Surah Ar-Rum Ayat 17-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Rum Ayat 17-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Rum Ayat 17-19 ini, menerangkan Allah memberi petunjuk kepada kaum mukmin tentang cara-cara untuk melepaskan diri dari azab neraka dan memasukkan mereka ke dalam surga.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah memerintahkan mereka untuk menyucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya, memuji dan memuja-Nya serta menyebut nama-Nya dengan segala sifat-sifat yang baik dan terpuji.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rum Ayat 17-19

Surah Ar-Rum Ayat 17
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

Terjemahan: Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh,

Tafsir Jalalain: فَسُبْحَانَ اللَّهِ (Maka bertasbihlah kepada Allah) maksudnya salatlah kalian حِينَ تُمْسُونَ (di waktu kalian berada di petang hari) di kala kalian memasuki petang hari; di dalam waktu ini terdapat dua salat, yaitu salat Magrib dan salat Isyak وَحِينَ تُصْبِحُونَ (dan di waktu kalian berada di waktu subuh) sewaktu kalian memasuki pagi hari di dalam waktu ini terdapat salat subuh.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini merupakan tasbih [penyucian] dari Allah Ta’ala terhadap diri-Nya yang suci serta menjadi petunjuk bagi hamba-hamba-Nya untuk mensucikan dan memuji-Nya pada waktu silih berganti yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya dan keagungan kerajaan-Nya. yaitu, di waktu sore saat datangnya malam dan dengan kegelapannya serta ketika pagi saat cerahnya siang dengan cahayanya. Kemudian Dia menyelingkan dengan puji-pujian-Nya, sesuatu yang sesuai dengan penyucian adalah puji-pujian.

Tafsir Kemenag: Dalam kedua Ayat ini, Allah memberi petunjuk kepada kaum mukmin tentang cara-cara untuk melepaskan diri dari azab neraka dan memasukkan mereka ke dalam surga. Allah memerintahkan mereka untuk menyucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya, memuji dan memuja-Nya serta menyebut nama-Nya dengan segala sifat-sifat yang baik dan terpuji. Seakan-akan Allah berkata,

“Jika kamu telah mengetahui dengan pasti nasib kedua golongan itu, maka sucikanlah Aku di waktu malam dan siang, di waktu petang dan pagi dengan berbagai amalan yang diridai-Nya.”

Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih (menyucikan Tuhan) di sini ialah salat lima waktu yang diwajibkan kepada kaum Muslimin. Lalu orang bertanya, “Dari perkataan apakah dipahami salat yang lima waktu itu?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Dari perkataan “maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di malam hari”, maksudnya ialah salat Magrib dan Isya.

Perkataan “dan di waktu kamu berada di waktu subuh”, maksudnya salat Subuh. Perkataan “dan di waktu kamu berada pada petang hari”, maksudnya ialah salat Asar, dan perkataan “dan di waktu kamu berada di waktu zuhur”, yaitu salat Zuhur.

Ibnu ‘Abbas, Adh-ahhak, Sa’id bin Jabair, dan Qatadah berpendapat bahwa kedua Ayat tersebut di atas hanya merupakan isyarat akan empat salat yaitu salat Magrib, Subuh, Asar, dan Zuhur. Sedangkan salat Isya (yang terakhir) tersebut pada Ayat yang lain, yaitu firman Allah:

Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan(laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (al-Isra’/17: 78)

An-Nahhas, seorang ahli tafsir, juga berpendapat bahwa Ayat-Ayat tersebut di atas berkenaan dengan salat lima waktu. Beliau mendukung pendapat ‘Ali bin Sulaiman yang berkata bahwa Ayat itu ialah bertasbih kepada Allah dalam salat, sebab tasbih itu ada dalam salat-salat tersebut.

Imam ar-Razi berpendapat bahwa tasbih itu berarti “penyucian”. Pendapat ini lebih kuat dan lebih utama, sebab dalam penyucian itu termasuk salat. Penyucian yang disuruh ialah:

  1. Penyucian hati, yaitu itikad yang teguh.
  2. Penyucian lidah beserta hati, yaitu mengatakan yang baik-baik.
  3. Penyucian anggota tubuh beserta hati dan lidah, yaitu mengerjakan yang baik-baik (amal saleh).

