KH Abdul Manan dan Sekilas Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama di Banyuwangi

KH Abdul Manan dan Sekilas Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama di Banyuwangi

Pecihitam.org – Pertumbuhan dan perkembangan Islam di Banyuwangi memang tidak bisa dilepaskan darin hadirnya pondok pesantren dan kaum santri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Santri merupakan kaum pelajar yang mencari ilmu Islam di pondok pesantren. Dengan demikian bahwa tradisi keilmuan Islam akan terus berkembang. Didasari dengan keilmuan agama, tradisi dan budaya, sehingga tidak hanya ilmu agama yang santri dapatkan di pesantren melainkan ilmu kemasyarakatan, perekonomian dan ilmu kebudayan.

Di balik indahnya kota Banyuwangi ternyata terdapat banyak ulama-ulama terkenal pendiri Nahdlatul Ulama di Banyuwangi. Salah satu cikal bakal berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama di Banyuwangi adalah beliau K.H Abdul Manan pendiri pondok pesantren Minhajut Thullab yang bertempat di daerah Muncar.

Pesantren Minhajut Thullab didirikan pada tahun 1932 oleh seorang ulama K.H Abdul Manan  murid dari K.H Kholil Bangkalan Madura.

K.H Abdul Manan merupakan putra kedua dari KH Muhammad Ilyas yang berasal dari Banten dan  Umi Kultsum, yang berasal dari Jatirejo, Kandangan, Kediri. KH Abdul Manan Lahir di desa Grampang, Kabupaten Kediri pada tahun 1870.

Lahir di lingkungan pesantren membuat KH Abdul Manan menjadi sosok ulama yang mempunyai karismatik sehingga banyak di ikuti oleh kalangan masyarakat 

Baca Juga:  Kerajaan Aceh Darussalam dan Potret Sejarah Kejayaan Islam di Nusantara

K.H Abdul Manan pertama menimba ilmu bersama ayahnya K.H Ilyas. Setelah dirasa cukup menimba ilmu bersama ayahnya lalu K.H Abdul Manan melajutkan belajarnya dibeberapa pondok pesantren di jawa seperti pesantren Siwalan Panji Sidoharjo, pesantren Grempol, dan sampai pada akhirnya ia berguru bersama Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.

Setelah melakukan beberapa pengembaraan ilmu di wilayah Jawa Timur, lalu K.H Abdul Manan melanjutkan pengembaraannya di kota Mekkah dan sekaligus melaksanakan ibadah haji.

Sepulang dari Mekkah, K.H Abdul Manan kembali ke Kediri. Di jawa beliau kembali lagi memulai pengembaraan ilmu. Ia berjalan sampai ke ujung timur pulau Jawa dan berguru dengan sosok Kiai besar bernama Kiai Abdul Basar.

Karena K.H Abdul Manan memiliki keilmuan dan akhlak yang tinggi akhirnya beliau dimenikahkan dengan putri Kiai Abdul Basar yang bernama Siti Asminatun. Sempat beliau menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Jalen dalam beberapa waktu sepinanggalan mertuanya Kiai Abdul Basar.

Perjuangan beliau dalam menuntut ilmu sungguh luar biasa dengan kesabaran dan ketekunannya akhirnya mengantarkan Kiai Abdul Manan menjadi sosok ulama yang mempunyai karisma dan sangat disegani oleh masyarakat Banyuwangi.

Ketika seblum mendirikan pondok pesantren, beliau sempat berjalan dengan beberapa santrinya dibeberapa tempat yang tepat untuk mendirikan pesantren.

Baca Juga:  Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Sejarah Turunnya Al-Quran yang Bisa Kita Renungkan

Kiai Abdul Manan bersama santri-santrinya berjalan keliling daerah Banyuwangi mulai dari Kalibiru, Silirangung, Pesanggaran, Tamansari dan hingga Sumberberas, Muncar. Pada tempat yang terakhirlah isyarat dari Kiai Kholil Cangaan, Genteng turun.

Kemudian K.H Abdul Manan dan beberapa santri-santrinya membeli sebidang tanah milik H. Sanusi yang berasal dari Desa Badean, Kabat. Dan tepat pada tahun 1932, akhirnya berdiri Pesantren Minhajut Thullab.

Kehadiran kaum santri inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Nahdlatul Ulama (NU) di Banyuwangi. Sebuah pondasi utama dari tradisi keagamaan dan masyarakat terbentuk sehingga menjadi sebuah jaringan yang saling terhubung satu dengan yang lainnya.

Upaya untuk melestraikan tradisi keagamaan yang sesuai dengan ajaran kaum santri tersebut secara umum dibagi menjadi tiga yaitu pertama tradisi sifatnya dan geneologisnya, kedua tradisi pewarisan keilmuan dan yang ketiga tradisi ijasah.

Seperti contoh diatas yaitu Pesantren Minhajut Thullab. Ketika melestarikan tradisi pesantrennya yaitu dengan cara hubungan geneologis dan mengembangakan hubungan transmisi intelektual antar sesama Kiai.

Tidak hanya itu, Pesantren Minhajut Thullab juga melestarikan tradisi melalui jalur perkawinan. sehingga tidak hanya geneologi keilmuan yang diwariskan melainkan secara nasab dan beberapa kitab rujukan yang sama. Sedangkan untuk nasab dalam arti ijasah adalah jalinan kelompok langgaran maupun kelompok tarekat.

Baca Juga:  Begini Awal Perkembangan Islam di Eropa

Jaringan kelompok langgaran ini, yang bisa kita lihat di beberapa daerah di Banyuwangi. Diwilayah Muncar terdapat langgar Minhajut Thullab dan di kota terdapat langgar Guru Munah. Beliau mengajarkan cara baca Al-Qur’an kepada masyarakat dan Barzanji.

Lalu terdapat pula langgar Kiai Abdul Aziz. Sehingga Kiai Saleh belajar pada masa kecilnya dan ketika dewasa beliau K.H Saleh menjadi salah satu tokoh penggerak  NU di Banyuwangi. 

M. Dani Habibi, M. Ag