Mengenal Tradisi Bahtsul Masail Ala Pondok Pesantren Salaf

bahtsul masail

Pecihitam.org – Indonesia banyak sekali memiliki budaya yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi bahkan sampai hari ini. Salah satunya adalah tradisi bahtsul masail, yaitu keilmuan tentang pengambilan keputusan atas suatu permasalah dibahas secara bersama-sama dan tentu saja sudah divalidasi oleh kalangan orang-orang yang ‘alim.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jadi dalam memutuskan permasalahan tidak hanya diputuskan oleh satu dua orang saja. Apalagi hanya bermodalkan terkenal yang ke’alimannya sangat diragukan.

Pondok-pesantren adalah lembaga yang sangat berjasa dalam membentuk manusia yang paripurna, bahkan negara ini merdeka juga atas peran penting pesantren dalam prosesnya. Jebolan-jebolan pesantren kerap kali mampu menyikapi suatu permasalahan sampai pada akar-akarnya.

Hal ini tentu saja karena pesantren memiliki suatu instrumen yang kompleks untuk bisa menempa berbagai model manusia yang ada didalmya, salah satunya adalah dengan adanya tradisi forum Bahtsul masail.

Bagi seorang santri, Bahtsul Masail merupakan suatu hal yang sangat familiar didengar ditelinganya sebab tradisi ini sendiri menjadi salah satu instrumen penting dalam membantu mengasah ketajaman seorang santri dalam melihat dan membahas suatu permasalahan yang ada. Bahtsul masail juga merupakan salah satu tradisi khas yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:  Ciri Imam Mahdi Menurut Hadits Nabi Muhammad

Bahtsul Masail adalah dialog argumentatif yang dilakukan oleh sekelompok orang yang sedang membahas tentang suatu permasalahan keagamaan. Karena merupakan suatu forum dialog yang argumentatif maka tentu saja setiap pendapat yang disampaikan dalam forum tersebut harus dilandasi dengan referensi yang jelas juga valid.

Menurut Gus Ulil Abshar Abdalla Dalam forum Bahtsul masail cakupan permasalahan yang dibahas memiliki beberapa bagian atau tingkatan yaitu:

  1. Masa’il Waqi’iyyah yaitu suatu permasalah yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Seperti masalah Ibadah ataupun masalah jual beli, contohnya membahas masalah jual beli pupuk yang terbuat dari kotoran hewan dan kasus-kasus serupa atau semacamnya.
  2. Masa’il Maudlu’iyyah yakni masalah-masalah tematik yang membutuhkan bantuan para spesialis yang dibutuhkan dalam bidangnya masing-masing. Contohnya seperti pembahasan mengenai Pajak, asuransi, dan lain-lainnya. Artinya pembahasannya itu harus dengan orang-orang yang faham dalam masalah yang dibahasnya.
  3. Masa’il Qonuniyyah yaitu Pembahasan mengenai Masalah undang-undang sehingga tidak bisa dibahas secara serampangan dan asal-asalan.

Kemudian referensi yang dipakai dalam bahtsul masail juga biasnya tidak langsung menggunakan Al-Qur’an dan Hadits. Melainkan hanya menggunakan kitab-kitab para ulama, adapaun jika terpaksa memakai Al-Qur’an dan Hadits maka biasanya tetap mengambil dari keterangan para Ulama (Mujtahid) yang menafsiri tentang Ayat Al-Qur’an atau Hadits yang bersangkuta.

Baca Juga:  Empat Alasan Imam Al-Syafi’i Masyhur Sebagai Ahli Fiqih

Kenapa demikian? Sebab para ulama Nahdliyin sepakat bahwa ketika melakukan “Qiyas” maka tidak langsung mengqiyaskan kepada Al-Qur’an dan Hadits melainkan mengqiyaskan kepada para Mujtahid seperti para Imam Madzhab (Imam Syafi’i dll). Karena bagi ulama Nahdliyin mengqiyaskan langsung kepada Al-Qur’an atau Hadits itu terlalu tinggi tingkatannya dan dirasa bukan wilayah yang pantas untuk dijangkau.

Umunya Bahtsul masail yang diadakan oleh Nahdlatul Ulama terbagi tingkatan forum, biasanya disetiap tingkatan kepengurusannya juga diadakan. Artinya dari mulai tingkat Ranting sampai dengan pengurus pusat (Pengurus Besar) biasanya mengadakan agenda Bahtsul masail untuk membahas masalah sehari-hari ataupun tematik.

Dalam Bahtsul juga ada struktur untuk bisa melancarkan jalannya acara, seperti halnya terdapat moderator untuk bisa memandu jalannya acara kemudian bertindak juga sebagai pemapar masalah yang akan dibahas.

Kemudian setelah selesai baru kemudian anggota bahtsul masail saling mengutarakan pendapat dan biasanya akan ada argumen. Sampai ketika sudah dianggap cukup baru kemudian akan ditashih oleh orang-orang yang mumpuni keilmuannya dalam hal ini biasanya para Kiyai.

Baca Juga:  4 Hal yang Dianjurkan Saat Berdoa Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani

Adapaun dalam kasus yang tematik biasanya akan mendatangkan tenaga ahli dalam bidang pembahasannya untuk bisa mengevaluasi dan memperjelas bahasan yang dibahtsul masailkan.

Sebab seperti yang pernah dikatan oleh KH. Sahal Mahfudz dalam buku beliau yakni Nuansa Fiqh Sosial, bahwa Fiqh itu dinamis dan selalu mengkitu perkembangan zaman. Artinya permasalahan Agama akan selalu ada sesuai dengan perkembangan zamannya. Seperti halnya yang terjadi kasus belakangan ini, terkait sholat jum’at dan masjid-masjid yang ditutup.

Maka kita harus bisa menyikapi permasalahan-permasalahan baru tersebut dengan baik lagi bijak. Salah satunya dengan cara mencari sumber yang valid dan terpercaya akan keilmuannya dan bukan mengandalkan orang yang hanya modal terkenal dan percaya diri saja. Demikian semoga bermanfaat. Tabik.!

Fathur IM