Penyucian pertama di atas ialah pokok, sedang yang kedua adalah hasil yang pertama, dan ketiga adalah hasil dari yang kedua. Sebab seorang manusia yang mempunyai itikad baik yang timbul dari hatinya, tercermin dari tutur katanya yang baik. Apabila dia berkata maka kebenaran perkataannya itu akan jelas terlihat dalam tingkah laku dan segala perbuatannya.

Lidah adalah penerjemah dari apa yang tebersit dalam hati. Sedangkan perbuatan anggota tubuh adalah perwujudan dari isi hati dan apa yang telah dikatakan lisan. Salat adalah perbuatan anggota tubuh yang paling baik, termasuk di dalamnya menyebut Tuhan dengan lisan, dan niat dengan hati, dan itulah pembersihan yang sebetulnya.

Apabila Allah berkata agar Dia disucikan, maka kaum Muslimin wajib untuk melaksanakan segala yang dianggap pantas untuk menyucikan-Nya.

Perintah menyucikan Allah merupakan perintah melaksanakan salat. Pendapat ini sesuai dengan tafsir Ayat 15 di atas. Sebab Allah menerangkan bahwa kedudukan yang tinggi dan pahala yang paling sempurna akan diperoleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Allah berfirman: Maka adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, ma-ka mereka di dalam taman (surga) bergembira. (ar-Rum/30: 15)

Dalam Ayat ini, Allah menyatakan apabila telah diketahui bahwa surga itu suatu tempat bagi orang-orang yang beramal saleh, maka sucikanlah Allah dengan iman yang baik dalam hati, esakanlah Dia dengan lisan, dan beramal salehlah dengan mempergunakan anggota tubuh.

Semuanya itu merupakan penyucian dan pemujian. Bertasbihlah kepada Allah agar kegembiraan di surga dan kesenangan yang dicita-citakan itu dapat dicapai.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa bukan hanya manusia satu-satunya makhluk yang bertasbih kepada Allah, tetapi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi juga bertasbih dengan memuji-Nya. Hal ini jelas kelihatan dari Ayat berikut ini:

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isra’/17: 44)

Allah menjelaskan bahwa tasbih mereka kepada-Nya adalah untuk kemanfaatan mereka sendiri, bukan untuk Allah. Oleh karena itu, mereka wajib memuji Allah dengan cara bertasbih kepada-Nya. Hal ini telah difirmankan Allah seperti tersebut dalam Ayat berikut ini:

Baca Juga:  Surah Ar-Rum Ayat 38-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (al-hujarat/49: 17)

Para ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud dari pujian-pujian bagi Allah itu adalah satu cara untuk mengagungkan Allah dan mendorong manusia untuk beribadah kepada-Nya, karena nikmat-Nya sangat banyak yang diberikan kepada manusia.

Dalam dua Ayat ini diutamakan menyebut waktu-waktu yang layak untuk bertasbih karena tanda-tanda kekuasaan, keagungan, dan rahmat Allah tampak pada waktu-waktu tersebut. Penyebutan malam didahulukan dari pagi karena menurut kalender Qamariah, malam dan kegelapan itu lebih dahulu dari pagi hari.

Permulaan tanggal itu dimulai setelah terbenam matahari. Demikian pula halnya berkenaan dengan petang dan zuhur, yakni petang lebih dahulu terjadinya dari zuhur menurut kalender Qamariah itu.

Ada beberapa hadis yang mengatakan tentang kelebihan yang terkandung dalam kedua Ayat tersebut. Pertama ialah:

Rasulullah saw telah bersabda, “Inginkah kamu aku beritakan kepadamu: “Kenapa Allah menamakan Ibrahim a.s. sebagai khalil (teman)-Nya yang setia? Ialah karena ia membaca di waktu pagi dan petang, bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari di waktu subuh.

Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur.” (RiwAyat Ahmad dan Ibnu Jarir dari Mu’adz bin Anas)

Seterusnya Nabi bersabda: Siapa yang mengucapkan di waktu pagi subhanallah hingga firman Tuhan wa kadzalika tukhrajun maka dia akan mendapatkan pahala dari apa yang tidak dapat dikerjakannya pada siang hari itu. Dan siapa yang mengatakan di waktu petang, maka ia akan mendapatkan pahala dari yang tidak dapat dikerjakan di waktu malamnya. (RiwAyat Abu Dawud dan ath-thabrani dari Ibnu ‘Abbas)

Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya Ayat-Ayat 17-18 di atas untuk dihAyati dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, sucikanlah Allah dari segala yang tidak sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya. Sembahlah Dia ketika kalian memasuki waktu sore dan pagi.

Surah Ar-Rum Ayat 18
وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

Terjemahan: dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.

Tafsir Jalalain: وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi) kalimat Ayat ini merupakan jumlah i’tiradh, maksudnya Dia dipuji oleh penduduk langit dan bumi وَعَشِيًّا (dan di waktu kalian berada pada petang hari) diathafkan kepada lafal hiina yang ada pada Ayat sebelumnya; di dalam waktu ini terdapat salat Isyak وَحِينَ تُظْهِرُونَ (dan sewaktu kalian berada di waktu Zuhur) yakni di waktu kalian memasuki tengah hari, yang pada waktu itu terdapat salat Zuhur.

Tafsir Ibnu Katsir: Maka Allah berfirman: وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (“Dan bagi-Nya lah segala puji di langit dan di bumi.”) Dia Mahaterpuji atas apa yang Dia ciptakan di langit dan di bumi. Kemudian Allah berfirman: وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (“dan di waktu kamu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu dhuhur.”) maka pada waktu isya’ adalah saat gelapnya malam dan jelasnya [dhuhur] adalah kuatnya cahaya.

Mahasuci Rabb Pencipta malam dan siang, Pembelah pagi dan Pencipta malam yang menjadi saat istirahat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (“Demi malam apabila menutupi [cahaya siang] dan siang apabila terang benderang.”

Imam Ahmad meriwAyatkan dari Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhani, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan, mengapa Allah menamakan Ibrahim sebagai Khali-Nya yang selalu menyempurnakan janji? Dikarenakan setiap pagi dan petang dia berdoa:

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (“Mahasuci Allah, di waktu kalian berada di petang hari dan di waktu kalian berada di waktu shubuh. Bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu dhuhur.”)”

Ath-Thabrani meriwAyatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa di waktu sore berdoa: ‘Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.’

beliau membaca Ayat itu sampai sempurna-, niscaya dia akan mendapatkan apa yang luput darinya pada hari itu. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di waktu sore, niscaya dia akan mendapatkan apa yang luput darinya pada malam harinya.” Isnadnya jayyid [dalam Nuskhah Makkiyyah: dlaif] dan diriwAyatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya.

Tafsir Kemenag: Dalam kedua Ayat ini, Allah memberi petunjuk kepada kaum mukmin tentang cara-cara untuk melepaskan diri dari azab neraka dan memasukkan mereka ke dalam surga. Allah memerintahkan mereka untuk menyucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya, memuji dan memuja-Nya serta menyebut nama-Nya dengan segala sifat-sifat yang baik dan terpuji. Seakan-akan Allah berkata,

“Jika kamu telah mengetahui dengan pasti nasib kedua golongan itu, maka sucikanlah Aku di waktu malam dan siang, di waktu petang dan pagi dengan berbagai amalan yang diridai-Nya.”

Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih (menyucikan Tuhan) di sini ialah salat lima waktu yang diwajibkan kepada kaum Muslimin. Lalu orang bertanya, “Dari perkataan apakah dipahami salat yang lima waktu itu?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Dari perkataan “maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di malam hari”, maksudnya ialah salat Magrib dan Isya.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 93; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Perkataan “dan di waktu kamu berada di waktu subuh”, maksudnya salat Subuh. Perkataan “dan di waktu kamu berada pada petang hari”, maksudnya ialah salat Asar, dan perkataan “dan di waktu kamu berada di waktu zuhur”, yaitu salat Zuhur.

Ibnu ‘Abbas, Adh-ahhak, Sa’id bin Jabair, dan Qatadah berpendapat bahwa kedua Ayat tersebut di atas hanya merupakan isyarat akan empat salat yaitu salat Magrib, Subuh, Asar, dan Zuhur. Sedangkan salat Isya (yang terakhir) tersebut pada Ayat yang lain, yaitu firman Allah:

Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan(laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (al-Isra’/17: 78)

An-Nahhas, seorang ahli tafsir, juga berpendapat bahwa Ayat-Ayat tersebut di atas berkenaan dengan salat lima waktu. Beliau mendukung pendapat ‘Ali bin Sulaiman yang berkata bahwa Ayat itu ialah bertasbih kepada Allah dalam salat, sebab tasbih itu ada dalam salat-salat tersebut.

Imam ar-Razi berpendapat bahwa tasbih itu berarti “penyucian”. Pendapat ini lebih kuat dan lebih utama, sebab dalam penyucian itu termasuk salat. Penyucian yang disuruh ialah:

  1. Penyucian hati, yaitu itikad yang teguh.
  2. Penyucian lidah beserta hati, yaitu mengatakan yang baik-baik.
  3. Penyucian anggota tubuh beserta hati dan lidah, yaitu mengerjakan yang baik-baik (amal saleh).

Penyucian pertama di atas ialah pokok, sedang yang kedua adalah hasil yang pertama, dan ketiga adalah hasil dari yang kedua. Sebab seorang manusia yang mempunyai itikad baik yang timbul dari hatinya, tercermin dari tutur katanya yang baik. Apabila dia berkata maka kebenaran perkataannya itu akan jelas terlihat dalam tingkah laku dan segala perbuatannya.

Lidah adalah penerjemah dari apa yang tebersit dalam hati. Sedangkan perbuatan anggota tubuh adalah perwujudan dari isi hati dan apa yang telah dikatakan lisan. Salat adalah perbuatan anggota tubuh yang paling baik, termasuk di dalamnya menyebut Tuhan dengan lisan, dan niat dengan hati, dan itulah pembersihan yang sebetulnya.

Apabila Allah berkata agar Dia disucikan, maka kaum Muslimin wajib untuk melaksanakan segala yang dianggap pantas untuk menyucikan-Nya.

Perintah menyucikan Allah merupakan perintah melaksanakan salat. Pendapat ini sesuai dengan tafsir Ayat 15 di atas. Sebab Allah menerangkan bahwa kedudukan yang tinggi dan pahala yang paling sempurna akan diperoleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Allah berfirman: Maka adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, ma-ka mereka di dalam taman (surga) bergembira. (ar-Rum/30: 15)

Dalam Ayat ini, Allah menyatakan apabila telah diketahui bahwa surga itu suatu tempat bagi orang-orang yang beramal saleh, maka sucikanlah Allah dengan iman yang baik dalam hati, esakanlah Dia dengan lisan, dan beramal salehlah dengan mempergunakan anggota tubuh. Semuanya itu merupakan penyucian dan pemujian. Bertasbihlah kepada Allah agar kegembiraan di surga dan kesenangan yang dicita-citakan itu dapat dicapai.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa bukan hanya manusia satu-satunya makhluk yang bertasbih kepada Allah, tetapi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi juga bertasbih dengan memuji-Nya. Hal ini jelas kelihatan dari Ayat berikut ini:

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isra’/17: 44)

Allah menjelaskan bahwa tasbih mereka kepada-Nya adalah untuk kemanfaatan mereka sendiri, bukan untuk Allah. Oleh karena itu, mereka wajib memuji Allah dengan cara bertasbih kepada-Nya. Hal ini telah difirmankan Allah seperti tersebut dalam Ayat berikut ini:

Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (al-hujarat/49: 17)

Para ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud dari pujian-pujian bagi Allah itu adalah satu cara untuk mengagungkan Allah dan mendorong manusia untuk beribadah kepada-Nya, karena nikmat-Nya sangat banyak yang diberikan kepada manusia.

