Dialektika Islam dan Budaya Lokal Jawa dalam Aktivitas Sosial

Dialektika Islam dan Budaya Lokal Jawa dalam Aktivitas Sosial

Pecihitam.org – Artikel ini akan membahas terkait Dialektika Islam dan Budaya Lokal Jawa dalam Aktivitas Sosial. Ada tiga metode penyebaran Islam, berdasarkan studinya terhadap cerita-cerita seputar islamisasi di Nusantara, yaitu:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

  • oleh pedagang muslim dalam jalur perdagangan yang damai
  • oleh para da’i dan orang suci (wali) yang datang dari India atau Arab yang sengaja bertujuan mengislamkan orang-orang kafir dan meningkatkan pengetahuan mereka yang telah beriman
  • dengan kekuasaan atau memaklumkan perang terhadap negara-negara penyembah berhala.

Jadi dengan demikian bisa disimpulkan bahwasanya Islam disebarkan dengan cara perdagangan, pendakwah sufi dan politik (Graaf, 1989: 2).

Dari sekian banyak cara penyebaran Islam tersebut, kiranya yang paling dominan adalah pendapat yang menyatakan bahwa Islam disebarkan melalui perdagangan. Pendapat seperti ini diangkat oleh sarjana-sarjana barat khususnya Belanda.

Namun demikian, ada beberapa sarjana Belanda yang meragukan mengenai teori perdagangan ini, seperti Van Leur. Menurutnya, teori ini lemah, sebab tidak mungkin Islamisasi dapat dilakukan secara besar-besaran oleh kaum pedagang dan perkawinan.

Di antara sejarawan Asia, seperti S.Q. Fatimi juga menyangkal teori perdagangan ini. Menurutnya bahwa Islam disebarkan justru oleh kaum pendakwah sufi dari wilayah Bengal.

Hal tersebut terbukti dengan corak Islam yang bersifat mistik yang bersesuaian dengan sikap mistik masyarakat di kawasan ini sebelumnya (Wahid, 1982: 41; Azra, 1994: 33; Drewes dalam Ibrahim, 1989: 35-36; dan Ricklefs dalam Bizawie, 2002: xx).

Para sejarawan banyak yang menyokong mengenai teori da’i sufi, antara lain ialah Fatimi, John, dan Tjandrasasmita. Melalui temuan terhadap naskah-naskah lama di beberapa wilayah Jawa, ternyata banyak dijumpai naskah yang bertemakan penyebaran Islam melalui kegiatan sufistik.

Baca Juga:  Inilah Kontribusi NU dalam Menguatkan Hubungan Agama dengan Nasionalisme

John begitu yakin bahwa penyebaran Islam dilakukan oleh kaum sufi. Sebab baginya sangat tidak mungkin Islam disiarkan secara besar-besaran oleh kaum pedagang yang motifnya ialah mencari keuntungan secara material. Islam tentu disebarkan oleh pengembara sufi, terutama di abad ke-13 M.

Faktor keberhasilan kaum sufi di dalam proses islamisasi ialah kemampuan kaum sufi untuk mengadopsi “keyakinan lokal” menjadi bagian penting di dalam ritual-ritual Islam.

Ajaran Islam dan budaya lokal sudah dikemas secara atraktif, sehingga penyebaran Islam berwajah damai, menekankan pada aspek batin atau esoteris. Untuk membuktikannya, John mengkaji literatur lokal yang memiliki keterkaitan dengan para pengembara sufi yang diyakini oleh penduduk lokal Nusantara pada zaman pra Islam.

Kemudian, doktrin kaum sufi tersebut menjadi simbol-simbol kerajaan yang berupa martabat-martabat raja-raja Melayu yang menggunakan simbol-simbol orang keramat (Mudzhar, 1990: 18; 2002: xx-xxxi).

Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa catatan sejarah Islam di Jawa sangat tergantung pada teks-teks yang menggambarkan berbagai peristiwa di masa lalu, akan tetapi, bahan-bahan teks tersebut tak selalu dijumpai dalam kajian-kajian Islam awal di Jawa.

