Surah An-Naml Ayat 20-21; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Naml Ayat 20-21

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Naml Ayat 20-21 ini, menerangkan ancaman Nabi Sulaiman kepada burung hud-hud yang pergi tanpa pamit. Salah satu dari dua hukuman itu akan aku laksanakan terhadapnya, agar dapat menjadi pelajaran bagi yang lain yang bertindak seperti burung hud-hud itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml Ayat 20-21

Surah An-Naml Ayat 20
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينََ

Terjemahan: Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.

Tafsir Jalalain: وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ (Dan dia memeriksa burung-burung) untuk mencari burung Hud-hud yang ditugaskan untuk meneliti adanya sumber air di bawah tanah, melalui paruhnya yang ia patuk-patukkan ke tanah yang dimaksud pada saat itu Nabi Sulaiman membutuhkan air untuk salat, ternyata dia tidak melihat burung Hud-hud itu,

فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ (lalu ia berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud?) apakah gerangan yang menyebabkan hingga aku tidak melihatnya?, coba jelaskan kepadaku ke mana dia? أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (apakah dia termasuk yang tidak hadir?”) Nabi Sulaiman tidak melihatnya karena tidak ada di tempat, setelah terbukti Hud-hud tidak ada.

Tafsir Ibnu Katsir: Mujahid, Sa’id bin Jubair dan lain-lain berkata dengan sanad yang berasal –dari Ibnu ‘Abbas dan Shahabat lainnya berkata: “Hud-hud adalah binatang ahli dalam memberi arahan kepada Sulaiman tentang air.

Jika beliau sedang berada di padang pasir, beliau memintanya untuk meneliti air yang berada di tapal batas, seperti manusia melihat sesuatu yang tampak di permukaan tanah. Jika burung Hud-hud telah memberikan petunjuk tentang hal tersebut, maka Sulaiman segera memerintahkan jin untuk menggali termpat tersebut sehingga memancar air dari dasarnya.

Suatu hari Sulaiman as. singgah di sebuah padang pasir, lalu ia memeriksa burung-burung untuk melihat Hud-hud, akan tetapi ia tidak melihatnya. فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (“Lalu dia berkata: ‘Mengapa aku tidak melihat burung Hud-Hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?’”) apakah pandanganku terhadap burung-burung itu yang keliru atau ia yang ghaib/tidak hadir?

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 61; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada suatu hari Nabi Sulaiman memeriksa barisan tentaranya, termasuk burung hud-hud, tetapi ia tidak melihatnya. Dengan nada marah dan heran ia berkata, “Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud! Apakah aku tidak melihatnya ataukah burung hud-hud itu sendiri yang telah pergi tanpa minta izin kepadaku lebih dahulu?”

Perbuatan itu adalah perbuatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dari Ayat ini dipahami hal-hal sebagai berikut:

  1. Nabi Sulaiman mempunyai tentara, dan di antaranya terdapat sejenis burung yang bernama burung hud-hud. Burung hud-hud termasuk jenis burung pemakan serangga, sejenis burung pelatuk. Ia mempunyai paruh yang panjang, berjambul di kepalanya, berekor panjang, dan berbulu indah beraneka warna. Ia hidup dengan membuat sarang atau lubang pada pohon-pohon kayu yang telah mati dan lapuk.
  2. Nabi Sulaiman selalu memeriksa tentaranya. Oleh karena itu, ia mengetahui tentaranya yang hadir dan yang tidak hadir waktu pemeriksaan itu.
  3. Setiap tentaranya bepergian atau melakukan sesuatu pekerjaan hendaklah mendapat izin dari padanya terlebih dahulu. Jika ada yang melanggar ketentuan ini, akan mendapat hukuman dari Sulaiman.
  4. Tentara Sulaiman patuh mengikuti segala perintahnya dan tidak pernah ada yang mengingkarinya. Oleh karena itu, Sulaiman merasa heran dan tercengang atas kepergian burung hud-hud tanpa pamit. Tidak pernah terjadi kejadian seperti yang demikian itu sebelumnya. Ia lalu mengancam burung hud-hud dengan hukuman yang berat seandainya nanti burung itu kembali tanpa mengemukakan alasan-alasan yang dapat diterima.
Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 64; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Itulah kisah tirani Fir’aun karena merasa dirinya seorang raja. Kini lihatlah penguasa yang adil, yang memadukan antara kenabian dan kekuasaan, pada diri Dawud dan putranya, Sulayman, ‘alayhima al-salam.

