Memahami Kondisi Ittihad, Merasa Bersatu dengan Tuhan yang Dialami Abu Yazid dan Al-Hallaj

ittihad

Pecihitam.org- Ittihad merupakan salah satu bagian dalam kajian Tasawuf. Istilah ini dikenal setelah disampaikan oleh dua sufi terkenal, yakni Abu Yazid Al-Busthami dan Abu Manshur Al-Hallaj.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Daftar Pembahasan:

Arti Ittihad

Kata ittihad berarti bersatu atau menjadi satu. Dalam tasawuf, kata Ittihad mengacu pada bentuk pengalaman sufi yang mabuk kepayang dengan Tuhan, yaitu pengalaman bersatu atau merasa bersatu dengan Tuhan.

Pengalaman bersatu atau merasa bersatu dengan Tuhan muncul setelah sufi itu keluar dari kesadarannya yang biasa dan berada dalam kesadaran luar biasa.

Pengalaman atau perasaan demikian itu berakhir ketika ia telah kembali kepada kesadaran biasa.

Ittihad dalam Dunia Sufi

Dalam Ittihad, sufi yang mabuk kepayang dengan Tuhan itu, merasa hancur luluh dan larut dalam lautan ketuhanan, merasa lenyap dalam kehadiran Tuhan, atau merasa dimasuki Tuhan sehingga ia berbicara dengan ungkapan-ungkapan yang aneh (syatahat).

Diantara ungkapan yang aneh itu ada ungkapan seorang sufi yang mengesankan bahwa ia mengaku sebagai Tuhan seperti: “Mahasuci aku, tidak ada Tuhan Kecuali aku, maka sembahlah aku”.

Istilah Lain

Istilah lain yang mengacu kepada kebersatuan seorang sufi dengan Tuhannya dalam kesadaran luar biasa itu adalah jam’ atau imtizaj. Dua istilah yang akhir ini sama maksudnya dengan Ittihad.

Ittihad dengan Tuhan yang dialami seorang sufi, dalam bahasa Inggris disebut mystical union with God, sedangkan dalam kepustakaan Islam Kejawen disebut Manunggaling kawulo Gusti atau bersatunya manusia dengan Tuhan.

Sejarah Munculnya Ittihad

Gagasan tentang Ittihad dalam dunia sufi ini mulai muncul pada abad ketiga Hijriyah yang dipelopori oleh dua sufi terkemuka, yakni Abu Yazid Al Bustomi (wafat 260 261 Hijriyah / 875 Masehi) dan Abu Mansur Al-Hallaj (wafat 310 Hijriah / 922 Masehi).

Mereka adalah dua orang sufi yang mabuk kepayang dengan Tuhan. Dari syathahat yang muncul pada keduanya orang memahami bahwa keduanya tidak saja mabuk kepayang dengan Tuhan, tetapi juga telah memperoleh kesadaran atau perasaan luar biasa, yaitu merasa bersatu dan dan lenyap dalam kebersatuan dengan Tuhan.

Antara Ittihadnya Abu Yazid dan Al-Hallaj

Pada diri Abu Yazid Al Bustomi muncul sebutan Ittihad. Ia pernah merasa dinaikkan atau dimikrajkan sedemikian rupa sehingga berada di hadirat Tuhan dan bersatu dengan-Nya.

Adapun pada diri Al-Hallaj, Ittihad dirasakannya melalui proses hulul. Ia pernah merasa dimasuki ruh Tuhan sehingga ruhnya bersatu (imtizaj) dengan ruh Tuhan.

Ittihadnya Abu Yazid Al-Busthami

Abu Yazid Al Bustomi, sebelum mengalami Ittihad, memiliki keinginan kuat untuk bersatu dengan Tuhan yang dipandang yang dipandangnya sebagai Kekasih.

Ia ingin dihiasi Tuhan dengan keesaan-nNya, sehingga orang yang memandang kepadanya hanya melihat Tuhan, tidak melihat dirinya.