Akibatnya, mau tidak mau haruslah mencari bahan-bahan perbandingan untuk membandingkan berbagai corak Islam di Nusantara dengan Islam di belahan lain. Untuk itu ditemukanlah wilayah bandingan tersebut yaitu Islam di wilayah India Selatan, khususnya Kerala sebagai sumber Islam yang memiliki kesamaan dengan Islam Arab dan Dekkan sebagai sumber orde keagamaan dan politik Indo-Persia.

Islam di Jawa, ternyata menggabungkan kedua sumber tersebut, dengan cara mengambil sumber orde keagamaan dari Kerala dan sumber religio-politik atau kerajawian dari tradisi kerajaan Indo-Persia (Woodward, 2001: 81).

Baca Juga:  3 Kerajaan Islam di Indonesia Dari Masa ke Masa

Corak Islam di Jawa dalam banyak hal juga menyerupai Islam di Asia Selatan (Malabar di barat dan Koromandel di timur). Kerala, di pantai Malabar menjadi daerah penting untuk perdagangan rempah-rempah. Daerah ini terkenal semenjak zaman Romawi.

Oleh karena itu, daerah ini juga sangat mungkin menjadi daerah transit bagi kaum pedagang dengan tujuan perdagangan dan sekaligus menyiarkan Islam dan kaum sufi yang secara sengaja mencari daerah baru untuk pengembangan Islam.

Jadi, sangat mungkin bahwa Islam telah datang di daerah ini sejak awal di Arab, bahkan beberapa saat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kesamaan itu dapat dilihat dari sistem pendidikan madrasi, upacaraupacara keagamaan, seperti slametan dan bahannya seperti apem dan juga tata ritual berdasarkan kesamaan madzhab di dalam Islam (Woodward, 2001: 84).

Kemiripan keagamaan dan sosial, serta apa yang dikenal sebagai jalinan perdagangan India Selatan dan Asia Tenggara mengesankan Kerala merupakan salah satu sumber Islam Jawa dan juga mungkin suatu model masyarakat muslim kawasan pantai (Woodward, 2001: 84).

Sejarawan yang juga berpendapat seperti ini ialah Arnold, dalam pandangannya, Islam di Jawa memiliki kesamaan dengan Islam di Malabar dan Colomander, mengingat bahwa terdapat kesamaan madzhab antara dua wilayah ini (Arnold, 1977: 318).

Peran Indo-Persia terhadap corak Islam di Jawa juga sangat menonjol. Dalam hal ini bisa dilihat dalam berbagai sistem ritual seperti nama-nama bulan Jawa yang dinisbahkan kepada sistem bulan di Persia. Di Arab dikenal nama bulan Muharram, akan tetapi masyarakat Jawa justru menyebutnya sebagai bulan Suro atau bulan Asyuro.

Baca Juga:  Tidak Lama Lagi Idul Fitri, Inilah 7 Tradisi Lebaran yang Ada di Indonesia

Dalam tradisi Jawa, bulan Suro adalah bulan tirakatan, sebagaimana tradisi di Persia yang menganggap bulan ini sebagai bulan bela sungkawa atas kematian cucu Nabi Muhammad, Husain, di padang Karbala akibat pertempuran dengan Muawiyah.

Jadi tradisi Shi’ah juga dilakukan oleh masyarakat Jawa. Selain itu juga upacara maulid nabi yang dirayakan besar-besaran juga merupakan perluasan tradisi “pengkultusan” terhadap tokoh yang dianggap suci. Tradisi ini tidak ditemukan dalam tradisi Islam Timur Tengah (Arab) sejak awal.

Berbagai kegiatan ritual pada umumnya berisi acara doa selamatan yang isi doanya disesuaikan dengan keperluan. Hampir tiap bulannya terdapat kegiatan ritual yang bersifat rutin.

Berikut ini beberapa potret aliran Islam Kejawen yang merupakan hasil dari proses dialog dan dialektika antara Islam dengan budaya lokal Jawa pada masyarakat Jawa bagian selatan khususnya Kabupaten Banyumas dan Cilacap serta menampilkan model keberagamaan Islam Jawa yang sinkretis.

Mochamad Ari Irawan