Inilah Pengertian Khauf / Takut dalam Ilmu Tasawuf Menurut Para Ulama

Inilah Pengertian Khauf / Takut dalam Ilmu Tasawuf Menurut Para Ulama

Pecihitam.org- Khauf atau Takut merupakan maqam para pesuluk dan ahwal (pengalaman ruhani) para thalibin. Dinamakan ahwal selama bersifat sementara dan dapat hilang atau muncul kembali. Sedangkan dinamakan maqam jika telah teguh.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pengertian kata khauf berasal dari bahasa Arab terdiri dari tiga huruf, yaitu kha’, waw, fa’ yang berarti menunjukkan gentar dan terkejut. Pengertian kata khauf menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata benda yang memiliki arti ketakutan atau kekhawatiran.

Khawatir adalah kata sifat yang bermakna takut, gelisah, atau cemas terhadap sesuatu yang belum diketahui dengan pasti. Khauf artinya perasaan takut yang muncul terhadap sesuatu yang mencelakakan, berbahaya atau mengganggu.

Jadi Pengertian khauf secara bahasa adalah rasa khawatir atau takut terhadap sesuatu di masa depan yang belum diketahui dengan pasti dan dianggap membawa suatu bahaya atau keburukan.

Secara terminologi khauf merupakan suatu sikap mental yang merasa takut kepada Allah karena kurang sempurnanya suatu pengabdian seorang hamba.

Baca Juga:  Mengenal Konsep Tarekat Kebatinan Kawruh Begja Ki Ageng Suryomentaram

Menurut Qusyairiyah takut mempunyai arti yang berhubungan dengan masa yang akan datang, karena orang akan takut menghalalkan yang makruh dan meninggalkan yang sunah.

Hal ini tidak begitu penting kecuali jika membawa dampak positif di masa depan. Jika sekarang hal itu muncul, maka pengertian takut tidak terkait. Sedangkan pengertian takut kepada Allah ialah takut kepada siksaan Allah baik di dunia maupun di akhirat.

Al-Falluji berpendapat bahwa khauf adalah suatu bentuk kegelisahan ketika seseorang memperkirakan sesuatu yang ia benci akan menimpanya. Senada dengan pendapat diatas, Muhammad Quraisy Shihab dalam tafsir Al-Misbah menjelaskan, khauf adalah keguncangan hati karena menduga akan adanya bahaya.

Kata khauf digunakan untuk menandakan adanya perasaan tentang bahaya yang dapat mengancam, sehingga yang bersangkutan mencari cara atau jalan keluar untuk mengindari atau mengatasinya.

Ibn Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahwa takut kepada Allah SWT itu hukumnya wajib. Karena takut kepada Allah itu dapat mengantarkan hamba untuk selalu beribadah kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan.

Baca Juga:  Ibn Athaillah dan Karakter Tasawuf Yang Dimilikinya

Siapa yang tidak takut kepada-Nya, berarti ia seorang pendosa, pelaku maksiat. Karena tidak takut kepada Allah, koruptor semakin merajalela, semakin serakah, dan tidak lagi memiliki rasa malu.

Az-Zarkasy dalam al-Burhan al-Khauf adalah rasa takut yang ditimbulkan karena lemahnya pihak yang merasa takut, kendatipun pihak yang ditakuti itu hal yang sangat kecil.

Nashrudin Baidan dalam karyanya yang berjudul “Wawasan Baru Ilmu Tafsir” al-Khauf merupakan rasa takut biasa yang wajar terjadi pada setiap mahkluk.

Dalam tafsir Al-Misbah, Quraisy Shihab mengatakan bahwa, khauf merupakan tingkatan takut yang paling rendah, sedangkan tingkatan yang lebih tinggi lagi disebut khasyyah, yaitu takutnya orang-orang khusus yang disertai dengan ma’rifatullah, seperti nabi dan para ulama’.

Berdasarkan berbagai uraian tentang pengertian khauf diatas, maka khauf adalah perasaan takut, gelisah atau khawatir akan adanya sesuatu yang mengancam atau menimbulkan bahaya di masa mendatang, dan perasaan takut tersebut ada pada setiap muslim. Sedangkan tingkatan takut yang lebih tinggi dari khauf disebut khasyyah.

Baca Juga:  Jalan Tasawuf Sebagai Solusi Disintegrasi Bangsa

Takut kepada Allah adalah penting dalam kehidupan seorang Mukmin. Sebab rasa takut itu mendorongnya untuk takwa kepada Allah dan mencari ridha-Nya, mengikuti ajaran-ajaran-Nya, meninggalkan larangan-Nya, dan melaksanakan perintah-Nya.

Rasa takut kepada Allah dipandang sebagai salah satu tiang penyangga iman kepada-Nya dan merupakan landasan penting dalam pembentukan kepribadian seorang Mukmin.

Mochamad Ari Irawan