Apa Itu Feminis Radikal? Begini Maksud dan Pola Pikirnya

Apa Itu Feminis Radikal? Begini Maksud dan Pola Pikirnya

Pecihitam.org- Feminis radikal berfokus kepada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, terlebih terkait dengan fungsi reproduksi yang memungkinkan perempuan untuk hamil dan melahirkan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Feminis ini juga memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan dan keberadaan bahasa seksisme. Bahasa yang dikonstruksi oleh laki-laki mencerminkan pengalaman laki-laki, oleh karenanya perempuan perlu kata baru bahkan bahasa sendiri untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya yang berbeda dari laki-laki.

Mereka percaya bahasa bukan hanya mendeskripsikan, tetapi mengkreasi realitas. Feminis radikal percaya bahwa transformasi radikal terhadap institusi politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, bahkan medis diperlukan untuk membebaskan perempuan dari penindasan.

Kaum ini percaya bahwa kekuatan patriarki sebenarnya bukan terletak pada institusi politik dan institusi legal lainnya. Dominasi laki-laki atas perempuan bukan melalui area politik hukum dan ekonomi, tetapi melalui berbagai aspek kehidupan, termasuk melalui konstruksi pengetahuan (McLaren, 2002: 7-8).

Feminis ini memperluas gagasan tentang ruang lingkup politik sampai ke situs-situs kekuasaan diluar arena politik formal dan lembaga-lembaga kunci di ranah publik seperti negara, hingga menjangkau kehidupan keluarga dan seksualitas sebagai situs ketidaksetaraan gender dan situs konstruksi identitas gender.

Baca Juga:  Alasan Perempuan Lebih Utama Sholat Di Rumah Daripada Di Masjid

Rosemari Putnam Tong mengkategorikan feminis radikal menjadi dua kelompok, yaitu feminis radikal libertarian dan feminis radikal kultural. Pengkategorian yang dibuat oleh Tong merujuk dari karya Ann Ferguson yang mengulas secara mendalam perbedaan diantara kedua kelompok feminis yang disebutnya sebagai libertarian dan radikal.

Kedua kelompok sama-sama melihat adanya opresi dalam setiap hubungan antara laki-laki dan perempuan. Feminis radikal libertarian menganggap represi berasal dari norma seksualitas patriarki yang merepresi hasrat dan kenikmatan seksual semua orang, dengan memberikan stigma-stigma.

Sedangkan feminis radikal kultural menganggap hubungan heteroseksual dihegemoni ideologi objektivikasi seksual, dimana laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek, yang mendukung kekerasan seksual laki-laki terhadap perempuan.

Perbedaan diantara keduanya nampak pada solusi yang ditawarkan, dimana kelompok libertarian memilih untuk mendapatkan kendali atas seksualitas dan kebertubuhannya dengan menggugat stigma dan norma yang membatasi perempuan untuk mendapatkan kepuasan dan kenikmatan seksual dengan cara apapun, termasuk dengan berhubungan sesama jenis.

Sedangkan feminis radikal kultural, lebih memilih melawan praktek seksual yang mendukung kekerasan seksual oleh laki-laki dan merebut kendali atas seksualitasnya dengan fokus kepada prioritas seksualitas perempuan yang lebih peduli dengan keintiman (Putnam Tong, 2008).

Baca Juga:  Sedikit Rambut Perempuan Terlihat Saat Shalat, Batalkah?

Slogan the personal is political didengungkan oleh kaum feminis radikal untuk menggugat politik formal yang meminggirkan perempuan. Bagi feminis radikal, masalah personal adalah juga masalah politik.

Banyak masalah pribadi yang dialami perempuan sepanjang hidupnya yang bukan merupakan kesalahan perempuan, tetapi dampak dari penindasan yang menimpa perempuan terjadi secara sistematis (Hanisc, 1969).

The personal is political digunakan untuk mendesakkan pentingnya melihat pengalaman sehari-hari perempuan sebagai subjek materi politik, juga sebagai tindakan politik.

Perempuan dapat mengorganisir diri dengan membentuk kelompok-kelompok untuk diskusi yang dapat memunculkan peningkatan kesadaran perempuan untuk berbagi pengalaman dan membangun analisis politik terhadap pengalaman tersebut (Holmes, 2000: 307).

Secara umum, feminis radikal meyakini patriarki yang berkembang di seluruh dunia merupakan sumber opresi yang menimpa perempuan. Patriarki bukanlah determinisme biologis, tetapi merupakan sistem struktur sosial, dan praktik-praktik dimana setiap laki-laki mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi perempuan.

Patriarki meliputi enam struktur, yaitu:

  1. Mode produksi patriarki, dimana dalam struktur rumah tangga, perempuan-perempuan adalah kelas yang memproduksi dan laki-laki yang mengambil keuntungan.
  2. Patriarki pada pekerjaan dengan upah, melarang perempuan masuk ke dalam jenis pekerjaan yang lebih baik karena menganggap perempuan tidak berkompeten.
  3. Patriarki dalam negara, dimana negara bias terhadap kepentingan patriarkis dalam kebijakan dan tindakan.
  4. Kekerasan laki-laki, muncul dalam bentuk yang beragam dan secara sistematis dimaafkan dan ditoleransi oleh masyarakat.
  5. Patriarki dalam seksualitas, mewajibkan heteroseksualitas, dan standar ganda seksual, yang menempatkan perempuan sebagai objek seks.
  6. Patriarki dalam lembaga budaya, menciptakan representasi perempuan dari sudut pandang patriarki dalam arena agama, pendidikan, dan media.
Baca Juga:  Ini Hukum Khitan dalam Islam dan Ragam Manfaatnya

Mochamad Ari Irawan