Baca Juga:  Apa Maksud dari Qabdhu dan Basthu dalam Dunia Sufi? Begini Penjelasannya

Ia pernah berkata, “Pada suatu saat aku dinaikkan sampai ke hadirat Allah. Maka Tuhan berkata kepadaku, ‘Hai Abu Yazid, sesungguhnya makhluk-Ku ingin melihat engkau’. Aku menjawab, ‘Wahai, Kekasihku, aku tidak ingin melihat mereka. Jika Engkau menghendaki hal demikian dariku, sungguh aku tidak sanggup menentang kehendak-Mu. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu, sehingga mereka bila melihatku akan berkata, “kami telah melihat engkau, padahal yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau, karena ketika itu aku tidak ada di sana.”

Juga dikisahkan, bahwa pernah seorang laki-laki mendatangi Abu Yazid di rumahnya. Setelah orang itu mengetuk pintu rumah, Abu Yazid Al Bustomi bertanya, “Siapa yang kamu cari? Orang itu menjawab, “Abu Yazid.”

Lalu Abu Yazid Al Bustomi mengatakan, “Pergilah! Tidak ada di rumah ini kecuali Allah”.

Pada kesempatan yang lain, Abu Yazid juga berkata, “,Yang ada dalam jubah ini hanyalah Allah.”

Ittihadnya Al-Hallaj

Seperti halnya Abu Yazid Al Bustomi, Al-Hallaj yang mabuk kepayang dengan Tuhan, juga memandang Tuhan sebagai kekasihnya.

Al-Hallaj mengalami perasaan bersatu dengan Tuhan, yakni merasa dimasuki ruh Tuhan sehingga ruhnya bersatu dengan Tuhan. Ia merasa telah terjadi hulul (inkarnasi, berada, atau bertempatnya ruh Tuhan dalam badannya), sehingga dua ruh bersatu dalam satu tubuhnya.

Kata Al A-Hallaj, “Ruh-Mu telah disatukan dengan ruhku, sebagaimana anggur disatukan dengan air yang suci. Jika ada sesuatu yang menyentuh Engkau, ia menyentuh aku pula, dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku”.

Di lain kesempatan, Al-Hallaj juga berkata, “Aku adalah Dia yang kucinta, dan Dia yang kucinta adalah aku. Kami adalah dua ruh yang telah bertempat dalam satu tubuh. Jika anda lihat aku, Anda lihat Dia, dan jika anda lihat Dia, Anda lihat kami”.

Respon Fuqaha pada Konsep Ittihad

Gagasan ittihad seperti pada Abu Yazid Al Bustami dan dan melalui bentuk hulul pada Al-Hallaj telah mengundang respon negatif terutama dari kalangan ulama yang berada diluar kaum Sufi.

Sikap mabuk kepayang dengan Tuhan saja sudah bisa mengundang anggapan orang bahwa kedua Sufi ini terlalu berlebihan, bahkan telah sinting.

Apalagi munculnya syathahat yang mengesankan bahwa masing-masing telah mengaku sebagai Tuhan dan menyuruh orang untuk menyembahnya.

Disebutkan, bahwa Abu Yazid Al Bustomi setelah melaksanakan salat, mengeluarkan syathahatnya, “Mahasuci aku, alangkah agungnya aku, maka sembahlah”

Sebagian dari orang banyak yang salat di belakang Abu Yazid menjadi heran dan ada sejumlah orang yang menilai Abu Yazid sudah sinting sehingga mereka memisahkan diri dari Abu Yazid.

Perkataan yang sering muncul dari Al-Hallaj, antara lain seperti “Ana Al-Haq, Aku adalah yang Maha Benar” telah mengundang marah sebagian fuqaha, sehingga mereka terdorong untuk menggiring Al-Hallaj ke penjara dan menghukuminya zindiq dan kafir.

Baca Juga:  Corak Tasawuf Imam Al Ghazali, Sang Hujjatul Islam

Dengan alasan itu dan alasan-alasan yang lain, Al-Hallaj pun dihukum mati.

Penjelasan Para Sufi tentang Hakikat Ittihad

Berbeda dengan para ulama yang hanya fokus pada ilmu fiqih, kalangan Sufi pada umumnya berupaya menjelaskan bahwa ittihad itu terjadi tidaklah dalam arti hakiki; ia terjadi tidak lebih dari perasaan yang muncul dalam kesadaran luar biasa terutama pada para sufi yang tergila-gila berasik-masyuk dengan Tuhan.

