Pentingnya Sikap Sabar dalam Menerima Ujian

sabar dalam menerima ujian

Pecihitam.org – Menerima ujian atau menerima nikmat, kita semua tak akan terlepas dari dua kondisi tersebut. Bila kita diuji atau ditimpa musibah, maka harus sabar dalam menerima ujian -inilah hal terendah yang harus dilakukan dan hadapilah dengan penuh keberanian- dan ini yang lebih tinggi dari sekedar bersabar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian, hendaknya kita ridha dengan takdir Allah dan selaraskanlah dirimu dengan kehendak Allah. Akhirnya, lenyapkanlah dirimu di dalam kehendak-Nya. Inilah kondisi ruhani para wali abdal.

Sementara jika kita tengah diberi nikmat, berusahalah untuk bersyukur, baik dengan lisan, hati maupun organ-organ tubuh. Bersyukur dengan lisan itu dilakukan dengan cara mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah, tidak menyandarkan nikmat itu kepada makhluk, baik itu dari dirimu sendiri, maupun orang lain.

Sebab, baik dirimu maupun orang lain hanyalah sarana datangnya nikmat. Sedangkan pemberi nikmat yang sejati dan faktor utama datangnya nikmat itu hanyalah Allah Swt. sehingga, Dialah yang paling berhak mendapat rasa syukur, bukan yang lain. Oleh karena itu kita wajib sabar menerima ujian dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.

Pandangan kita tidaklah tertuju kepada bocah kecil yang menerima sebuah hadiah, tetapi pandangan kita akan tertuju kepada guru yang memberinya hadiah.

Barang siapa hanya melihat hal yang tampak dan sarana dari datangnya sebuah nikmat, sedangkan pengetahuan dan makrifatnya tak mampu menembus faktor utama di balik itu, sejatinya dia manusia yang bodoh dan rendah akalnya. Seorang yang berakal disebut berakal karena dia mampu memahami hal-hal yang tak tampak.

Baca Juga:  Arus Besar Metode Ushul Fiqih dalam Islam

Adapun bersyukur dengan hati, dilakukan dengan kayakinan abadi dan janji yang teguh bahwa segala nikmat, kebaikan, dan kenikmatan (baik lahir maupun batin) di dalam gerak maupun diammu, adalah berasal dari Allah, bukan yang lain. Dalam hal ini, rasa syukurmu melalui lisan menyatakan isi hatimu.

Sedangkan bersyukur dengan anggota tubuh dilakukan dengan menggerakkan dan menggunakannya untuk menjalankan ibadah kepada Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya, bukan untuk siapa pun selain Dia. Karenanya, jangan sekali-kali menaati makhluk dalam hal yang bertentangan dengan perintah Allah.

Siapa pun itu, termasuk hawa nafsu, kehendak, angan-angan, dan seluruh makhluk lainnya. Jadikanlah kataatan terhadap Allah sebagai dasar sekaligus pemimpin yang harus kau ikuti, dan jadikanlah segala sesuatu selain Dia sebagai cabang sekaligus objek yang dipimpin.

Bila kita bertindak lain, berarti kita telah menyimpang dari jalan lurus, tidak sabar menerima ujian, berbuat aniaya, menjalankan keputusan dengan selain hukum Allah yang ditetapkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dan menempuh jalan di luar jalannya orang-orang shaleh.

Allah Swt berfirman:

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS. Al-Maidah: 44)

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim”. (QS. Al-Maidah: 45)

Jika itu yang kita lakukan, maka tempat terakhirmu adalah neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan. Bila kau tak tahan dengan demam selama satu jam saja, atau dengan sedikit saja jilatan api yang mengenai tubuhmu di dunia ini, maka bagaimana mungkin kau bisa tahan berada di neraka bersama penghuni-penghuninya selamanya?

Baca Juga:  Kisah Abu Yazid al Busthami Mengobati Orang dengan Penyakit Bangga Diri

Selamatkanlah dirimu, selamatkanlah dirimu! Segeralah, segeralah! Berlindunglah kepada Allah Swt, berlindunglah kepada Allah!

Perhatikanlah dua kondisi di atas berikut syarat-syaratnya. Sebab kau tak akan lepas dari dua kondisi ini sepanjang hayat: diuji atau diberi nikmat. Berilah setiap kondisi itu hak-haknya, yaitu kesabaran dan rasa syukur, sebagaimana yang telah dipaparkan.

Jangan sekali-kali mengeluh kepada makhluk saat kau menerima ujian atau musibah. Jangan menunjukkan kegundahanmu kepada siapa pun, jangan menyalahkan Tuhanmu di dalam benakmu, dan jangan ragukan kebijaksanaan-Nya.

Pilihlah yang terbaik bagi dunia dan akhiratmu. Janganlah berharap kepada orang lain untuk melepaskanmu dari malapetaka, sebab, dengan begitu, berarti kau menyekutukan-Nya. Segala sesuatu adalah milik Allah dan tak ada satu makhluk pun yang turut memilikinya bersama Dia.

Tidak ada yang mampu memberikan madharat dan manfaat, mendatangkan kebahagiaan atau penyakit, menurunkan ujian atau menyembuhkan, kecuali Allah semata.

Oleh karena itu, janganlah kau disibukkan oleh makhluk, baik lahir maupun batin. Sebab mereka tidak mempunyai daya dan upaya apapun terhadapmu. Sebaliknya, hendaknya kau selalu bersabar, ridha, menyesuaikan diri dengan Allah dan melenyapkan diri dalam perbuatan-Nya.

Baca Juga:  Penting! Inilah Kalimat yang Dilarang Terucap Saat Berdoa

Bila kita tak dapat melakukan ini semua, hendaknya kita memohon pertolongan-Nya, merendahkan diri kepada-Nya seraya menyadari kemalangan diri, mensucikan Dia, menegaskan keesaan-Nya, mengakui nikmat-nikmat-Nya, membebaskan diri dari segala kesyirikan, memohon kesabaran, keridhaan, dan keselarasan dengan-Nya, sampai waktunya tiba.

Sehingga, musibah itu pun akan berakhir, segala kesulitan teratasi, kenikmatan, kelapangan, kebahagiaan, dan keceriaan datang bertubi-tubi. Hal ini sebagaimana terjadi pada diri Nabi Ayyub as., atau seperti gelapnya malam yang berganti cerahnya malam. Sebab, segala sesuatu ada kebalikan atau lawannya, segala sesuatu ada awal dan akhirnya.

Terkadang, syukur itu berbentuk rasa senang menikmati karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu. Maka, syukurmu adalah menikmati karunia-Nya dalam keadaan lenyapnya diri, hawa nafsu, serta penjagaanmu.

Dan inilah kondisi ruhani para wali abdal. Inilah terminal akhir mereka. Ambillah pelajaran dari apa yang telah dipaparkan kepada kita ini, niscaya kita akan mendapatkan bimbingan-Nya serta kita sabar menerima ujian dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Insya Allah.

Sumber: Futuhul Ghaib, Jalan Rahasia menuju Allah.