Umat Yahudi Pernah Tawassul Kepada Nabi Muhammad SAW

Tawassul kepada nabi

Pecihitam.org – Pembahasan Tawassul selalu jadi bahan perdebatan yang tak kunjung selesai, karena memang masing-masing pihak yang terlibat mempunyai pandangan dan pendapat yang berbeda. Seseorang biasanya menyertakan nama orang-orang mulia di sisi Allah sebagai wasilah dengan maksud memudahkan penerimaan-Nya. Dan paling sering adalah tawassul kepada Nabi Muhammad SAW.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebenarnya secara umum praktik tawasul dianjurkan dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Artinya, “Hai orang yang beriman, takwalah kepada Allah. Carilah wasilah kepada-Nya.”

Tawassul artinya ialah berwasilah atau menjadikan perantara doa di mana seseorang menyertai nama orang-orang saleh dalam doanya dengan harapan doa itu menjadi istimewa dan diterima oleh Allah SWT. Tawasul sifatnya hampir sama dengan sholawat nabi karena sholawat itu menyanjung . Sanjungan disitu dimaksudkan agar doa kita di doakan juga oleh Nabi Muhammad SAW dan tersampaikan kepada Allah SWT. Sehingga dengan tawassul, seseorang tidak mengganti siapa yang dimohon (Allah). Yang dituju dalam berdoa tetap Allah dalam tawassul. Hanya saja ketika berdoa, seseorang menyertakan orang-orang mulia di sisi Allah dengan maksud memudahkan penerimaan-Nya.

Ternyata tawassul kepada Nabi Muhammad SAW pernah dilakukan masyarakat Yahudi Bani Khaibar ketika menghadapi musuh-musuhnya sebelum Rasulullah SAW lahir. Dengan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai wasilah, Yahudi Khaibar akhirnya dapat memukul mundur musuh yang menjadi lawannya. Kita ketahui, Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang tidak asing bagi umat Yahudi. Pasalnya ciri-ciri dan sifat Rasulullah SAW tampak jelas dalam kitab suci mereka.

Baca Juga:  Hukum Main Catur dalam Islam, Benarkah Haram?

Yahudi Bani Khaibar menggunakan tawassul sebagaimana dari keterangan Sahabat Ibnu Abbas ra berikut ini:

قال ابن عباس رضي الله عنهما: كانت يهود خيبر تقاتل غطفان، فلما التقوا هزمت يهود فدعت يهود بهذا الدعاء، وقالوا إِنَّا نَسْئَلُكَ بِحَقِّ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِيْ وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ؛ إِلّا أَنْ تَنْصُرَنَا عَلَيْهِمْ. قال: فكانوا إذا التقوا دعوا بهذا الدعاء فهزموا غطفان، فلما بعث النبي صلى الله عليه وسلم كفروا، فأنزل الله تعالى: “وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا” أي بِكَ يَا مُحَمَّدُ، إلى قوله فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Artinya, “Ibnu Abbas bercerita, bahwa dahulu Yahudi Bani Khaibar kerap bentrok fisik dengan Bani Ghathfan. Jika perang berkecamuk, satuan pasukan Bani Khaibar itu mesti cerai-berai. Yahudi Khaibar lalu berdoa seperti ini, ‘Innâ nas’aluka bi haqqin nabiyyil ummiyyil ladzî wa ‘adtanâ an tukhrijahû lanâ fî âkhiriz zamân illâ an tanshuranâ’

(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu melalui kebenaran Nabi Ummi yang Engkau janjikan kepada kami diutus di akhir zaman, kecuali Engkau bantu kami mengalahkan mereka).

Yahudi Bani Khaibar setiap kali berperang, selalu berdoa seperti itu dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan satuan pasukan Bani Ghathfan.

Baca Juga:  Pahami Tawassul dan Hukumnya Agar Tidak Mudah Mensyirikkan Orang Lain, Ini Penjelasannya!

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat, “Mereka itu sebelumnya memohon kemenangan atas orang-orang kafir, maksudnya lewat tawassul “Denganmu hai Muhammad” hingga akhir ayat, kemudian mereka mengingkarinya maka laknatullah jatuh mengenai orang-orang kafir,” (Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajibu an Tushahhah, Surabaya, Haiatus Shafwah Al-Malikiyyah).

Riwayat ini merupakan asbabun nuzul atas Surat Al-Baqarah ayat 89. Untuk lebih jelas, ada baiknya dikutip secara utuh Surat Al-Baqarah ayat 89 berikut ini:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Artinya, “Ketika sebuah kitab dari sisi Allah membenarkan apa yang ada di tangan mereka itu datang kepada mereka–padahal mereka itu sebelumnya memohon kemenangan atas orang-orang kafir, tetapi ketika sesuatu yang sudah mereka kenal dengan baik itu datang ke tengah mereka, mereka mengingkarinya, maka laknatullah jatuh mengenai orang-orang kafir,” (Surat Al-Baqarah ayat 89).

Pada catatan kaki, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani mengatakan bahwa riwayat ini dapat dilihat pada Tafsir Al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkamil Quran, juz II, halaman 26-27. Keterangan Ibnu Abbas ra ini juga sangat mashur di kitab-kitab tafsir yang muktamad.

Baca Juga:  Betulkah Membaca Doa Sebelum Makan "Allahumma Bariklana" Itu Bid'ah?

Pandangan Ibnu Abbas ra. ini juga dikutip ulama tafsir dari kalangan ahli hadist yang otoritatif, yaitu Ibnu Abi Hatim, At-Thabari, Al-Baghawi, Al-Alusi, As-Syaukani. Kemudian pandangan ini juga dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Kitab al-Bidayah. Riwayat ini juga dimasukkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Kitab Dalail, di mana ia tidak meriwayatkan hadits palsu di dalamnya seperti diutarakan di pendahuluan.

Hanya saja setelah Bani Khaibar menang terhadap musuhnya dan Rasulullah SAW diutus dan hadir di tengah-tengah mereka, mereka mengingkarinya sehingga mereka juga terbilang kufur sebagaimana Bani Ghathfan di masa itu. Dan kita tahu pada masa sekarang ini praktek tawassul kepada Nabi Muhammad SAW tetap banyak diamalkan oleh sebagian besar umat Islam. Wallahua‘lam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.