Cerita Mussu Selleng Hingga Raja Islam Bugis Penentang Perbudakan

Cerita Mussu Selleng Hingga Raja Islam Bugis Penentang Perbudakan

Pecihitam.org – Berbicara persoalan perbudakan, penulis akan mulai dengan membeberkan dua dalil yang memerintahkan terkait pembebasan budak atas kepemilikan tuan budak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, itu di Surah Al Balad yang artinya “Tetapi ia tidak menempuh jalan jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu, apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?, yakni melepaskan budak dari perbudakan” Al Balad: 11-13.

Dalil ke dua yakni Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA yang artinya “Setiap orang yang membebaskan budak muslim, niscaya Allah SWT akan membebaskan anggota tubuhnya dengan setiap anggota tubuh budak itu dari api neraka”.

Sistem perbudakan mengakar lama di sejumlah kerajaan di Indonesia maupun di dunia. Sistem penguasaan raja atas budak ini seolah-olah menjadi hal yang biasa diberlakukan di zaman yang disebutkan Karl Marx dalam ‘Hukum Perkembangan Manusia’ sebagai fase Feodal. Dimana yang saling berkontradiksi yakni si tuan budak (raja) dan budak.

Cara exploitatif yang diberlakukan oleh raja-raja pendahulu nyaris sama yakni mulai dari kerja tanpa upah, hingga bisa diperjualbelikan. Artinya, berposisi budak bak tercerabut status sebagai manusia. Hak dan kewajiban budak ada pada ujung telunjuk sang Raja.

Sistem yang sangat ekploitatif ini diberlakukan di semua sistem kerajaan di masa lalu, tidak terkecuali kerajaan-kerjaan di Sulawesi. Tercatat dalam sejarah, di pulau yang di zaman Hindia Belanda menyebut dengan Celebes ini hidup 3 Kerajaan adikuasa yakni Kerajaan Gowa yang berfiliasi dengan Tallo, Kerjaan Kedatuan Luwu, dan Kerajaan Bone.

Menelisik perjalanan kerajaan-kerajaan ini, satu hal cukup menarik dikaji yakni perjalanan Islam hingga kebijakan sistem perbudakannya.

Baca Juga:  Mengenal Mansa Musa; Raja Islam Penguasa Emas dari Afrika

Dari tiga kerajaan besar itu, Gowa Tallo merupakan kerajaan pertama yang memeluk Islam sehingga bentuk kerjaan berubah menjadi Kesultanan dan Raja diberi gelar Sultan.

Dalam sejumlah referensi menyebutkan bahwa Gowa resmi memeluk Islam dan menjadi agama resmi kerjaan pada 22 September 1605 Masehi atau 9 Jumaidil Awwal 1014 Hijriah.

Ini tepat di zaman Raja Gowa ke 14 I Mange’rangi Daeng Manrabia atau Sultan Alauddin Awwalul Islam (nama Kesultanan) dan Raja Tallo I Malingkang Daeng Manyonri atau Sultan Abdullah Awwalul Islam.

Setelah resmi menjadikan Islam sebagai agama wajib penduduk Kerajaan Gowa, 3 Ulama besar dari tanah Sumatera didatangkan untuk pendalaman Ilmu agama di Kesultanan Gowa.

Ke-tiga Ulama itu yang masyarakat Gowa menyebut dengan Dato Tallu. Mereka adalah Dato Ribandang yang bernama asli Abdullah Makmur (Khatib Tunggal), Dato ri Pattimang atau Sulaiman (Khatib Sulung), dan Dato ri Tiro (Khatib Bungsu. Ke tiga ulama ini berperan penting dalam pendidikan Agama Islam juga islamisasi di Gowa dan sekitarnya.

Islamisasi Bone Cerita Mussu Selleng (Islamic War)

Prof Ahmad M Sewang dalam bukunya ‘Islamisasi Kerajaan Gowa; Abad XVI sampai Abd XVII’, Islamisasi ini juga ternyata makin dimassifkan berupa himbauan oleh Sultan Alauddin kepada seluruh Kerajaan di bawah kekuasaan Gowa.

Himbuan ini dilakukan bersamaan dengan mengirimkan sejumlah petugas kerajaan bersama sederet hadiah. Tercatat, himbauan agar masuk Islam oleh Sultan Alauddin ini mendapat penolakan dari Koalisi Politik tiga kerajaan besar yang dalam lontara disebutkan dengan istilah Tellupoccoe.

