Inilah Tiga Tahap Perkembangan Institusi Atau Organisasi Tarekat Menurut Harun Nasution

Inilah Tiga Tahap Perkembangan Institusi Atau Organisasi Tarekat Menurut Harun Nasution

Pecihitam.org- Salah satu contoh dari perkembangan institusi atau organisasi tarekat sebagaimana menurut Harun Nasution secara garis besar melalui tiga tahap yaitu tahap khanaqah, tahap tariqah dan tahap ta’ifah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, Tahap khanaqah atau pusat pertemuan sufi, dimana syekh menjadi mursyid yang dipatuhi, dan syekh memiliki sejumlah murid yang hidup bersama-sama di bawah peraturan yang tidak ketat.

Mereka melakukan latihan-latihan spiritual dan kontemplasi yang dilakukan secara individual dan secara kolektif. Hal ini terjadi sekitar abad 10 M, aristokratis merupakan bentuk dari gerakan ini.

Masa khanaqah ini adalah masa keemasan tasawuf. Biasanya adanya seorang guru sufi yang memiliki banyak murid atau pengikut, dapat melahirkan sebuah persaudaraan sufi.

Pada abad ke-11 M persaudaraan sufi banyak tumbuh di negerinegeri Islam. Mula-mula ia merupakan gerakan lapisan elit masyarakat Muslim, tetapi lama kelamaan menarik perhatian masyarakat lapisan bawah.

Banyak dari orang-orang Islam memasuki tarekat-tarekat sufi pada abad ke-12 M. Pada waktu itu Kanqah menjadi pusat tempat kegiatan mereka, yaitu sebuah pusat latihan sufi yang banyak terdapat di Persia dan wilayah sebelah timur Persia.

Baca Juga:  Pentingnya Guru dan Sanad Yang Jelas Dalam Ilmu Agama

Kanqah bukan hanya sekedar pusat para sufi berkumpul, namun di sanalah mereka melakukan latihan dan kegiatan spiritual, dan pendidikan serta pengajaran formal, termasuk dalam hal kepemimpinan.

Pusat kebudayaan dan agama merupakan salah satu fungsi penting lain dari kanqah. Sebagai pusat kebudayaan dan agama, lembaga kanqah mendapat subsidi dari pemerintah, bangsawan kaya, saudagar, dan organisasi atau perusahaan dagang. Ketika Baghdad ditaklukkan tentara Mongol pada abad ke-13 M, kanqah, ribat dan zawiyah memiliki fungsi banyak.

Oleh karena itu tidak heran jika di berbagai tempat organisasi kanqah tidak sama. Ada Kanqah yang menerima bantuan khusus dari kerajaan, ada juga yang mendapatkan dana dari sumber swasta yang berbeda-beda, salah satunya dari sumbangan para anggota tarekat.

Kanqah yang memperoleh dana dari anggotanya sendiri atau mencari sendiri memiliki sebutan yakni futuh (kesatria), dan mengembangkan etika futuwwa (semangat kesatria). Dalam system organisasi Kanqah dipimpin oleh seorang guru yang terkemuka, yang disebut amir majlis.

Baca Juga:  Pengertian Al Qur’an Hadits dan Ijtihad, Muslim Harus Paham!

Kedua, Tahap Tariqah. Sekitar abad 13 M, adalah masa terbentuknya ajaran-ajaran, peraturan, dan metode tasawuf. Pada masa ini muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf, serta masa dimana berkembangnya metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Allah swt.

Ketiga, Tahap Ta’ifah Terjadi sekitar abad 17 M. Disini terjadi transmisi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Pada masa ini, mulai bermunculan organisasi-organisasi tasawuf yang memiliki cabang-cabang ditempat lain.

Pada tahap ta’ifah inilah tarekat mengandung arti lain, yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu, seperti halnya tarekat Qadiriyah, tarekat Naqyabandiyah, serta tarekat Syadziliyah.

Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap kehidupan tasawuf di beberapa Negara Islam, istilah tarekat yang populer pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi adalah Almaqaamaat dan Al-ahwaal yang mengandung pengertian sebagai pendidikan rohani yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan tasawuf.

Baca Juga:  Bolehkah Seseorang Melakukan Ibadah Namun Mengharap Surga?

Selanjutnya pada abad ke-9 tarekat juga populer sebagai suatu perkumpulan yang didirikan menurut aturan yang telah dibuat oleh seorang syekh yang menganut suatu aliran tertentu, lalu diamalkan bersama dengan murid-muridnya. Sebagai model era modern menampak dalam sebuah sistem pendidikan pesantren di Nusantara, khususnya di Jawa.

Mochamad Ari Irawan