Kami telah mengajarkan kepada mereka ilmu yang luas menyangkut pengetahuan agama dan pengetahuan tentang hukum. Mereka berdua menegakkan keadilan, memuji Allah yang telah memberikan karunia kepada mereka sebagai kelebihan mereka atas hamba-hamba lain yang jujur dan tunduk pada kebenaran.

Surah An-Naml Ayat 21
لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ

Terjemahan: Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.

Tafsir Jalalain: Nabi Sulaiman berkata, لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا (“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab) yakni hukuman شَدِيدًا (yang keras) yaitu akan dicabuti bulu-bulu sayap dan ekornya, kemudian akan dicampakkan di tempat yang amat panas, sehingga ia tidak dapat menghindarkan diri dari bahaya binatang melata dan serangga yang akan memakannya أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ (atau aku benar-benar menyembelihnya) yaitu memotong lehernya أَوْ لَيَأْتِيَنِّي (atau benar-benar dia datang kepadaku) dapat dibaca Laya’tiyanniy dan Laya’tiynaniy بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ (dengan alasan yang terang”) yang menjelaskan alasan ketidakhadirannya.

Tafsir Ibnu Katsir: لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا (“Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras.”) al-A’masy berkata dari al-Minhal bin ‘Amr dan dari Sa’id, dari Ibnu ‘Abbas, yaitu mencabut bulu-bulunya. Firman-Nya:

أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ (“atau benar-benar menyembelihnya”) yaitu membunuhnya. أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ (“atau dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”) yaitu alasan yang jelas dan tegas.Sufyan bin ‘Uyainah dan ‘Abdullah bin Syaddad berkata: “Ketika Hud-Hud datang, seekor berkata kepadanya: ‘Apa yang menyebabkan engkau menghilang. Sesungguhnya Sulaiman menadzarkan darahmu.’ Hud-Hud berkata: ‘Apakah ada pengecualian?’ mereka menjawab: ‘Ya.’

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 7-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ (“Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras. atau benar-benar menyembelihnya atau dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”) maka dia berkata: ‘Kalau begit aku selamat.’ Mujahid berkata: “Allah menyelamatkannya hanya karena ia telah berbakti kepada ibunya.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan ancaman Nabi Sulaiman kepada burung hud-hud yang pergi tanpa pamit. Ia berkata, “Seandainya burung hud-hud kembali nanti, tanpa mengemukakan alasan yang kuat atas kepergiannya dengan tidak minta izin itu, maka aku akan menyiksanya dengan mencabut bulu-bulunya, sehingga ia tidak dapat terbang lagi atau akan kusembelih. Salah satu dari dua hukuman itu akan aku laksanakan terhadapnya, agar dapat menjadi pelajaran bagi yang lain yang bertindak seperti burung hud-hud itu.”

Dari Ayat ini dipahami bahwa jika burung hud-hud itu dapat mengemukakan alasan-alasan kepergiannya tanpa pamit dan alasan-alasan itu dapat diyakini kebenarannya, maka Sulaiman tidak akan melaksanakan hukuman yang telah diancamkan itu.

Tafsir Quraish Shihab: Demi Allah, aku akan memberikan hukuman berat agar dia jera. Atau aku akan menyembelihnya jika dia melakukan kesalahan besar. Kecuali jika ia punya alasan kuat yang menjelaskan ketidakhadirannya di hadapanku.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah An-Naml Ayat 20-21 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S