Daud ath-Tha’i, Waliyullah yang Hanya Punya Harta 20 Dinar dalam 20 Tahun

Daud ath-Tha'i

Pecihitam.org – Beliau bernama lengkap Abu Sulaiman Daud bin Nushair ath-Tha’i, berasal dari Kufah. Beliau adalah seorang yang begitu masyhur kepintarannya. Daud ath-Tha’i tercatat pernah menjadi murid Abu Hanifah, dan setelah diperkenalkan dengan jalan kesufian oleh Habib ar- Ra’i, ia membuang semua buku- buku yang dimilikinya ke sungai Euphrat. Beliau meninggal dunia pada tahun 165 H. / 781 M.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sejak kecil batinnya dicekam duka sehingga ia sering menghindar dari pergaulan. Yang menjadi sebab pertaubatannya adalah seorang wanita yang sedang berkabung, yang melantunkan syair:

“Pipimu yang manakah yang telah mulai kendur? Dan matamu yang manakah yang mula kabur?”

Setelah mendengar hal tersebut, Kesedihan pun mulai mencekam batinnya dan kegelisahan pun tak dapat dibendung. Dalam keadaan yang seperti inilah ia mulai belajar di bawah bimbingan Imam Abu Hanifah.

“Apakah yang telah terjadi terhadap dirimu?”, tanya Abu Hanifah kepadanya, Daud pun mengisahkan pengalamannya dengan menambahkan:

“Dunia ini tidak lagi mampu menarik hatiku. Telah terjadi sesuatu di dalam diriku yang tak dapat kumengerti dan juga tak dapat dijelaskan oleh buku-buku atau pun keterangan-keterangan para ahli yang kutemukan”. Lalu Abu Hanifah menyarankan: “menghindarlah dari manusia-manusia lain”.

Maka Daud berpaling dari manusia-manusia lain dan mengunci diri di dalam kamarnya. Setelah beberapa lama berselang, barulah Abu Hanifah datang menjenguknya, lalu Abu Hanifah berkata kepadanya:

Baca Juga:  Mengenal Sosok Abu Ibrahim Woyla, Sang Waliyullah Asal Aceh

“Aduhai, caranya bukan dengan bersembunyi di dalam rumah begini, tanpa mengucapkan sepatah kata pun juga. Yang harus engkau lakukan adalah hadir di kaki para imam dan mendengarkan ajaran-ajaran mulia yang mereka ajarkan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun engkau harus mencamkan segala sesuatu yang mereka ajarkan itu. Dengan berbuat demikian engkau akan lebih memahami masalah-masalah yang mereka bicarakan itu daripada mereka sendiri”.

Setelah menyadari maksud dari kata-kata Abu Hanifah itu, Daud ath-Tha’i kembali mengjkuti pelajaran- pelajarannya. Setahun lamanya ia duduk di kaki para imam, hadir di majelis mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menerima keterangan- keterangan mereka dengan tekun dan sungguh-sungguh, beliau hanya cukup mendengarkan saja tanpa memberi atau mengajukan tanggapan apapun.

Setelah berakhir masa setahun tersebut Daud berkata: “Ketekunanku dalam setahun itu sama dengan tiga puluh tahun lamanya bekerja keras (mujahadah)”.

Kemudian beliau bertemu dengan Habib ar-Ra’i, yang membawanya ke jalan kesufian (mistik). Jalan ini ditempuhnya dengan tawakkal, semua buku yang dimilikinya dilemparkannya ke dalam sungai.

Kemudian ia mengasingkan diri dan membuang segala harapan dari manusia lainnya. Daud menerima uang sebanyak dua puluh dinar sebagai warisan. Jumlah ini dihabiskannya dalam waktu dua puluh tahun.

Baca Juga:  Ibnu Thufail, Sang Filsuf Muslim Kedua di Belahan Barat

Beberapa orang guru besar kala itu mencela perbuatannya tersebut, mereka berkata: “Di atas jalan ini kita harus memberi, bukan menabung untuk diri sendiri”, Namun Daud ath-Tha’i menjelaskan: “Dengan uang sebanyak ini aku dapat menenangkan diriku. Uang sebanyak ini cukup bagi diriku hingga mati nanti”.

Daud menjalani kehidupan yang sedemikian prihatin sehingga untuk makannya ia sering mencelupkan roti ke dalam air, kemudian mereguk air itu, sambil berdalih: “Sebelum memakan roti ini aku masih sempat membaca lima puluh ayat al-Qur’an. Mengapa harus kusia-siakan hidupku ini?”

Pada suatu ketika penduduk desa menyaksikan Daud ath-Tha’i bergegas- gegas hendak melakukan shalat. ”Mengapa engkau tergesa-gesa seperti itu?”, tanya orang-orang kepada Daud. “Pasukan yang berada di gerbang kota sedang menantikan kedatanganku”, jawabnya. “Pasukan siapa?”, tanya mereka. lalu Daud menjawab: “Penghuni-penghuni kubur”.

Harun ar-Rasyid dan Abu Yusuf pernah mengunjunginya untuk mendengarkan nasehat darinya. Ketika Daud ath-Tha’i memberikan wejangannya, Harun ar- Rasyid pun menangis tersedu-sedu. Saat hendak kembali ke istana, Harun menaruh sekeping dinar sambil berkata: “ini adalah harta yang halal”.

“Ambillah uang itu kembali”, cegah Daud. “Aku tidak memerlukan uang itu. Aku telah menjual sebuah rumah yang kuterima sebagai warisan yang halal dan hidup dengan uang penjualan itu. Aku telah bermohon kepada Allah, jika uang itu telah habis, agar Dia mencabut nyawaku, sehingga aku tidak akan membutuhkan bantuan dari seorang manusia pun. Aku berkeyakinan bahwa Allah telah mengabulkan permohonanku itu”.

Baca Juga:  Biografi Syaikh Ibrahim al Bajuri Pengarang Hasyiyah al Bajuri

Harun ar-Rasyid dan Abu Yusuf kembali ke istana. Kemudian Abu Yusuf mendatangi orang yang diamanahkan uang itu oleh Daud dan bertanya: “Masih tersisa berapakah uang Daud hari ini?” “Dua dirham”, jawab orang itu. “Setiap hari Daud membelanjakan satu sen uang perak”.

Abu Yusuf mengira-ngira. Lalu Beberapa hari kemudian di dalam masjid ia mengumumkan di depan semua jama’ah: “Hari ini Daud meninggal dunia”. Setelah ditelusuri ternyata kata-kata Abu Yusuf itu benar.

orang-orang bertanya kepada Abu Yusuf: “Bagaimanakah engkau mengetahui kematian Daud?”, ia pun menjawab: “Aku telah memperhitungkan bahwa pada hari ini Daud tidak mempunyai uang lagi. Aku tahu bahwa doa Daud ath-Tha’i pasti dikabulkan Allah.

Demikian sekilas perjalanan seorang sufi besar, ahli zuhud terkenal pada masanya bahkan hingga saat ini namanya masih harum dan disebut-sebut dalam berbagai literatur keilmuan, terkhususnya dalam bidang kesufian. semoga bermanfaat, wallahua’lambisshawab!

{Disarikan dari kitab tazkiratul auliya karya Syeikh Fariduddin ‘Atthar}

Muhammad Haekal