Surah Al-Ahzab Ayat 23-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Ahzab Ayat 23-24

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 23-24 ini, menerangkan bahwa di antara kaum Muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, ada orang-orang yang menepati janjinya. Mereka telah berjuang dengan seluruh jiwa dan hartanya, di antara mereka ada yang mati syahid di Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan peperangan-peperangan lainnya, sedang sebagian yang lain ada yang menunggu-nunggu dipanjangkan umurnya, menunggu ketetapan Allah Yang Maha Esa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 23-24

Surah Al-Ahzab Ayat 23
مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلًا

Terjemahan: Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya),

Tafsir Jalalain: مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِ (Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa-apa yang telah mereka janjikan kepada Allah) yaitu gigih bertahan bersama dengan Nabi saw.

فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ (maka di antara mereka ada yang gugur) mati atau terbunuh di jalan Allah وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُ (dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu) hal tersebut وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلًا (dan mereka sedikit pun tidak mengubah) janjinya, berbeda halnya dengan orang-orang munafik.

Tafsir Ibnu Katsir: Ketika Allah telah menyebutkan tentang orang-orang munafik yang tidak memenuhi perjanjian yang mereka janjikan kepada Allah bahwa mereka tidak akan mundur, maka Allah menggambarkan tentang orang-orang beriman yang selalu memenuhi perjanjian dan amanah yang dipercayakan kepada mereka.

Dan: صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ (“Yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.”) sebagian mereka berkata: “NahbaHu artinya ajalnya.” Al-Bukhari berkata: “NahbaHu artinya perjanjianya, yaitu ia kembali kepada yang pertama.”

وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلًا (“Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah [janjinya].”) yaitu mereka tidak merubah, tidak membatalkan dan tidak menggantikan perjanjian Allah.

Al-Bukhari meriwAyatkan dari az-Zuhri, ia mengatakan: “Kharijah bin Zaid bin Tsabit bercerita kepadaku, bahwa ayahnya berkata: ketika kami telah menulis mush-haf, satu Ayat dari surat al-Ahzaab yang pernah kami dengar dibaca oleh Rasulullah saw. terluput dari kami. Dan aku tidak menemukan Ayat itu kecuali pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari yang persaksiannya dijadikan oleh Rasulullah saw. sama dengan persaksian dua orang.

مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِ (“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.”) (HR Bukhari secara sendiri, tanpa Muslim dan juga diriwAyatkan oleh Ahmad dalam musnadnya, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dalam at-Tafsiir di sunannya dari hadits az-Zuhri, at-Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”)

Al-Bukhari meriwAyatkan bahwa Anas bin Malik mengatakan: “Kami berpendapat bahwa Ayat ini turun pada Anas bin an-Nadhar: مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلًا (“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.

Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah [janjinya].”) (al-Bukhari meriwAyatkan sendiri dari segi ini, akan tetapi dia memiliki penguat lain).

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 33; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Imam Ahmad berkata dari Tsabit, bahwa Anas mengatakan: “Pamanku, Anas bin an-Nadhar tidak ikut serta bersama Rasulullah saw. dalam perang Badar, hingga membuatnya merasa susah hati. Dia berkata: “Satu peperangan bersama Rasulullah saw. yang tidak aku sempat aku saksikan.

Sesungguhnya jika Allah memberi kesempatan kepadaku setelah ini untuk mengikuti satu peperangan bersama Rasulullah saw. niscaya Allah akan memperlihatkan apa yang akan aku lakukan.’ Hal itu diucapkannya dengan penuh kebanggaan di depan orang lain. Lalu dia diberi kesempatan mengikuti peperangan bersama Rasulullah saw. di perang Uhud.

Saat disambut oleh Sa’ad bin Mu’adz, Anas berkata kepadanya: ‘Ya Abu ‘Amr, menuju kemanakah?’ Dijawabnya: ‘Ke tempat yang terdapat wawangian surga, itu aku dapati di bawah Uhud.’ Maka dia memerangi mereka, hingga diapun mati terbunuh. Di tubuhnya ditemukan 80 lebih luka tusukan, pukulan dan anak panah.”

Saudara perempuannya, yaitu bibiku ar-Rabi’ binti an-Nadhar berkata: “Aku tidak lagi mengenali saudaraku itu kecuali dari ujung jari-jarinya.” Maka turunlah Ayat ini: مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلًا (“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.

Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah [janjinya].”) mereka berpendapat bahwa Ayat ini turun berkenaan dengan beliau dan teman-temannya (yang gugur di Uhud).” (HR Muslim, Tirmidzi dan an-Nasa’i dari hadits Sulaiman bin al-Mughirah serta diriwAyatkan pula oleh an-Nasa’i dan Ibnu Jarir.

Mujahid berkata tentang firman Allah: فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ (“Maka di antara mereka ada yang gugur.”) yaitu yang memenuhi janjinya. Wa minHum may yantadhir (“Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu.”) yaitu, pada hari terjadinya peperangan, hingga dia buktikan janjinya dalam menghadapi musuh.

Al-Hasan berkata: فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ (“Maka di antara mereka ada yang gugur.”) yaitu kematiannya di atas kejujuran dan pemenuhan janji. Serta di antara mereka ada yang menungguh-nunggu kematian seperti itu dan di antara mereka pula ada yang tidak merubah janjinya sedikitpun. Demikian yang dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Zaid. Sebagian mereka berkata: “Nahbahu adalah nadzarnya [memenuhi nadzarnya].”

Firman Allah: وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلًا (“dan mereka sedikitpun tidak merubah [janjinya].”) yaitu mereka tidak merubah perjanjian mereka serta tidak menggantikan penunaian janjinya dengan pengkhianatan. Akan tetapi mereka terus konsekuen di dalam janji mereka kepada Allah, dan tidak membatalkannya seperti perilaku orang-orang munafik.

Tafsir Kemenag: Dalam suatu hadis yang diriwAyatkan oleh Ahmad, Muslim, at- Tirmidzi, an-Nasa’i, dan imam-imam hadis yang lain dari sahabat Anas, ia berkata, “Pamanku Anas bin an-Nadhar, tidak ikut Perang Badar, maka ia merasa sedih dan kecewa. Ia berkata, ‘Aku tidak hadir pada peperangan yang pertama kali diikuti Rasulullah saw.

Sesungguhnya jika Allah memberikan kesempatan kepadaku mengikuti peperangan bersama Rasulullah sesudah ini, tentulah Allah Taala akan melihat apa yang akan aku lakukan. Maka pamanku dapat ikut serta dalam Perang Uhud.

Dalam perjalanan menuju Uhud, pamanku bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adh, dan Sa’ad bertanya kepadanya, ‘Hai Abu ‘Amr, hendak ke manakah engkau? Pamanku menjawab, ‘Mencari bau surga yang akan aku peroleh di Perang Uhud nanti. Maka pamanku terus ke Uhud dan gugur sebagai syuhada di sana. Pada tubuhnya terdapat kira-kira 80 bekas pukulan, tusukan tombak, dan lubang anak panah.” Maka turunlah Ayat ini.

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 49-52; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah menerangkan bahwa di antara kaum Muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, ada orang-orang yang menepati janjinya. Mereka telah berjuang dengan seluruh jiwa dan hartanya, di antara mereka ada yang mati syahid di Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan peperangan-peperangan lainnya, sedang sebagian yang lain ada yang menunggu-nunggu dipanjangkan umurnya, menunggu ketetapan Allah Yang Maha Esa.

Orang-orang yang masih hidup ini, sekali-kali tidak akan berubah janjinya kepada Allah, akan tetap ditepatinya janjinya selama hAyat dikandung badan.

Dalam Tafsir al-Kasysyaf dijelaskan bahwa beberapa orang sahabat ada yang bernazar: jika mereka ikut perang bersama Rasulullah, mereka tidak akan mundur dan tetap bertahan sampai gugur sebagai syuhada. Di antara sahabat yang berjanji itu ialah Usman bin Affan, thalhah bin ‘Ubaidillah, Sa’id bin Zaid, hamzah, Mush’ab bin ‘Umair, dan sahabat-sahabat yang lain.

Tafsir Quraish Shihab: Dari kalangan orang-orang beriman ada sekelompok lelaki yang berjanji pada Allah untuk tetap bertahan dalam pertempuran bersama nabi. Mereka pun menepati janji itu. Sebagian mereka ada yang mendapatkan penghormatan gugur sebagai syahid. Sebagian lagi masih bertahan hidup, menanti kesempatan mendapat kehormatan yang sama. Mereka tidak akan mengingkari janji pada Allah dan mereka tidak akan mengubah sedikit pun isi janji itu.

Surah Al-Ahzab Ayat 24
لِّيَجۡزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

Terjemahan: supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsir Jalalain: لِّيَجۡزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ (Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya) seumpamanya Dia mematikan mereka dalam kemunafikannya أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا (atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun) رَّحِيمًا (lagi Maha Penyayang) kepada orang yang bertobat kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: لِّيَجۡزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡ (“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kabenarannya dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.”) Yaitu Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan rasa takut dan guncangan agar dapat dibedakan antara yang jahat dan yang baik, hingga tampak jelas yang jahat dengan perbuatannya dan yang baik dengan perbuatannya pula.

Sedangkan Allah Mahamengetahui segala sesuatu sebelum keberadaannya, akan tetapi Allah tidak mengadzab makhluk-Nya dengan pengetahuan-Nya tentang mereka sebelum mereka lakukan, sehingga mereka mengerjakan apa yang diberitahukan-Nya kepada mereka.

Sebagaimana firman Allah: “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan [baik buruknya] hal ihwalmu.” (Muhammad: 31)

Ini adalah pengetahuan tentang sesuatu sesudah kejadiannya, sekalipun pengetahuan yang lalu telah diketahuiny sebelum keberadaannya. Demikianlah firman Allah: “Allah sekali-sekali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaanmu sekarang ini, sehingga Allah menyisihkan yang buruk [munafik] dari yang baik [mukmin]. Dan Allah sekali-sekali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib.” (Ali Imraan: 179)

Untuk itu di dalam Ayat ini Allah berfirman: لِّيَجۡزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ (“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kabenarannya”) yakni oleh sebab kesabaran mereka berada di atas perjanjian dengan Allah, menegakkan dan menjaganya.

Baca Juga:  Surah Saba Ayat 31-33; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡ (“dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.”) mereka adalah orang-orang yang tidak memenuhi perjanjian Allah serta melanggar perintah-perintah-Nya, hingga mereka berhak menerima hukuman dan siksaan-Nya. Akan tetapi mereka berada di atas kehendak Allah di dunia. Jika Allah mau, mereka pasti terus berada di bawah sikap tersebut, hingga mereka berjumpa dengan-Nya, hingga Allah menyiksa mereka.

Dan jika mau Allah akan menerima taubat mereka dengan diberi arahan untuk mencabut diri dari kemunafikan menuju keimanan dan amal shalih setelah mereka berbuat kefasikan dan kemaksiatan.

Serta dikarenakan rahmat dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya yang mengalahkan kemurkaan-Nya, maka Allah berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا (“sesungguhnya Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menerangkan bahwa sebab adanya ujian dan cobaan bagi orang-orang yang beriman ialah untuk membedakan yang jelek dengan yang baik, yang benar-benar beriman dengan yang kafir. Ujian ini juga bertujuan untuk menyatakan dan menampakkan apa yang berada dalam hati mereka yang sebenarnya. Dalam hal ini, Allah berfirman:

Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu. (Muhammad/47: 31)

Dan firman Allah: Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. (ali ‘Imran/3: 179)

Kemudian setelah jelas keadaan mereka, maka Allah memberi pahala kepada orang-orang yang benar-benar menepati janjinya, dan mengazab orang-orang munafik yang tidak menepati janjinya. Sekalipun demikian pintu tobat masih terbuka bagi orang-orang munafik itu, yaitu jika mereka beriman, menepati janjinya dan mengerjakan amal saleh. Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuatnya dahulu.

Pada akhir Ayat ini, Allah menegaskan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, menghapus segala dosa orang-orang yang benar-benar bertobat, seakan-akan dosa itu tidak pernah diperbuatnya. Dari Ayat ini dipahami bahwa pintu tobat itu selalu terbuka, bagi setiap hamba yang melakukannya. Oleh karena itu, hendaklah kaum Muslimin selalu melakukannya.

Tafsir Quraish Shihab: Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang beriman dengan sepenuh hati, lantaran kesungguhan iman dan keteguhan janji mereka. Juga agar Allah menghukum orang-orang munafik–jika Dia berkehendak demikian–atau memberi perkenan kepada sebagian orang munafik yang memiliki kesiapan menuju jalan pertobatan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dengan penerimaan tobat itu dan Maha Pengasih dengan cara memberikan maaf atas segala kesalahan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 23-24 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S