Sepak Terjang Gus Dur, Mengatasi Masalah Tanpa Masalah

Sepak Terjang Gus Dur, Mengatasi Masalah Tanpa Masalah

Pecihitam.org – Sepeninggal Gus Dur sosok guru bangsa yang selalu menanamkan benih-benih hikmah perdamaian banyak dirindukan masyarakat Indonesia, bahkan di seluruh penjuru dunia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kekaguman terhadap sosok KH Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur ini menjadi kebanggan tersendiri. Pasalnya, Gus Dur selalu memberikan kedamaian di tengah suhu panas konflik politik.

Seorang Gus Dur yang menjadi guru bangsa kerapkali menjadi rujukan banyak orang dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian. Semenjak kepergian beliau, tahun demi tahun selalu terjadi konflik yang banyak menyisakan kepiluan dalam masyarakat Indonesia.

Baik kasus krisis kemanusiaan maupun kasus intoleransi berdarah di Indonesia yang semakin merebak dimana saja.

Sepak terjang seorang Gus Dur dalam mendamaikan konflik politik selalu menjadi penengah di antara kelompok. Seperti yang diungkapkan Yenny Wahid, Gus Dur selalu membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk meminimalisir terjadinya konflik yang berkepanjangan.

Kita bisa kembali mengingat bersama saat Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI saat itu banyak yang tidak suka dengan pemikiran Gus Dur. Pemikiran Gus Dur ini terbilang out of the box dan tidak terbayangkan oleh semua orang.

Baca Juga:  Ini Hujjah Peringatan Haul yang Dianggap Bid'ah Tercela oleh Salafi Wahabi

Bahkan, banyak orang tidak menyangka Gus Dur dalam menyelesaikan konflik dan perdamaian selalu menanamkan benih-benih positif kepada semua pihak. Misalnya saat menyelesaikan gerakan separatis yang muncul di berbagai belahan dunia.

Pada saat Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI, ia begitu gigih dalam upayanya mendamaikan konflik GAM (gerakan Aceh merdeka) di Aceh.

Yang dilakukan Gus Dur adalah mempertemukan Hasan Tiro (deklarator GAM) dengan pemimpin besar MILF (Mindanao islamic liberation front) sebuah gerakan separatis di Filipina Selatan.

Pemikiran demikian tidak pernah terpikirkan oleh kita semua. Bagaimana tidak, dua kelompok separatis ini dipertemukan di suatu wilayah untuk menyelesaikan konflik di Aceh.

Pelik memang, jika kita memahami bersama gagasan penyelesaian konflik yang bahkan tidak terbayang oleh beberapa orang yang sangat mengagumi pemikiran Gus Dur.

Baca Juga:  Ijtihad dan Pembaharuan Hukum Islam Perspektif Mbah Moen

Tidak hanya itu, penyelesaian konflik separatisme di Papua pun menjadi perhatian khusus para penikmat pemikiran Gus Dur. Ketakutan yang sebelumnya selalu direproduksi dari rezim Orde Baru tentang representasi Papua yang selalu disebut sebagai bagian gerakan separatis.

Akan tetapi, setelah Gus Dur dilantik menjadi Presiden RI beliau mengunjungi beberapa wilayah di Papua dan dengan mudahnya Gus Dur meruntuhkan tembok prasangka dan ketakutan tersebut.

Hal ini menjadi bukti, sebagai tokoh pemersatu bangsa selalu menjadi penengah dan menjadi wasit di setiap konflik politik.

Tidak berselang lama, Gus Dur memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada masyarakat Papua untuk menggelar Kongres Rakyat Papua II dan tidak lain ini adalah bentuk penghargaan terbesar dari Gus Dur untuk masyarakat Papua.

Sudah seharusnya, masyarakat Papua mendapatkan kebebasan berekspresi dalam berkehidupan bernegara. Dari kasus ini, kita dapat melihat bersama bagaimana Gus Dur meruntuhkan stigma, prasangka yang selalu menyerang kelompok masyarakat minoritas.

Baca Juga:  Stop Rasisme! Papua adalah Indonesia, Papua adalah Kita, #KitaIniSama

Gus Dur selalu memberikan hikmah atau pembelajaran kepada kita semua bagaimana kita menghadapi konflik berkepanjangan tanpa harus bertumpah darah.

Tentu saja, kita tidak mau hanya karena masalah perbedaan yang ada kita harus saling menyingkirkan dengan cara yang tidak wajar. Pemikiran Gus Dur yang selalu menengahi beberapa pihak ini harus menjadi representasi pemikiran beragama di Indonesia.

Sampai saat ini, belum ada sosok pengganti guru bangsa yang selalu mengajarkan perdamaian tanpa menanamkan benih-benih prasangka sama sekali.

Sudah semestinya kita bersama merawat pemikiran Gus Dur dan menjadi muslim Indonesia yang ramah dalam berbagai hal.

Wallahua’lam bisshowab

Arief Azizy