Ke-tiga kerajaan (Tellupoccoe) tersebut yakni Kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo. Mereka bersatu untuk menolak himbauan dari Sultan Alauddin. Al hasil, perang besar-pun tidak bisa dihindarkan.

Baca Juga:  Perjalanan Sejarah Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Nusantara

Perang ini yang dalam lontara disebutkan dengan istilah Mussu Selleng atau peperangan Islam. Dari Mussu Selleng itu, Kerajaan Bone, Soppeng, Wajo berhasil ditaklukkan dan misi Islamisasi dimassifkan.

Bone merupakan kerajaan terakhir yang diperangi oleh Gowa dalam agenda Mussu Selleng ini yakni pada tahun 1916 (ada yang menyebut 1611) tepat jelang akhir masa jabatan Raja Bone ke 11 La Tenri Rua Arung Palakka, sedangkan Soppeng (1609) dan Wajo (1610).

Kerajaan Bone akhirnya menganut agama Islam, tetapi belum menjadi agama wajib di Kerajaan. Nanti setelah masa Raja Bone ke 13 La Maddaremeng.

Raja Islam Bugis Penentang Perbudakan

Raja Islam Bugis penentang perbudakan itu bernama La Maddaremeng Matinroe ri Bukaka. Di masanya, ia menerapkan aturan Islam secara ketat termasuk mewajibkan Islam sebagai agama Kerajaan Bone.

Raja La Maddaremeng merupakan satu dari sekian Raja Bone yang memiliki garis keturunan istana. La Maddaremeng merupakan raja pertama di Sulawesi bahkan di Nusantara yang menyatakan sikap menentang sistem perbudakan, meski kerajaan Bone sendiri telah mempraktekkan sistem itu sejak raja pertama Bone Manurunge ri Matajang Mata Silompoe, juga kerajaan besar di Sulawesi seperti Gowa Tallo dan Kedatuan Luwu.

Di masa sebelum La Maddaeremeng, budak sangat diberlakukan tragis. Mereka bisa dipaksa bekerja tanpa dibayar sepeserpun, hingga bisa diperjual belikan.

Sikap menentang sistem perbudakan di Bone dilakukan dengan membuat kebijakan pembebasan Budak. Raja bernama Islam Sultan Muhammad Saleh ini mengeluarkan perintah agar seluruh budak dibebaskan dari perbudakan.

Baca Juga:  Bukan Samudera Pasai Ini Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Abdurrazak Daeng Patunru dalam bukunya ‘Sejarah Bone (1989)’ menggambarkan bahwa Arumpone ke XIII ini berpendapat, semua orang (Islam) adalah mahluk yang merdeka. Sehingga, tidak boleh lagi diperbudak oleh siapapun.

Kebijakan positif La Maddaeremeng ini ternyata membuat sejumlah orang di lingkaran Istana Kerajaan Bone merasa risih dan cenderung tidak bersepakat.

Tidak hanya itu, bahkan sejumlah kerajaan tetangga juga merasakan hal yang demikian atas kebijakan Lamaddaremeng. Salah satu orang yang paling menentang kebijakan La Maddaremng ini adalah ibunya sendiri We Tenrisoloreng Datu Pattiro.

We Tenrisoloreng kemudian melapor ke Kerajaan Gowa perihal kebijakan putranya yang kontroversi itu. Di Gowa We Tenrisoloreng bertemu langsung dengan Raja Gowa ke XV Sultan Malikussaid, pengganti Sultan Alauddin yang mangkat. Tidak berselang lama, Kerajaan Gowa menggalang kekuatan sejumlah kerajaan lain untuk menyerang Kerajaan Bone untuk ke sekian kalinya.

Dalam berbagai sumber, kerajaan-kerajaan yang bergabung dalam koalisi ini berjumlah 4 kerajaan diantaranya Gowa, Wajo, Soppeng, dan Sidenreng. Hingga pada tahun 1644, Kerajaan di bawah tangan La Maddaremeng ditaklukan. La Maddaremeng beserta ratusan orang ditawan di Makassar. Kisah penawanan ini dalam lontara Bugis disebutkan dalam cerita “Naripoatana Bone Seppulo Taung Ittana (maka diperbudaklah Bone tuju belas tahun lamanya)”.