Inilah Point Penting dari Misi Dakwah Nabi Muhammad SAW

Inilah Point Penting dari Misi Dakwah Nabi Muhammad SAW

Pecihitam.org- Keberagaman bangsa Arab didominasi oleh paganisme di mana penyembahan terhadap tuhan dimanifestasikan dengan penyembahan terhadap benda-benda yang diartikan sebagai tuhan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berhala-berhala besar dan kecil memenuhi Ka’bah sebagai tuhan-tuhan (alihah), sebagai sumber segala keyakinan dan pengambilan keputusan. Keberagamaan seperti inilah yang ingin diubah dan dibentuk kembali oleh Nabi dengan konsep tauhid.

Dengan demikian reformasi pertama yang menjadi point penting misi dakwah nabi adalah reformasi keimanan. Secara konsisten, selama lebih kurang 13 tahun keberadaannya di Mekkah, Nabi mengajak kaum Quraisy untuk meyakini keesaan Allah dan untuk menyembah hanya kepadaNya.

Hal ini tergambar dari surat-surat Makkiyyah dan di antara topik-topik utamanya, menurut al-Qaththan (t.t. : 55, 63), adalah ajakan untuk bertauhid dan beribadah hanya kepada Allah semata, penegasan tentang kerasulan Nabi, tentang Hari Kebangkitan dan Pembalasan (Hari Kiamat), perbedaan dengan kaum musyrikin, serta gambaran tentang alam semesta.

Setelah keimanan, atau pada saat yang sama, point penting misi dakwah nabi kedua yang direformasi adalah etika (akhlak). Etika dapat diartikan sebagai tata cara atau prilaku seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Etika juga menggambarkan suasana mental dalam diri seseorang yang terimplementasikan dalam tindakan-tindakan nyata. Reformasi etika merupakan upaya yang dilakukan Nabi untuk memperbaiki prilaku masyarakat Arab yang selama ini didasarkan kepada paganisme.

Baca Juga:  Hafshoh binti Umar, Istri Nabi yang Menjadi Pemilik Mushaf Pertama

Reformasi etika merupakan lanjutan dari apa yang harus dilakukan dalam rangka mengisi struktur bangunan piramida Islam, sebagaimana telah disebut di atas. Jika keimanan merupakan landasan dasar dari struktur tersebut, etika adalah lapisan di atasnya.

Dengan kata lain, setelah membangun konsep tauhid, Nabi juga harus membangun etika hubungan yang dilandasi oleh tauhid tersebut, baik menyangkut hubungan antara manusia dengan penciptanya maupun antara sesama manusia.

Menurut al-Qaththan (t.t.: 63), salah satu topik utama dari surat-surat Makkiyyah adalah juga tentang peletakan dasar-dasar umum bagi pembangunan hukum dan etika bermasyarakat.

Aspek terpenting dari reformasi etika adalah upaya Nabi dan sahabatnya menyadarkan masyarakat bahwa penyembahan terhadap Tuhan tidak dapat direpresentasikan (diwakilkan) melalui penyembahan terhadap benda-benda alam seperti batu (berhala), gunung, dan sebagainya.

Sebagai gantinya, penyembahan terhadap Allah dilakukan tanpa perantara apapun. Allah tidak dikonkritkan dalam suatu bentuk, tetapi diwujudkan dalam konsep yang abstrak.

Selanjutnya, reformasi etika ditujukan untuk memperbaiki hubungan kemanusiaan, di mana paling sedikit terdapat dua prilaku bangsa Arab yang ingin dihilangkan. Pertama adalah masalah pembunuhan terhadap anak perempuan.

Baca Juga:  Ketika Turunnya Wahyu Terhenti Sementara Waktu

Menurut catatan al-Qur’an (QS. 16: 58-59), orang Arab saat itu merasa tertekan dan emosional apabila dianugerahi seorang anak peremptan (untsa). Lantas ia berfikir apakah membiarkan anak itu hidup tetapi menanggung malu, atau menguburnya hidup-hidup.

Dengan demikian, pembunuhan terhadap anak perempuan ini dilandasi oleh asumsi bahwa anak perempuan, atau perempuan pada umumnya, akan membawa aib atau kehinaan bagi individu atau suku yang memilikinya.

Konsep tentang perempuan yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad sangat berbeda dengan kebiasaan bangsa Arab tersebut. Bagi Nabi, perempuan mempunyai kedudukan yang sama seperti laki-laki dan merupakan pasangan bagi bagi laki-laki guna kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri.

Dalam prakteknya, dari enam orang anak Nabi dengan isterinya Khadijah, empat di antaranya adalah perempuan-perempuan yang sangat dikasihi Nabi dan dibesarkannya hingga mandiri. Salah seorang di antaranya adalah Fatimah yang kemudian menjadi sosok yang darinya terlahir keturunan Nabi hingga saat ini.

Prilaku kedua yang ingin menjadi point penting misi dakwah Nabi atas bangsa Arab adalah reformasi masalah perbudakan, yaitu perbudakan di mana seseorang mendominasi secara total orang lain yang telah dibeli atau diwarisinya.

Baca Juga:  Wahai Rasulullah, Izinkan Saya untuk Berzina!

Pada umumnya, status atau kedudukan budak tersebut sama dengan barang, sehingga ia dapat diperjual belikan, dihadiahkan, atau ditukarkan dengan yang lain. Sedangkan bagi majikannya, kepemilikan budak dapat pula menjadi simbol kekayaan atau ketinggian status sosialnya di tengah-tengah masyarakat.

Nabi sendiri secara bertahap membebaskan para budak dan sistem perbudakan tersebut dengan berbagai pendekatan. Di antaranya ialah upaya Nabi dan sahabatnya membeli para budak dan kemudian memerdekakannya, seperti yang terjadi atas diri Bilal bin Rabah. Selain itu, Nabi juga menyampaikan sejumlah aturan di mana salah satu sanksi apabila melanggar aturan itu adalah membebaskan budak (lihat QS. 4:92;5: 89; 58: 3; 90: 13).

Mochamad Ari Irawan