusia). (Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah)

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya kamu benar-benar berpegang teguh pada sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan baik yang telah ditetapkan Allah untukmu.

Surah Al-Qalam Ayat 5
فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ

Terjemahan: “Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat,

Tafsir Jalalain: فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ (Maka kelak kamu akan melihat dan mereka pun akan melihat.).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ (“Maka kelak kamu akan melihat dan merekapun akan melihat, ) maksudnya engkau kelak akan mengetahui hai Muhammad, dan orang-orang yang menentang dan mendustakanmu pun akan mengetahui, siapakah yang gila lagi menyesatkan, engkau ataukah mereka. Yang demikian itu seperti firman Allah:

saya’lamuuna ghadam manil kadzdzaabul asyiru (“Dan esok hari mereka akan mengetahui, siapakah yang dusta lagi sombong.”)(al-Qamar: 26) dan juga seperti firman-Nya yang lain: wa innaa au iyyaakum la-‘alaa Hudan au fii dlalaalim mubiiin (“Dan sesungguhnya kami atau kamu, pasti berada di atas petunjuk atau di atas kesesatan yang nyata.”)(Saba’: 24).

Tafsir Kemenag: Kedua ayat ini merupakan peringatan kepada kaum musyrikin dan menyatakan dengan pasti bahwa mereka benar-benar dalam keadaan sesat, karena tidak berapa lama lagi akan kelihatan kebenaran ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. Akan kelihatan kekuatan Islam dan kelemahan kaum musyrikin itu. Kaum Muslimin akan mengalahkan mereka, dan agama Islam menjadi ajaran yang tersebar luas.

Dengan keterangan ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw tidak gila, tetapi orang-orang kafir yang menolak kebenaran dan terus menerus mengikuti hawa nafsu itulah yang kehilangan akal sehat. Hal ini justru berbahaya bagi mereka karena sikap dan pendirian yang salah ini akan membawa kehancuran dan kehinaan bagi mereka.

Baca Juga:  Begini Cara Al-Quran Menjawab Patologi Sosial dari Waktu ke Waktu

Di dunia mereka akan kehilangan pengaruh dan kekuasaan seperti terjadi pada beberapa kali peperangan dengan orang Islam yaitu pada Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Di akhirat mereka pasti akan menyesali kesesatan mereka karena akan mendapat siksa yang pedih karena penolakan mereka pada dakwah Nabi Muhammad saw.

Pada hari Kiamat, semua perbuatan manusia dihisab, ditimbang, dan diperlihatkan kepada masing-masing mereka. Di saat itu, kaum musyrikin melihat dengan nyata, siapakah di antara mereka yang benar, apakah Rasul yang mereka tuduh gila ataukah mereka sendiri? Di sini tampak dengan jelas bahwa Nabi Muhammad saw adalah yang benar, sedangkan mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahanam. Firman Allah: Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta (dan) sombong itu. (al-Qamar/54: 26).

Tafsir Quraish Shihab: Dari dekat, kamu dan orang-orang kafir akan melihat siapa di antara kalian yang gila.

Surah Al-Qalam Ayat 6
بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ

Terjemahan: “siapa di antara kamu yang gila.

Tafsir Jalalain: بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ (Siapakah di antara kalian yang gila) yang tidak waras akalnya, kamukah atau mereka. Lafal al-maftuun ini wazannya sama dengan lafal al-ma`quul, berasal dari mashdar al-futuun, artinya gila.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ ( siapa diantara kamu yang gila.”) maksudnya engkau kelak akan mengetahui hai Muhammad, dan orang-orang yang menentang dan mendustakanmu pun akan mengetahui, siapakah yang gila lagi menyesatkan, engkau ataukah mereka. Yang demikian itu seperti firman Allah:

saya’lamuuna ghadam manil kadzdzaabul asyiru (“Dan esok hari mereka akan mengetahui, siapakah yang dusta lagi sombong.”)(al-Qamar: 26) dan juga seperti firman-Nya yang lain: wa innaa au iyyaakum la-‘alaa Hudan au fii dlalaalim mubiiin (“Dan sesungguhnya kami atau kamu, pasti berada di atas petunjuk atau di atas kesesatan yang nyata.”)(Saba’: 24).

Tafsir Kemenag: Kedua ayat ini merupakan peringatan kepada kaum musyrikin dan menyatakan dengan pasti bahwa mereka benar-benar dalam keadaan sesat, karena tidak berapa lama lagi akan kelihatan kebenaran ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. Akan kelihatan kekuatan Islam dan kelemahan kaum musyrikin itu.

Kaum Muslimin akan mengalahkan mereka, dan agama Islam menjadi ajaran yang tersebar luas. Dengan keterangan ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw tidak gila, tetapi orang-orang kafir yang menolak kebenaran dan terus menerus mengikuti hawa nafsu itulah yang kehilangan akal sehat. Hal ini justru berbahaya bagi mereka karena sikap dan pendirian yang salah ini akan membawa kehancuran dan kehinaan bagi mereka.

Di dunia mereka akan kehilangan pengaruh dan kekuasaan seperti terjadi pada beberapa kali peperangan dengan orang Islam yaitu pada Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Di akhirat mereka pasti akan menyesali kesesatan mereka karena akan mendapat siksa yang pedih karena penolakan mereka pada dakwah Nabi Muhammad saw.

Pada hari Kiamat, semua perbuatan manusia dihisab, ditimbang, dan diperlihatkan kepada masing-masing mereka. Di saat itu, kaum musyrikin melihat dengan nyata, siapakah di antara mereka yang benar, apakah Rasul yang mereka tuduh gila ataukah mereka sendiri? Di sini tampak dengan jelas bahwa Nabi Muhammad saw adalah yang benar, sedangkan mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahanam. Firman Allah: Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta (dan) sombong itu. (al-Qamar/54: 26).

Tafsir Quraish Shihab: Dari dekat, kamu dan orang-orang kafir akan melihat siapa di antara kalian yang gila.

Surah Al-Qalam Ayat 7
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ

Terjemahan: “Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Tafsir Jalalain: إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ (Sesungguhnya Rabbmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang Paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) lafal a`lamu di sini bermakna ‘aalimun, yakni Dia mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Tafsir Ibnu Katsir: إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ (“Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang Paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia lah Yang Paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”) maksudnya Allah Ta’ala mengetahui, kelompok manakah di antara kalian dan juga mereka yang mendapat petunjuk dan juga mengetahui kelompok yang tersesat dari kebenaran.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menegaskan lagi pernyataan-Nya pada ayat dahulu dengan mengatakan kepada Nabi Muhammad saw bahwa orang-orang musyrik itu pasti mengetahui perbuatan-perbuatan nyata yang telah dilaksanakannya. Allah dan Nabi Muhammad lebih mengetahui siapa yang menyimpang dari jalan yang benar yang telah dibentangkan untuknya sehingga mereka memperoleh kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat.

Allah mengetahui pula siapa yang mengikuti jalan yang benar sehingga memperoleh segala yang mereka inginkan yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, tindakan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar, karena itu mereka akan merasakan kesengsaraan di dunia, seperti kekalahan dalam peperangan dan kehancuran kepercayaan mereka dan di akhirat mereka mendapat azab yang pedih.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Tuhanmulah yang Mahatahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang Mahatahu orang-orang berakal yang mendapat petunjuk.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Qalam Ayat 1-7 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S