Salib, Ka’bah, dan Simbol-simbol Agama

salib, kabah dan simbol agama

Pecihitam.org – Dulu itu, selagi masih bujangan saya punya teman, lumayan dekat, setidaknya sering diskusi dan telponan. Dia seorang perempuan, aktivis Budha. Suka meminjamkan saya buku-buku ke-Budha-an.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Suatu kali dia cerita. Pernah diledek seorang muslim sebagai penyembah berhala. Karuan saja, darah mudanya bangkit. “Kamu bilang kami penyembah berhala. Berhala mana yang lebih besar dari bangunan persegi di Makkah”, balasnya.

Mendengar ceritanya saya senyum. Memaklumi saudara muslim saya yang masih belum memahami simbol-simbol keagamaan. Juga memahami emosi teman saya itu.

Dalam sejarah agama-agama, kita berkenalan dengan bermacam simbol. Namun, ada beda antara simbol dengan berhala. Agama penyembah berhala disebut paganisme.

Orang Islam beribadah menghadap dan mengelilingi Ka’bah, umat Nasrani menghormati Salib, umat Budha menghadap patung Shidarta, umat Hindu memuliakan patung Ganesha, bukanlah dalam rangka menyembah dan mempertuhankan. Karenanya, agama-agama tersebut bukanlah agama pagan. Objek yang menjadi sesembahan mereka bersifat metafisik, transendental, tidak kasatmata, absolut, gaib, yang kemudian disebut Tuhan.

Baca Juga:  Ketika "Jubir Medsos HTI" Nyatakan Perang dengan Muhammadiyah

Bila kemudian dalam Islam diperkenalkan Tuhan memiliki 99 nama yang sekaligus sifatnya. Maka dalam Hindu ada 33 Dewa. Bila nama Tuhan bukanlah dzat Tuhan menurut agama Islam, maka ketiga puluh tiga Dewa dalam agama Hindu hanya merupakan manifestasi dari kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Manakala umat Islam memiliki Ka’bah sebagi kiblat untuk menghadap ketika Ia beribadah kepada Tuhan, maka umat Budha pun juga punya patung Sidharta sebagai kiblat. Masing-masing agama punya filsafat sendiri dalam memaknai simbol keimanannya.

Tak terkecuali salib. Ia juga hanya simbol dalam iman Kristiani. Bukan obyek sembahan. Salib kristus itu adalah merupakan suatu tanda hidup kekristenan dimana manusia telah diperdamaikan dengan Allah, dibenarkan dengan Allah dan oleh manusia mendapat penebusan dari Allah (Budi Mark, 10 ; 45).

Baca Juga:  Betulkah Ayat tentang Khalifah Itu Perintah Mendirikan Khilafah?

Setiap umat beragama menghormati simbol-simbol agamanya. Meyakini kemuliaannya. Karenanya, tak layak bagi siapapun untuk merendahkan dan menghinanya. Kecuali ia juga rela simbol agamanya direndahkan dan dihina.

“Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Qs al-An’am : 108)

Ust. Khairullah Zainuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.