Kitab “Hadzihi Mafahimuna”, Narasi Sesat Wahabi (Bagian II)

Kitab "Hadzihi Mafahimuna", Narasi Sesat Wahabi (Bagian II)

PeciHitam.org Narasi yang terbangun dalam kitab Hadzihi Mafahimuna adalah sangat tidak pantas karena membenturkan Imam Syafii, seorang Alim ‘Alamah dan Imam Madzhab. Ketidak-pantasan pembenturan Rasul dan Ulama karena Ulama sendiri adalah penerus Nabi SAW.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Niscaya tidak akan berkembang Islam jika bukan karena jasa dan kontribusi Ulama. Lintasan sejarah cukup menjadi bukti bahwa Ulama adalah ujung tombak agama Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW, Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi li Tabiin. Berikut kelanjutan artikel Narasi Sesat Wahabi Bagian kedua!

Narasi Kitab Hadzihi Mafahimuna dan Jawaban Sayyid Alawi al-Maliki

Narasi yang dibangun dalam kitab hadzihi mafahimuna adalah nalar pemikiran yang sangat rancu dan konyol, dengan mengubukan Rasul dan Ulama. Perkataan Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz yaitu;

هذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم حكم بان البدعة كلها ضلالة وجرأ الشفعي وقسم حسنة وسيئة

Artinya; ‘Inilah Nabi Muhammad SAW, (beliau) menghukumi semua Bid’ah adalah sesat. Dan Imam Syafii dengan ‘lancang’ membagi Bid’ah menjadi dua yaitu Hasanah (Baik) dan Buruk’.

Narasi tersebut dengan sengaja memojokan qaul atau pendapat Imam Syafii sebagai biang menjamurkan bid’ah dikalangan umat Islam. pun yang dipertentangkan oleh Bin Baz adalah Rasulullah SAW, panutan umat Islam sedunia termasuk Imam Syafii RA. Pun Imam Syafii dalam beristinbath hukum bisa dipastikan merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.

Menanggapi klaim sepihak Mufti Arab Saudi yang wafat setahun sebelum Milenial baru (1999 M) tersebut, Sayyid Alawi al-Maliki menjawab dalam sebuah kitab. Jawaban dalam bentuk kitab tersebut dinamakan dengan Mafahim Yajibu an-Tushahah.

Tujuan dari kitab tersebut adalah meluruskan Pemahaman klaim Bid’ah dan Syirik yang biasa dilontarkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jamaah. Laiknya seperti Hobi, Wahabi Salafi sering menuduh tradisi atau ibadah yang mereka tidak sukai sebagai bid’ah, syirik, takhayul atau churafat.

Mayoritas tuduhan tersebut adalah tuduhan buta yang mana ketika diberikan dalil kuat mereka tetap menolak. Simpulannya adalah penolakan golongan wahabi salafi kepada kaum Ahlussunnah wal Jamaah berasal dari rasa tidak suka, tidak lebih.

Baca Juga:  Sejarah Lengkap Gerakan Wahhabisme dari Masa ke Masa

Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani menjelaskan bahwa tidak semua perbuatan yang tidak dicontohkan Nabi SAW adalah bid’ah. Karena banyak Sahabat yang mengkreasikan bacaan Ibadah kemudian Nabi SAW menyetujuinya. Kaidah ini kemudian dikenal dengan hadits Taqririyah yang mungkin tidak banyak diketahui oleh golongan Wahabi-Salafi.

Penjelasan Argumentasi Sayyid Maliki

Penjabaran penjelasan untuk menerangkan bahwa tidak semua perbuatan yang tidak dilakukan Nabi SAW adalah bid’ah adalah sebagai berikut;

Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani menjelaskan bahwa doa mainstream yang dibaca Nabi SAW ketika I’tidal (berdiri dari Ruku’) adalah bacaan dalam riwayat;

إِذَا قَالَ الإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ . فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Baca Juga:  Makkah Menjadi Standar Kebenaran? Sepertinya Wahabi Terinspirasi Kaum Jahiliyah

Artinya; “Jika imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka hendaklah kalian mengucapkan ‘robbana wa lakal hamdu’. Karena siapa saja yang ucapannya tadi berbarengan dengan ucapan malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan dihapus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi ada Sahabat yang membaca tidak seperti doa mainstream yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Setelah selesai, Nabi bertanya kepada sahabat yang ikut Jamaah dibelakang beliau, dan tidak satupun sahabat yang berani mengaku. Kemudian Rasulullah SAW bersabda;

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

Artinya; “Aku melihat ada 30-an malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih duluan mencatat amalannya.”  (HR. Bukhari)

Setelah mensabdakan demikian, Sahabat yang membaca bacaan anti-mainstream menunjukan tangan dan mengaku. Bahwa doa yang dibaca sahabat tersebut adalah;

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Artinya; “Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah”.

Hadits ini diriwayatkan dari RIfa’ah bin Rafi’ yang mana menunjukan kepada kita bahwa Nabi SAW tidak pernah mengajarkan doa demikian. Faktanya, Rasulullah SAW membenarkan bahkan mengatakan bahwa karena doa tersebut, banyak malaikat berebut untuk mendoakan Sahabat yang membacanya.

Baca Juga:  Membantah Pendapat Wahabi Tentang Larangan Melagukan Al-Quran

Maka teori tidak semua yang tidak dilakukan Nabi SAW adalah bid’ah gugur dengan sendirinya. Maka pandangan Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz adalah salah besar kepada Imam Syafii dengan membagi bid’ah kedalam dua jenis, Baik dan Buruk.

Pendapat Imam Syafii adalah bentuk tashil mempermudah penjelasan kepada Umat, agar tidak terjebak dalam bid’ah yang sesat. Dan pendapat Bin Baz dalam hal ini mentah dihadapan qaul Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitab Mafahim Yajibu an-Tushahah.

Perdebatan dua kitab tersebut menjelaskan betapa aneh dan sesatnya nalar wahabi – salafi ketika bersemangat menyalahkan orang ahli tauhid.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan