Harlah NU Tahun 2020, Dari Moderat Kompromistis ke Arah Revolusioner

Harlah NU

Pecihitam.orgNahdlatul Ulama lahir pada 31 Januari 1926 silam di Surabaya, Jawa Timur. Tanggal tersebut bertepatan dengan 16 Rajab 1344. Selain memperingati Harlah versi masehi, Harlah NU juga diperingati dalam versi hijriah, yaitu pada setiap 16 Rajab. Menurut kalender Hijriyah, NU kini telah berusia 97 tahun, sementara menurut Kalender Masehi NU berusia 94 tahun.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tahun 2020 ini menjadi peringatan Harlahnya yang ke 97 versi Hijriyah dan ke-94 versi Masehi. Tema Harlah NU yang ke 94 versi masehi “Meneguhkan Kemandirian NU bagi Peradaban Dunia” menjadi tema yang cukup diskursif dan menarik untuk dibahas.

Singkatnya tema di atas menunjukkan optimisme kapal besar bernama NU untuk berdiri di kaki sendiri. Tema tersebut tentu tidak begitu saja muncul dari ruang hampa. Di balik kemunculannya, tentu ada hitung hitungan strategis soal sosial kapital dan resources yang dimiliki NU.

Setelah diterpa dengan isu miring soal affirmasi pricing kredit ultramikro dengan kementerian keuangan akhir 2019 lalu, sepertinya dalam harlah kali ini NU benar benar ingin menegaskan diri sebagai ormas yang mandiri dan kontributif dalam peradaban global serta tidak tergantung pada pihak atau lembaga lain.

Dalam pandangan saya pribadi, NU memang berbeda dengan organisasi lain. Jika ormas lain setidaknya menggunakan salah satu dari pendekatan afeksi kolektif atau kognisi akademis, NU melakukan keduanya dengan sama baiknya.

Dalam konteks massa grass root NU lebih memainkan pendekatan afeksi kolektif, namun dalam tataran elit, NU tidak sekadar menggalang afeksi kolektif menjadi massa fanatik, ia juga memiliki rekam jejak panjang pada pergerakan yang bersifat kognisi atau intelektual.

Baca Juga:  Perlukah Demonstrasi? Bagaimana Pandangan Islam Tentang Perkara Ini?

Kedua pendekatan tersebut tak bisa dipungkiri menjadi semacam antibodi yang secara kultur terbentuk di tubuh NU dan memproteksi pergerakan dan manuver yang dilakukan oleh NU.

Oleh karena itu politik segregasi yang akhir akhir ini sering dimainkan oleh berbagai pihak untuk mengguncang NU nyatanya layu sebelum berkembang. Terbentur pada tembok besar afeksi kolektif dan gerakan kognisi intelektual para akademisi NU.

Jika kita jeli memperhatikan, empat tahun belakangan ini dua pendekatan tersebut tampak sangat serius digarap oleh NU setidaknya jika dibandingkan tahun tahun sebelumnya.

Dalam hal pendekatan afeksi sosial, NU tampak serius menggarap filantropi keummatan model koin muktamar. Beberapa daerah di Jawa Timur sudah leading dengan program tersebut. Saya memiliki mahasiswa bimbingan skripsi yang juga mengangkat studi tentang model filantropi koin NU di Kabupaten Magetan.

Disamping itu rencana pembiayaan muktamar ke-34 NU di Lampung dengan menggunakan koin muktamar sebagaimana yang disampaikan oleh Sekjen PBNU Andi Najmi Fuadi di berbagai media online menasbihkan keseriusan NU menggarap bidang ini.

Adapun pendekatan kognisi intelektual terutama dalam membangun kultur akademis tak luput menjadi perhatian serius NU. Beberapa tahun lalu ketika saya menghadiri rakornas LPTNU di kantor PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, sambutan penasehat LPTNU pusat Prof. Nuh yang pada waktu itu juga menjabat sebagai mendikbud RI menyadarkan saya betapa kapal besar bernama NU memang telah mulai “mengubah” arah haluan kemudinya.

Baca Juga:  Harlah ke-94 NU, MUI Dorong PBNU Terbitkan Resolusi Jihad Jilid II

Dari yang tawassuth wal i’tidal (baca: moderat dan kompromistis), menjadi masih moderat kompromistis namun lebih revolusioner. Seingat saya rakornas tersebut dihadiri oleh beberapa elit NU termasuk Ketum PBNU Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj dan sekjen Helmy Faishal Zaini.

Sambutan Prof. Mohammad Nuh yang pada waktu itu juga menjabat sebagai mendikbud RI memang sangat memukau dan revolusioner. Dengan gayanya yang khas meledak ledak Prof. Nuh menyampaikan optimismenya terhadap pertumbuhan PTNU yang dirancang akan menjadi salah satu perguran tinggi kompetitif di Indonesia.

Melalui sambutannya beliau seolah menegaskan pada khalayak bahwa PTNU adalah salah satu segmentasi yang harus serius digarap oleh NU agar kapal besar ini menjadi ormas mandiri. Saya masih ingat betul ketika beliau mempresentasikan data-data kuantitatif mutakhir seputar perkembangan perguruan tinggi NU baik di Jawa dan bahkan di luar Jawa.

Sebagaimana kita ketahui bersama, NU memang lekat dengan gerakan dakwahnya yang moderat dan kompromistis. Normativitas dalil, aturan, konsensus dan kaidah baik dalam hal ubudiyah, jinayah, siyasah dan bahkan iqtishodiyah, tidak diperlakukan secara ekstrem dan radikal.

NU menegaskan bahwa khittah pandangannya terhadap variabel-variabel di atas hanya sebatas sebagai perangkat semata. Bukan sebagaimana ormas lain yang memandangnya sebagai orientasi gerakan. Kemaslahatan publik tetap diperlakukan oleh NU sebagai panglima.

Baca Juga:  UAS Hina Salib: Saya Muslim, Saya Bela Hak Saudara Non Muslim

Oleh karena itulah NU lebih berfokus pada pemberdayaan masyarakat pinggiran. Tak heran jika NU memiliki lebih banyak pesantren yang sebagian besar berada di wilayah pinggiran dibanding perguruan tinggi yang menjadi simbol kultur akademis nan kontemporer.

Dengan khittah gerakan dan pandangan tersebut, NU memang nampak tertinggal dalam beberapa hal jika dibandingkan dengan ormas lain. Termasuk dalam segmen pendidikan tinggi yang dimiliki misalnya. Padahal kemandirian suatu ormas sepanjang pemahaman saya dalam pidato Prof. Nuh salah satunya juga tergantung pada penguatan pendidikan dan riset strategisnya.

Dua hal tersebut ada di perguruan tinggi. Dalam konteks afeksi sosial dan kultur kognisi keilmuan akademis inilah tema harlah 94 versi masehi yang menegaskan kemandirian NU sebagai ormas terbesar di Indonesia untuk peradaban dunia menemukan relevansinya.

Selamat hari lahir untuk NU. Semoga senantiasa konsisten menjadi mercusuar gerakan moderatisme Islam untuk peradaban global.

Muhammad Muchlish Huda