Dalam dua Ayat ini diutamakan menyebut waktu-waktu yang layak untuk bertasbih karena tanda-tanda kekuasaan, keagungan, dan rahmat Allah tampak pada waktu-waktu tersebut. Penyebutan malam didahulukan dari pagi karena menurut kalender Qamariah, malam dan kegelapan itu lebih dahulu dari pagi hari.

Permulaan tanggal itu dimulai setelah terbenam matahari. Demikian pula halnya berkenaan dengan petang dan zuhur, yakni petang lebih dahulu terjadinya dari zuhur menurut kalender Qamariah itu.

Ada beberapa hadis yang mengatakan tentang kelebihan yang terkandung dalam kedua Ayat tersebut. Pertama ialah: Rasulullah saw telah bersabda, “Inginkah kamu aku beritakan kepadamu: “Kenapa Allah menamakan Ibrahim a.s. sebagai khalil (teman)-Nya yang setia? Ialah karena ia membaca di waktu pagi dan petang, bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari di waktu subuh.

Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur.” (RiwAyat Ahmad dan Ibnu Jarir dari Mu’adz bin Anas)

Seterusnya Nabi bersabda: Siapa yang mengucapkan di waktu pagi subhanallah hingga firman Tuhan wa kadzalika tukhrajun maka dia akan mendapatkan pahala dari apa yang tidak dapat dikerjakannya pada siang hari itu. Dan siapa yang mengatakan di waktu petang, maka ia akan mendapatkan pahala dari yang tidak dapat dikerjakan di waktu malamnya. (RiwAyat Abu Dawud dan ath-thabrani dari Ibnu ‘Abbas)

Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya Ayat-Ayat 17-18 di atas untuk dihAyati dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

Tafsir Quraish Shihab: Allah semata yang berhak atas pujian dan ucapan syukur dari penghuni langit dan bumi. Maka sembahlah Dia di malam hari, dan ketika kalian memasuki waktu siang.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 71-73; Seri Tadabbur Al Qur'an

Surah Ar-Rum Ayat 19
يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ

Terjemahan: Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).

Tafsir Jalalain: يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ (Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati) sebagaimana manusia, Dia menciptakan manusia dari air mani dan sebagaimana burung yang Dia ciptakan dari telur وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ (dan mengeluarkan yang mati) yaitu air mani dan telur مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ (dari yang hidup dan menghidupkan bumi) dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan بَعْدَ مَوْتِهَا (sesudah matinya) sesudah kering. وَكَذَلِكَ (Dan seperti itulah) dengan cara itulah تُخْرَجُونَ (kalian akan dikeluarkan) dari kubur.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ (“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”) yakni situasi yang kami alami saat ini adalah dalam kekuasaan-Nya yang menciptakan segala sesuatu silih berganti.

Ayat-Ayat yang berurutan dan mulia dalam jajaran ini mengandung penyebutan tentang ciptaan-Nya yang berupa sesuatu dengan lawannya [yang hidup dan yang mati] untuk menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya.

Di antaranya adalah mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari biji dan mengeluarkan biji dari tumbuh-tumbuhan, mengeluarkan telur dari ayam dan mengeluarkan ayam dari telur, mengeluarkan manusia dari air mani dan mengeluarkan mani dari manusia, mengeluarkan orang mukmin dari orang kafir dan mengeluarkan orang kafir dari orang mukmin.

وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا (“dan menghidupkan bumi sesudah matinya.”) seperti firman-Nya yang artinya: “Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya [hujan]; hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung –sampai Ayat- mudah mudahan kamu mengambil pelajaran.” (al-A’raaf: 57). Untuk itu di dalam Ayat ini Dia berfirman: وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ (“Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan [dari kubur].”)

Tafsir Kemenag: Ayat itu mengungkapkan sebagian kekuasaan Allah, yang menyeru hamba-hamba-Nya agar bertasbih dan beribadah kepada-Nya. Orang yang bertasbih kepada Allah tanpa mengetahui hak-hak, kekuasaan, dan kebesaran Allah dalam beribadah, maka tasbih dan ibadahnya itu tidak akan ada manfaatnya.

