Reaktivasi Dua Warisan Leluhur Bangsa Sebagai Wujud Persatuan

kesaktian pancasila

Pecihitam.org – “Kulihat Ibu Pertiwi Sedang Bersusah Hati, Air Matamu Berlinang Mas Intanmu Terkenang” lagu Ibu Pertiwi tiba-tiba menjadi viral mengiringi soundtrack beberapa video terkait masalah yang sedang dialami Negara Indonesia, mulai dari demonstrasi mahasiswa yang memakan korban, gempa di ambon, dan sampai kepada masalah yang terjadi di Papua. Entah apa yang sedang menimpa Indonesia, entah ini sebagai sebuah bencana, ujian atau teguran, wallahu a’lam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Masalah keragaman agama, suku, dan budaya merupakan hal yang sangat sensitif yang membutuhkan perhatian lebih dalam menjaga keutuhan keragaman tersebut. Karena persoalan kecil saja dapat menjadi besar jika menyentuh ketiga hal sensitif tersebut.

Perlu dipahami bahwa keragaman-keragaman yang ada baik dalam ruang lingkup suku, agama, dan budaya bukanlah suatu masalah. keragaman bukanlah sebuah ancaman dan bencana, keragaman itulah yang justru menjadi kekayaan tersendiri dalam khazanah peradaban manusia. Karena keragaman adalah wujud kemajuan suatu peradaban manusia dari waktu ke waktu sesuai dengan wilayahnya masing-masing, dan dari keragaman itu juga bisa dihasilkan pengetahuan yang baru, baik melalui proses akulturasi, asimilasi, maupun difusi kebudayaan itu sendiri.

Baca Juga:  Pancasila Memang Bukan Wahyu Ilahi, Namun Ia Fikrul Islami

Negara Indonesia telah jauh melewati masalah yang terkait dengan keragaman karena Negara kita memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika berbeda-beda namun tetap satu, namun seiring berjalannya waktu seakan semboyan ini telah luntur dan terlupakan, maka dari itu perlu kembali menyegarkan dan mendalami makna semboyan tersebut, dan perlu diingat bahwa para pahlawan kita dari Sabang sampai Merauke telah berjuang bersama membuang ego masing-masing, untuk melawan penjajahan.

Bhineka Tunggal Ika berarti meskipun kita berbeda-beda dalam hal suku, budaya, agama, dan adat istiadat namun kita tetap satu. Keragaman yang ada tidak menjadikan kita terpecah-belah, justru menjadikan kita semakin Dewasa. Dan Faktanya keragaman budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik wisatawan dalam negeri dan wisatawan asing untuk menjelajahi keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Baca Juga:  Islam Tradisional, Pesantren dan Tantangan Masa Depan

Keberagaman agama juga bukanlah sebuah masalah, karena pada prinsipnya kita memegang teguh kepercayaan kita masing-masing, semua agama bersaudara dalam kemanusiaan, seperti halnya kita sebagai bangsa Indonesia diikat oleh ikatan persaudaraan senasib dan sepenanggungan, walaupun kita berbeda dalam hal budaya, ideologi dan teologi. Kita memiliki tugas bersama menciptakan kedamaian dan ketenangan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Negara Indonesia juga memiliki Pancasila sebagai Ideologi Negara yang menyatukan bangsa, sudah seharusnya nilai-nilai dalam setiap sila Pancasila dihayati dan dijalankan bersama. Membuang ego masing-masing demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang aman dan damai.

Konflik yang terjadi hanya melahirkan kerugian bagi bangsa sendiri, negara yang di dalamnya terjadi konflik susah untuk maju dan berkembang karena misalnya saja dana yang seharusnya bisa digunakan untuk mencerdaskan bangsa beralih kepada penyelesaian konflik. Banyak negara di luar sana yang bisa menjadi contoh betapa sengsaranya dan memprihatinkannya negara yang ditimpa konflik berkepanjangan.

Baca Juga:  Pancasila Sudah Final Bagi Bangsa Indonesia! Tidak Bisa Ditawar-Tawar Lagi

1 Oktober diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila yang baru saja kita peringati, peringatan ini muncul berdasarkan SK No 153/1967 27 September 1967 oleh Presiden Jenderal Soeharto, yang dilatarbelakangi peristiwa tragedi berdarah yang menewaskan enam jenderal pada 30 september 1965.

Sebagai momentum hari kesaktian Pancasila, maka sebaiknya para tokoh agama dan tokoh adat duduk bersama menyuarakan perdamaian dan mengokohkan persatuan bangsa karena kita semua bersaudara. Bangsa yang satu akan menjadi bangsa yang kuat dan maju. Oleh karena itu reaktivasi dua warisan leluhur bangsa yaitu Pancasila dan Semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah salah satu langkah untuk mengatasi berbagai kesenjangan dan permasalahan yang terkait dengan keragaman.

Khalil Nurul Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *