Berita Bohong Menurut Pandangan Al Quran dan Cara Menyikapinya

berita bohong menurut al quran

Pecihitam.org – Disadari atau tidak, semua informasi yang kita peroleh akan terekam oleh memori otak. Informasi tersebut akan membentuk pola pikir dalam menyikapi sesuatu. Jika informasi yang kita peroleh sangat positif maka akan membentuk pola pikir pada diri kita yang positif, demikian sebaliknya. Sebagai contoh: ketika informasi yang selalu kita terima berupa sisi buruk terhadap pemerintahan maka kita akan selalu menilai buruk terhadap pemerintahan, demikian sebaliknya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dengan kemudahan di atas, sebagai manusia modern kita akan selalu update dengan kondisi dunia hari ini. Bahkan setiap saat kita dapat dengan mudah memperoleh pengetahuan, baik sains maupun agama. Namun yang menjadi pertanyaan adalah: seberapa valid kah informasi yang kita konsumsi setiap hari? Justru bisa saja yang setiap hari tersaji dihadapan kita adalah sebuah berita bohong? Lantas bagaimana kita menyikapinya?

Untuk menyikapi berita bohong berikut alah cara menyikapi dengan bijak menurut Al-Quran bagi seorang muslim:

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ [۱۱] لَّوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفْكٌ مُّبِينٌ [۱۲]

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”  (Q.S. An-Nur:11-12)

Ayat di atas turun berkaitan dengan perjalanan Perang Bani Musthaliq pada tahun ke-6 Hijriyah. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Saw. jika hendak melakukan perjalanan, beliau mengundi para isterinya. Barangsiapa yang keluar dalam undian tersebut, maka ia akan itu bersama Rasulullah Saw.

Baca Juga:  Manfaat Meminta Maaf dan Memaafkan, Salah Satunya Mendapat Kemuliaan

Keluarlah dalam undian Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, maka Rasul pun pergi bersamanya dalam perang Bani Musthaliq. Ummul Mukminin menaiki sekedup (rumah kecil di atas unta) dalam perjalanan tersebut.

Dalam perjalanan pulang dari perang tersebut, Rasulullah Saw. berhenti dan menginap ketika telah dekat dengan kota Madinah. Kemudian beliau memberitahukan untuk melanjutkan perjalanannya pulang dan orang-orang saling memberitahukan kepulangan.

Saat itu, Sayyidah Aisyah keluar untuk menyelesaikan urusannya dan sekembalinya dari urusan tersebut beliau mendapati kalungnya terlepas. Beliaupun bergegas mencarinya hingga menemukan kalung tersebut.

Namun saat itu, rombongan pasukan telah pergi meninggalkan tempat tersebut sehingga Sayyidah Aisyah tidak mendapati seorangpun. Beliau pun kembali ke tempat semua dan karena rasa kantuknya beliaupun akhirnya tertidur.

Baca Juga:  Mengenal Lalat Dalam Penjelasan Al-Qur’an Dan Hadits

Dalam kondisi demikian lewatlah Shafwan bin Mu’aththal as-Sulami yang ternyata juga terlambat bergabung dengan pasukannya. Saat melihat Sayyidah Aisyah, ia pun ber-istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan Sayyidah Aisyah terbangun langsung menutupkan jilbab ke wajahnya.

Shafwan pun langsung menundukkan untanya untuk segera Sayyidah Aisyah naiki. Keduanya pun segera menyusul pasukan dan mendapati pasukan tersebut saat sedang beristirahat. Perlu diketahui bahwa Shafwan bin Muaththal merupakan sahabat Rasul yang dikenal agamanya, kebaikan, kesucian, dan sikap malunya.

Namun ketika Abdullah bin Ubay mengetahui kejadian tersebut, ia menyebarkan berita bohong tentang Ummul Mukminin dengan penuh kedustaan. Berita bohong tersebut sengaja disebarkan orang-orang munafik kepada kaum muslim untuk melemahkan keimanan mereka.

Untuk menjawab permasalahan yang terjadi, maka turunlah ayat al-Qur’an di atas sehingga padamlah api fitnah. Dalam ayat tersebut terkandung beberapa nilai yang dapat menjadi pedoman hidup seorang muslim dalam menyikapi berita bohong.

Sangat jelas Allah Swt. menegaskan bahwa berita bohong sekalipun bisa merupakan sebuah kebaikan bagi seorang Muslim. Dan bagi yang menyebarkan mendapatkan dosa atas apa yang mereka kerjakan. Orang yang paling andil besar baginya mendapatkan adzab yang besar pula.

Baca Juga:  Ghibah Adalah Penyakit yang Berbahaya Bahkan Dosanya Lebih Berat daripada Zina

Namun dosa maupun adzab bukanlah urusan seorang hamba, karena hal tersebut merupakan kekuasaan Allah Swt. Sehingga pada ayat tersebut juga diperingatkan mengapa orang-orang mukmin tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri.

Disinilah ajaran yang terkandung menurut ayat al Quran tersebut dalam menyikapi berita bohong yaitu dengan berprasangka baik terhadap diri sendiri. Hal tersebut dengan penegasan, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

Oleh karena itu, setiap dari kita yang merupakan umat Islam hendaknya tidak mudah percaya atas informasi yang begitu cepat tersebar. Kita harus selalu mempertimbangkan apakah berita tersebut benar atau justru merupakan berita bohong yang nyata yang akan menghancurkan persatuan. Jika sikap tersebut sudah tertanam dalam diri kita masing-masing, maka berita bohong tidak akan tersebar dan lenyap begitu cepat diantara kita.