Sosok Sayyidah Khodijah Radiallahu ‘Anha di Sisi Rasulullah SAW

sayyidah khodijah

Pecihitam.org – Siapa yang tidak kenal dengan Sayyidah Khodijah, sosok wanita mulia sekaligus istri Rasul SAW. Beliau adalah Ummul Mu’minin bagi seluruh umat islam di dunia ini. Sifat dan semangatnya dalam mendukung dakwah Rasul SAW patutlah dicontoh oleh semua isteri di muka bumi. Sebab  tatkala sang suami berdakwah, ia selalu memberi dukungan penuh dan tidak berhenti mendoakannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka tak heran jika kedudukan Sayyidah Khodijah dalam agama sangatlah mulia. Cintanya sudah ditabiatkan hanya untuk Allah, dan semua amalan kebaikannya hanya karena Allah.

Beliau memberikan bantuan dan pertolongan pada semua yang ia kenal, mengetahui kebutuhan dan kesulitan mereka entah di zaman jahiliyah maupun setelah datangnya Islam.

Kejahatan tidak masuk ke dalam dirinya, bahkan ia tidak berpikir untuk berbuat jahat, akan tetapi ia hidup untuk kebaikan dan demi kebaikan. Beliau adalah malaikat berwujud manusia, mempunyai keinginan dan himmah yang tinggi, tidak sombong dan tidak congkak. Maka hal itulah yang membuatnya dihormati oleh orang lain.

Ketika beliau mengenal seorang Muhammad, yang terdapat pada diri beliau adalah alamat dan tanda bahwa ia adalah jalan menuju Allah. Maka ia benar-benar berpegang teguh dengan Muhammad SAW suaminya. Melayaninya dengan bermacam-macam bentuk, dan menyediakan bagian apa yang dibutuhkannya.

Sayyidah Khodijah tidak meninggalkan satu bentuk perhatian pun untuk beliau kecuali ia laksanakan dengan ikhlas dan dan sesempurna mungkin. Sayyidah Khodijah merasa tidak ada keraguan sedikitpun padanya, bahwa Muhammad SAW bukanlah manusia biasa.

Baca Juga:  Pentingnya Memahami Al-Quran dari Tafsirnya

Suaminya adalah manusia yang telah diciptakan Allah untuk urusan yang besar. Oleh karena itu penciptaan dan tabiat yang ada pada dirinya pasti untuk sesuatu yang agung juga. Inilah yang menjadi keyakinan Khadijah terhadap Muhammad SAW.

Setiap kali Khadijah duduk dan berbincang-bincang bersama beliau, ia merasakan tubuhnya ibarat meluncur ke alam yang jernih penuh dengan hawa kehidupan yang teduh. Dan ia terbang bersama Muhammad dengan sayap-sayapnya, ia merasakan hidup dan kebahagiaan yang tiada bandingannya.

Ketika Khadijah dikabarkan dengan sebuah peristiwa besar yaitu isra mi’raj, tanpa berpikir panjang, beliau langsung membenarkan atas apa yang dikatakan sang suami padanya.

Beliau juga tidak mengaitkan perkataan Muhammad SAW dengan hal-hal yang berupa pembicaraan tentang jin, dan setan, atau pun tentang penyakit kejiwaan.

Khadijah sangat tegas menjawab, mengutarakan, dan menarik kesimpulan bahwa ia bersaksi Muhammad adalah Rasul yang diutus Allah untuk seluruh umat di dunia ini. Hal tersebut membuktikan bahwa Sayyidah Khadijah telah hidup di tengah-tengah cobaan yang dialami oleh Rasul.

Saat banyak orang yang mencaci dan menghujatnya, sosok Khadijah sangat setia mendampinginya. Justru dari kejadian-kejadian yang dialami Rasul, membuatnya merasa yakin atas Kenabian Muhammad SAW dan memutuskan untuk tetap berdiri bersama sang  penyampai dakwah. dan tidak akan meninggalkannya walau hanya sesaat.

Baca Juga:  Asbabun Nuzul Surat al Waqiah Lengkap dengan Kandungan Isinya

Khadijah tidak pernah mencoba ikut campur dalam hal yang memang bukan kepentingannya, dan yang tidak diketahuinya. Ataupun mengaku-ngaku jika ia mempunyai pengetahuan yang lebih, dengan tujuan hawa nafsu atau pun memenuhi keinginan pribadinya. Jika ia dimintai pendapat, maka jawabannya adalah jawaban yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.

Sungguh, Sayyidah Khodijah saudagar kaya, yang memiliki banyak harta kekayaan. Dan kebanyakan orang yang memiliki banyak harta mempunyai sifat manja dan perasaan bosan dari keadaan yang tidak tentu.

Namun tidak, bagi Sayyidah Khodijah, beliau tahu bahwa perjalanan suaminya dalam berdakwah, jika bersamaan dengan pekerjaan dalam perdagangan, maka akan menyebabkan kerugian yang besar baginya. Akan tetapi tidak pernah sekalipun ia menegur suaminya agar menjauh dari pekerjaannya dengan tujuan menjaga kedudukan hartanya.

Sayyidah Khodijah adalah wanita pertama yang masuk islam, beriman kepada Allah dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Khadijah adalah orang yang pertama kali shalat bersama Raslullah, dan sosok pertama yang menolongnya dalam menghadapi  rintangan-rintangan yang ada. Sampai pada akhirnya beliau mendapatkan dukungan dari kalangan kaum laki-laki, disamping perlindungan dan penjagaan Allah padanya.

Setiap Rasulullah mendengar sesuatu yang dibenci dari kalangan penentang, ataupun mendengar pendustaan mereka, yang mana membuat beliau bersedih, maka Allah meringankan dengan adanya Khadijah.

Baca Juga:  Sayyidah Khadijah, Sosok Wanita Pertama yang Masuk Islam

Khadijah selalu mengokohkan langkahnya, mempercayainya, dan meringankan bebannya. Sehingga celaan yang Nabi dapatkan dari kaumnya menjadi terasa ringan.

Oleh karena itu Rasul sangat bersedih tatkala sosok sayyidah Khadijah telah berpulang ke Rahmatullah. Rasul tidak akan pernah melupakannya,  beliau selalu memujinya, memintakan ampun untuknya dan mendoakannya agar ditinggikan derajatnya disisi Allah SWT.

Sosok Khodijah istrinya sangat membekas di qalbu Nabi, sosok sang istri dalam hati Rasulullah adalah sebuah kedudukan yang tidak tergantikan oleh wanita setelahnya, dan tidak pula oleh istri-istri Nabi lainnya.

Itulah sedikit gambaran sosok Sayyidah Khodijah disisi Rasul SAW, yang tidak diragukan lagi kemuliaannya. Semoga kita kaum perempuan bisa meneladani kepribadian beliau dalam segala hal. Wallahu A’lam.

Refrensi: Khadijah Teladan Agung Wanita Mukminah, karya Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal

Nur Faricha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *