Surah Al-Isra’ ayat 80-81; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Isra' ayat 80-81

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Isra’ Ayat 80-81 ini, Allah swt juga memerintahkan kepada Nabi agar berdoa kepada-Nya supaya dijadikan orang yang menguasai hujah dan alasan yang dapat diterima dan ketika berdakwah, dapat memuaskan orang-orang yang mendengarkannya sehingga bertambah kuat imannya. Jika yang mendengar orang kafir, hati mereka menjadi lunak dan mau masuk Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Isra’ Ayat 80-81

Surah An-Nahl Ayat 80
وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

Terjemahan: Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.

Tafsir Jalalain: وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي (Dan katakanlah, “Ya Rabbku! Masukkanlah aku) ke Madinah مُدْخَلَ صِدْقٍ (dengan cara yang baik) yakni dengan cara memasukkan yang disukai di mana aku tidak melihat sewaktu masuk hal-hal yang tidak aku sukai.

وَأَخْرِجْنِي (dan keluarkanlah aku) dari Mekah مُخْرَجَ صِدْقٍ (dengan cara yang baik) dengan cara mengeluarkan yang membuat hatiku tidak berpaling lagi kepadanya وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا (dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”) kekuatan yang dapat membantuku untuk dapat mengalahkan musuh-musuh-Mu.

Tafsir Ibnu Katsir: Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan bahwa dahulu Nabi berada di Makkah, kemudian diperintahkan untuk hijrah, lalu Allah Ta’ala menurunkan:

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا (Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku masukkanlah aku dehgan masuk yang benar dan keluarkan [pula] aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.) Imam at-Tirmidzi mengatakan, derajatnya hasan shahih.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Hasan al-Bashri mengemukakan, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari penduduk Makkah, ketika mereka berunding tentang Rasulullah, dengan tujuan membunuhnya atau mengusirnya atau mengikatnya, maka Allah berkehendak untuk membunuh penduduk Makkah. Lalu Allah menyuruh beliau untuk pergi ke Madinah. Dan itulah yang) difirmankan oleh Allah:

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 105-106; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا (Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku masukkanlah aku dehgan masuk yang benar dan keluarkan [pula] aku dengan keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.)

Qatadah mengatakan: وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ (Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku masukkanlah aku dehgan masuk yang benar) yakni Madinah. “Dan keluarkan (pula) aku dengan keluar yang benar,” yakni kota Makkah.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Dan pendapat inilah yang merupakan pendapat paling masyhur.

Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu Abbas, “Masukkanlah aku dengan masuk yang benar, “yakni kematian. “Dan keluarkan (Pula) aku dengan keluar yang benar, “yakni kehidupan setelah kematian. Ada juga beberapa pendapat lain selain itu. Tetapi pendapat pertama yang paling tepat, dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Dan firman-Nya: وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا (Dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong) Dalam menafsirkan ayat tersebut, al-Hasan al-Bashri mengemukakan, Rabbnya menjanjikan kepadanya untuk melepaskan kekuasaan bangsa Persia dan kemuliaannya dan Dia akan menyerahkan kepada beliau. Juga kekuasaan bangsa Romawi dan kemuliaannya dan Dia menjadikannya untuk beliau.”

Tafsir Kemenag: Allah swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengucap-kan doa yang tersebut dalam ayat ini, yang maksudnya “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat, dan tempatkan aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat.”

Di antara contoh masuknya Rasulullah ke suatu tempat dengan benar ialah beliau dan para sahabat memasuki kota Medinah sebagai orang-orang yang hijrah dari Mekah, memasuki kota Mekah di waktu penaklukan kota itu, masuk kubur setelah mati, dan memasuki tempat yang diridai Allah, seperti masuk masjid, rumah sendiri, rumah sahabat, dan kenalan setelah minta izin darinya, dan sebagainya.

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 110-111; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Keluar dari semua tempat yang dikehendaki Allah, seperti keluar dari kota Mekah waktu hijrah, keluar dari kubur waktu hari kebangkitan, atau keluar dari semua tempat yang dikehendaki Allah, seperti kota-kota yang menjadi tempat melakukan perbuatan maksiat dan sebagainya.

Allah swt juga memerintahkan kepada Nabi agar berdoa kepada-Nya supaya dijadikan orang yang menguasai hujah dan alasan yang dapat diterima dan ketika berdakwah, dapat memuaskan orang-orang yang mendengarkannya sehingga bertambah kuat imannya.

Jika yang mendengar orang kafir, hati mereka menjadi lunak dan mau masuk Islam. Sebagai jawaban terhadap doa Nabi Muhammad itu, Allah menerangkan bahwa Dia memelihara Nabi dari segala macam tipu daya manusia dan akan me-menangkannya terhadap orang-orang kafir

Surah Al-Isra’ ayat 81
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Terjemahan: Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Tafsir Jalalain: وَقُلْ (Dan katakanlah) sewaktu kamu memasuki kembali Mekah جَاءَ الْحَقُّ (“Yang benar telah datang) yakni agama Islam وَزَهَقَ الْبَاطِلُ (dan yang batil telah lenyap.”) batilnya kekafiran telah lenyap.

إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا (Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap) akan surut, lalu lenyap. Memang ketika Nabi saw. memasuki kota Mekah, beliau menemukan tiga ratus enam puluh berhala berada di sekitar Kakbah, kemudian Nabi saw. menusukinya dengan tongkat yang berada di tangannya sehingga semuanya runtuh, seraya mengucapkan kalimat tadi. Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Baca Juga:  Surah Asy Syu'ara Ayat 60-68; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ (Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.) Yang demikian itu merupakan ancaman keras bagi orang-orang kafir Quraisy.

Sesungguhnya telah datang kepada mereka kebenaran yang tidak diragukan lagi. Yaitu al-Qur’an yang telah diturunkan kepada beliau, iman, dan ilmu yang bermanfaat. Dengan demikian, lenyap dan binasalah kebathilan mereka, karena kebathilan itu tidak akan pernah dapat berdiri tegak dan bertahan lama bersama kebenaran.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia bercerita, Nabi saw. pernah memasuki kota Makkah sedang di sekitar Baitullah terdapat 360 patung. Maka beliau pun menghancurkannya dengan tongkat yang dibawanya seraya berucap:

“Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap.” Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. “Kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan kembali lagi.” (QS. Saba’: 49). Hal yang sama juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik bahwa sesungguhnya telah datang yang hak, yaitu Al-Qur’an, iman, dan Islam. Sedangkan yang batil yaitu kesyirikan dan kekafiran akan hancur. Kebatilan tidak akan bertahan lama, karena tidak mempunyai landasan yang benar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Isra’ ayat 80-81 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S