Krisis Teologi ( Keimanan ) di Tengah Wabah Covid-19

krisis covid 19

Pecihitam.org – Virus Corona atau biasa disingkat dengan istilah Covid-19 merupakan virus yang akhir-akhir ini melanda di beberapa negara di dunia termasuk Indonesia. Wabah virus ini membuat banyak dampak buruk tidak hanya kesehatan saja namun juga ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan bahkan teologi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Banyak masyarakat yang ketakutan dengan virus corona ini. Sehingga pemerintah membuat kebijakan dilarang keluar rumah dan di larang mudik. Semua aktifitas dalam dunia kerja di kerjakan di rumah masing-masing. Tidak hanya dalam dunia kerja saja, dalam pendidikanpun juga sama. Semua siswa dan mahasiswa di pulangkan dan dalam proses ajar mengajar menggunakan sistem online.

Mungkin kita semua suda tahu bahwa Virus Corona dapat menyebar melalui tempelan tangan yang ada cairan dari flu. World Health Organization ( WHO ) mengungkapkan cara penyebaran covid-19 melalui tetesan kecil air liur yang keluar dari hidung atau mulut ketika orang yang terinfeksi virus corona bersin atau batuk.

Namun melalui wabah dan semakin banyakanya korban yang berjatuahan di Indonesia, maka MUI dan PBNU melarang untuk mengadakan shalat Jum’at di Masjid. Tidak hanya itu, akhir-akhir ini Sekjen MUI Anwar Abbas menyatakan bahwa “haram untuk melakukan mudik lebaran di tengah wabah virus corona”.

Baca Juga:  Meneladani Perdebatan Gus Sholah dengan Gus Dur Tentang Islam dan Pancasila

Dengan adanya wabah virus corona, banyak masyarakat muslim yang ada di Indonesia merasa ketakutan dan bahkan sudah tidak bisa membedakan lagi antara Iktiar dan takut dengan covid-19. Hal ini tentu menjadi persoaan yang serius dalam agama. Krisis kepercayaan kepada Allah swt di tengah wabah covid-19 menjadikan kemunduran dalam Islam khususnya dalam teologi.

Teologi dalam agama Islam berbicara tentang persoalan ketuhanan, maka dapat pula dipahami bahwa teologi juga identik dengan Ilmu kalam terutama dalam dua aspek.

  • Pertama, berbicara tentang kepercayaan terhadap Tuhan dalam segala seginya, termasuk soal wujud-Nya, keesaannya, dan sifat-sifat-Nya.
  • Kedua, berbicara tentang alam semesta, yang berarti termasuk di dalamnya, persoalan terjadinya alam, Covid-19 serta keadilan dan kebijaksanaan Tuhan.

Sehingga kita bisa ketahui bersama bahwa banyak media yang selalu meliput dan memberitakan covid-19 dengan cara yang berlebihan. Tentu ini dapat mempengaruhi psikologi khususnya dalam dimensi kejiwaan.

Selanjutnya, dalam perspektif psikologis, dimensi batin dari iman merupakan aspek iman yang berkaitan dengan keadaan dan perbuatan kejiwaan seseorang baik pada ranah kognisi (pikiran), afeksi (perasaan atau emosi), dan konasi (kehendak).

Baca Juga:  Kecanduan Internet? Inilah Tiga Tips Berselancar di Dunia Maya yang Bikin Mentalmu Tetap Sehat

Dimensi ini berkaitan dengan keyakinan dan sikap batin seseorang. Jika dikontekskan di tengah wabah corana ini. Maka banyaknya informasi kematian di akibatkan oleh covid-19  dan di tambah dengan kebijakan dan fatwa MUI yang melarang untuk shalat berjam’ah ibadah yang bersifat mengundang masa banyak. Ini semua yang membuat manusia khususnya umat musim semakin stress, down, dan akhirnya lebih takut kepada covid-19 daripada Allah swt.

Konstruksi teoritik iman dalam pandangan James W. Ellor yang terdiri dari tiga ranah, yaitu cognitive (meliputi pengetahuan dan kepercayaan ), 2 affective ( meliputi kejiwaan seseorang dan sikap terhadap dirinya dan di luar diri sendiri ), 3 behavioural ( termasuk di dalamnya kegiatan yang berhubungan dengan praktik dan ritual agama).

Sedangkan dimensi lahir dari iman berkaitan dengan tindakan dan perbuatan lahir yang didorong dan digerakkan oleh keyakinan dan sikap batin, baik kegiatan yang berkaitan dengan praktek ritual agama maupun kegiatan sosial kemasyarakatan.

Jika kita mengacu pada teori James W. Ellor tentang tiga komponen penting dalam mengukur kadar keimanan seseorang ( teologi ) dengan wabah covid-19 ini. Maka, saat ini masyarakat muslim di Indonesia mengalami krisis keimanan kepada-Nya. Sebab ketakutan masyarakat lebih banyak kepada covid-19 jika dibandingkan dengan ketakutan kepada Allah swt.

Baca Juga:  Islam Tradisional, Pesantren dan Tantangan Masa Depan

Memang ikhtiar itu penting namun tidak juga kita semua merasa panik dan ketakutan. Sebab jika kita merasa panik dan ketakutan maka dapat dimungkinkan mereka itu adalah orang-orang yang akan jatuh sakit. Karena panik, stres, dan ketakutan kepada covid-19 adalah salah satu pintu masuknya penyakit ke tubuh manusia.

M. Dani Habibi, M. Ag