Menelusuri Jejak Sejarah Peninggalan Kesultanan Banten di Bumi Lampung

Peninggalan Kesultanan Banten di Bumi Lampung

Pecihitam.org – Lampung secara geografis, daerah tersebut merupakan daerah yang berada di ujung  pulau Sumatera. Selain menjadi salah salah satu daerah yang berada di ujung pulau, daerah Lampung juga terkenal dengan rempah-rempahnya. Seperti lada (merica) yang menjadi komoditas utama perdagangan, sehingga selalu menjadi rebutan antar pusat kekuasaan di Sumatera dan Jawa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jika kita melihat sejarah, jika masa klasik (Hindu dan Budha), daerah ini menjadi perebutan oleh dua kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit. Namun di masa kerajaan Islam, daerah Lampung diperebutkan oleh Kesultanan Palembang dan Banten.

Menurut silsilah masyarakat Lampung, agama Islam masuk ke Lampung selama kurun waktu 1500-1800 yang dikenal dengan Zaman Baru; ditandai dengan dakwah ulama Pagaruyung (Sumatera Barat) yang melakukan islamisasi di wilayah barat Lampung tepatnya di dataran tinggi Gunung Pesagi sekitar abad XIV-XV.

Bukti arkeologis versi kedua ini adalah pepadun yang menurut cerita tutur masyarakat Lampung digunakan untuk mengislamkan orang-orang Lampung yang semula menganut agama Hindu, Budha, dan penganut animisme/dinamisme.

Baca Juga:  5 Pencapaian Pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid

Kemudian dalam sebuah buku yang berjudul “ Peninggalan Kebudayaan Islam Lampung ” dari Dinas Kebudayaan Provinsi Lampung. Di dalam buku tersebut menjelaskan bahwa pengaruh Islam yang ada di Lampung berasal dari Aceh, dengan bukti arkeologis sebuah nisan yang ditemukan di Kampung Muara Batang, Kecamatan Palas, Lampung Selatan pada tahun 1971. Batu nisan ini mempunyai bentuk dan motif yang sama dengan batu nisan Sultan Malik ashShaleh di Pasai.

Namun dalam Versi ketiga menyatakan bahwa Islam masuk ke Lampung melalui Banten, dimulai dengan dakwah Islamiyyah oleh para muballigh dari Banten, dan perkawinan politis antara penguasa Banten, yakni Fatahillah dengan Puteri Sinar Alam (dari Keratuan Pugung).

Makam ulama keturunan Banten yang ditemukan di Lampung Selatan adalah bukti arkeologis keberadaan ulama Banten yang menyebarkan Islam di Lampung. Hal ini dapat dilihat dari kesederhanaan bentuk kuburan yang memiliki karakter megalitik, yaitu memperlihatkan pola bangunan punden tanpa unsur-unsur tekstual maupun ornamental yang bernafaskan Islam.

Baca Juga:  Potret Peradaban Islam di Spanyol, dari Masa Jaya Hingga Runtuhnya

Situs serupa ditemukan di Dusun Dadak, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Selain itu, ditemukan pula nisan dan makam tipe Banten yang berasal dari abad XVI di kompleks pemakaman Islam Wonosobo, Kabupaten Tanggamus.

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Heriyanti Ongkodharma Untoro yang berjudul “Kapitalisme Pribumi awal Kesultanan Banten 1522-1684: Kajian Arkeologi-Ekonomi “.Disebutkan dalam Sajarah Banten bahwa pada masa Sultan Hasanuddin kekuasaannya hingga Lampung, Indrapura, Solebar, dan Bengkulu.

Wilayah kekuasaan di Sumatra ini banyak menghasilkan lada (merica) yang sangat berperan dalam perdagangan di Banten, sehingga membuat Banten menjadi kota pelabuhan penting yang disinggahi kapal-kapal dagang dari Cina, India, bahkan Eropa. Keadaan seperti ini berlangsung dari pertengahan abad XVI hingga akhir abad XVIII.

Berkaitan dengan hal di atas, terdapat beberapa prasasti di daerah Lampung yang menunjukkan pengaruh Kesultanan Banten di daerah Lampung, di antaranya Piagam/Prasasti Kuripan; ditemukan di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan dan berisi perjanjian persahabatan antara Banten dan Lampung masa kekuasaan Sultan Hasanuddin dan Keratuan Dara Putih.

Baca Juga:  Ketika Kolonialisme Membunuh Perdagangan Saudagar Muslim Nusantara

Selain itu, ditemukan juga Piagam Bojong/Prasasti Dalung Bojong yang memuat amar peraturan Sultan Banten mengenai tata pelayaran, administrasi pemerintahan, dan sistem perdagangan di Lampung. Kajian terhadap prasasti ini menjadi penting untuk menelusuri jejak Kesultanan Banten di Lampung pada abad XVII.

M. Dani Habibi, M. Ag