Bila Abu Yazid Al Bustami dan Al-Hallaj merasa bersatu dengan Tuhan, tidaklah itu berarti bahwa keduanya pada setiap saat mengaku bersatu dengan Tuhan atau mengaku sebagai Tuhan.

Imam Junaid Al Baghdadi, meskipun tidak memberikan apresiasi yang tinggi kepada Abu Yazid Al Bustomi dan Al-Hallaj, tidaklah ia memberikan komentar negatif ketika disampaikan berita bahwa Abu Yazid mengucapkan “Mahasuci aku mahasuci aku, alangkah agungnya aku”.

Imam Junaid Al Baghdadi memberikan komentar, “Dia (Abu Yazid) begitu hancur luluh karena menyaksikan Tuhan, sehingga ia berbicara dengan apa yang membuatnya demikian. Allah telah melenyapkan penglihatannya terhadap dirinya; tidak ada yang ia saksikan kecuali Allah l, maka ia bertutur tentang-Nya”.

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali pun berusaha menjelaskan bahwa pengalaman sufi seperti Abu Yazid dan Al-Hallaj dalam hal Ittihad adalah bermakna majaz (kiasan), sedangkan dalam bahasa hakikat pengalaman demikian disebut tauhid.

Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Sebagian sufi ketika mi’raj ke langit hakikat dikuasai oleh emosi luar biasa. Mereka mengalami fana‘. Pada saat itu kemajemukan lenyap sama sekali dari diri mereka. Mereka tenggelam dalam keesaan semata. Dalam keesaan itu, kesadaran akal mereka hilang dan mereka mabuk terpesona. Tidak ada kemampuan bagi diri mereka untuk mengingat selain Allah dan juga untuk mengingat diri mereka. Tidak ada yang tinggal bagi mereka kecuali Allah. Mereka mabuk kepayang tanpa bisa dikendalikan akal mereka…”

Tak ketinggalan Sulthanul Awliya’, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani juga memberikan pencerahan tentang hal ini.

Kata beliau, “Bila seorang sufi bersatu dengan Allah, maka makna bersatu dengan Allah itu adalah berlepas diri dari makhluk dan kediriannya sendiri, serta menyesuaikan dirinya dengan kehendak Allah tanpa gerak dari kehendak dirinya; yang ada hanya kehendak Allah. Itulah keadaan Fana’ dan dengan keadaan itulah ia bersatu dengan Allah. Bersatu dengan Allah tidak seperti bersatu dengan ciptaan-Nya. Bukankah Allah telah menyatakan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat…”

Dalil Ittihad

Ide bahwa “Dia berbicara dengan lidahku, sedangkan aku telah fana”, seperti yang dinyatakan Abu Yazid bagi para sufi yang membenarkan adanya pengalaman ittihad dalam perasaan luar biasa dipandang sangat sejalan dengan ide yang terdapat dalam Hadis Qudsi berikut:

Baca Juga:  Mengenal Istilah Tawajud, Wijdu dan Wujud Beserta Hubungannya

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Kesimpulan

Tentang konsep ittihad, jika mengacu pada hadis qudsi di atas, maka ia bukanlah ide atau konsep yang keliru dan sesat, sebagaimana dituding oleh para pengingkar Tasawuf.

Hadits Qudsi di atas secara implisit dapat dipahami mengandung makna ungkapan “Aku menjadi lidahnya, yang dengannya ia berbicara”, meskipun ungkapan ini tidak terdapat dalam teks Hadits Qudsi diatas secara eksplisit.

Ittihad seperti apa hakikatnya hanya mereka yang sudah sampai ke maqam tersebut yang paham dan merasakan nikmatnya. Tapi kita setidaknya berusaha memahami agar tidak mudah menyalahkan.

Imam Al-Ghazali memberikan ilustrasi bahwa para sufi yang merasa bersatu dengan Tuhan dapat diibaratkan seperti orang-orang yang belum pernah melihat cermin, tiba-tiba melihat cermin dan melihat gambar diri mereka dalam cermin. Mereka mengira diri mereka menyatu dengan cermin.

Begitulah. Semoga bermanfaat dan kita mendapatkan berkah dari para kekasih Allah yang baik yang sudah di alam baqa maupun yang masih hidup di zaman ini. Amin. Wallahu a’lam bisshawab.

Faisol Abdurrahman