Dia tidak akan menjumpai Allah dengan tasbih dan ibadah yang seperti itu, padahal yang diharapkan adalah perjumpaan yang akan me-lapangkan dada, membukakan hati, dan menjernihkan jiwa. Oleh karena itu, ibadah yang diperintahkan ialah ibadah yang benar-benar dapat membekas dalam jiwa manusia.

Sehubungan dengan itu, Ayat ini menyuruh kita memperhatikan keadaan alam ini, karena di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah. Dapat diperhatikan bahwa kehidupan ini berasal dari benda mati, dan benda mati itu berasal dari kehidupan.

Hal ini dapat dilihat pada telur dan ayam. Telur adalah benda mati, tapi ia dapat mengeluarkan ayam yang hidup. Begitu pula ayam adalah benda hidup, tetapi dia dapat mengeluarkan telur yang merupakan benda mati.

Mujahid, seorang ahli tafsir, mengartikan Ayat ini sebagai perumpamaan antara mukmin dan kafir. Menurutnya, “keluarnya yang hidup dari yang mati” dan “yang mati dari yang hidup” berarti mukmin dan kafir.

Anak orang mukmin ada yang menjadi kafir, sebaliknya anak orang kafir ada yang menjadi mukmin. Ada pula yang menafsirkan bahwa kehidupan ini diakhiri dengan kematian dan kematian itu disudahi dengan kehidupan kembali di akhirat.

Karena kedua hal itu, yakni mati dan hidup suatu keadaan yang rutin di dalam kehidupan di dunia ini, maka tidaklah mustahil bagi Allah untuk membangkitkan manusia dari kuburnya di hari Kiamat kelak. Hal ini harus diperhatikan oleh manusia.

Sebagai contoh lain yang lebih dekat bagi manusia ialah keadaan tanah yang sudah tandus dan gersang. Tanah ini akan kembali subur dan bisa menumbuhkan tanam-tanaman, andaikata Allah menurunkan hujan dari langit.

Setelah memperhatikan contoh-contoh di atas, maka pertanyaan yang ditujukan kepada orang-orang kafir adalah apakah kekuasaan Allah yang tidak terbatas itu tidak cukup untuk menghidupkan manusia kembali dari dalam kematiannya, di mana tulang-belulangnya telah hancur berserakan, dan dagingnya telah bersatu dengan tanah? Tentu saja sanggup. Oleh karena itu, bila sangkakala ditiup malaikat, manusia akan bangkit dan semuanya menuju ke Padang Mahsyar menghadap Tuhan.

Allah berfirman: Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur), kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti. (an-Nuh/71: 17-18)

Mengapa manusia mengingkari hari kebangkitan? Mengapa mereka memperdebatkannya? Sebetulnya kekuasaan Allah tak perlu dan tak dapat diingkari. Siapa yang berakal tidak akan dapat mengingkari kekuasaan itu. Akan tetapi, dia lari dari tanggung jawab untuk menghadapi perhitungan di hari Kiamat.

Dia ingin melepaskan jiwanya dari perasaan keimanan dengan hatinya, sesuai dengan nasibnya di dunia ini. Dia tidak mempersiapkan sesuatu pun untuk akhirat. Demikianlah manusia ditipu oleh jiwa dan hawa nafsunya. Dia melalaikan panggilan yang sebenarnya, dan mengikuti apa yang sesuai dengan nafsunya.

Tafsir Quraish Shihab: Dialah yang mengeluarkan makhluk hidup dari sesuatu yang tidak memiliki kehidupan, dan mengeluarkan sesuatu yang tidak memiliki kehidupan dari makhluk hidup. Dialah yang menghidupkan bumi dengan pepohonan setelah sebelumnya tandus dan gersang. Dengan cara mengeluarkan seperti itulah, Allah mengeluarkan kalian dari kubur-kubur kalian.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Rum Ayat 17-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S