Macam-macam Hadis Dhaif Menurut Para Ulama Hadis, Bagian 2

hadis dhaif

Pecihitam.org,– Melanjutkan pembahasan macam macam hadis Dhaif menurut para ulama hadis pada bagian satu, yang meliput, kedha’ifan hadis karena putusnya Sanad dan ketidak Dhabit-an periwayat. Pada bagian dua ini akan dilanjut terkait macam macam hadis Dhaif karena ketidak adilan periwayat, adanya Syadz dan illat. Untuk itu, berikut paparannya:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

3. Hadis dhaif karena periwayatnya tidak adil

Memandang kedhaifan hadis dari periwayatannya yang tidak adil, rupanya hadis dhaif dalam hal ini dibagi atas tiga macam yakni

Pertama hadis mawdhu’, yakni hadis yang sengaja dibuat buat yang kemudian dinisbahkan kepada Rasulullah dengan motif-motif tertentu.

Kedua hadis Matruk, yakni hadis yang diriwayatkan yang dimana para perawinya tertuduh sebagai pendusta. Menurut Mahmud At Thahhan sendiri terkait sebab tertuduhnya periwayat sebagai pendusta ialah karena hadis yang diriwayatkannya tidak diriwayatkan, kecuali dari periwayat itu dan bertentangan dengan kaidah kaidah umum dalam meriwayatkan hadis, serta diketahui bahwa periwayat tersebut berdusta dalam pembicaraan keseharian tetapi belum pernah terbukti pernah berdusta tentang hadis Nabi (Mahmud at Thahhan, Taysir, h. 94)

Ketiga hadis munkar, dalam pandangan ulama hadis terkait hadis munkar ialah karena hadis dalam sanadnya terdapat periwayat yang mengalami kekeliruan yang parah, banyak mengalami kesalahan dan pernah berbuat fasik. Selain itu hadis yang diriwayatkan bertentangan dengan riwayat dari para periwayat yang Tsiqah.  

Baca Juga:  Latar Belakang Munculnya Hadis Palsu, Bagian 2

4. Hadis dhaif karena Syadz

Secara bahasa Syads dapat diartikan sebagai sesuatu yang menyendiri (sesuatu yang menyendiri dan terpisah dari mayoritas). Sedangkan menurut al Syafi’i yakni suatu hadis yang dinyatakan mengandung Syadz apabila diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah dan bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh banyak periwayat yang juga Tsiqah.

Sedangkan menurut al Hakim al Naysaburi ialah dikatakan hadis Syadz apabila diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah akan tetapi tidak di riwayatkan oleh periwayat yang tsiqah lainnya.

Memandang perbedaan pendapat ini terkait hadis Syadz maka para ulama hadis seperti Ibn Shalah, al Nawawi, Subhi al Shalil, Ibn Hajar al ‘Asqalani, al Suyuthi, al ‘Iraqi dan ulama lainnya memilih untuk sepakat pada pandangan al Syafi’i terkait hadis Syadz.

Baca Juga:  Memegang Al-Quran Terjemah Tanpa Wudhu Bolehkah?

Hanya saja sebelum Ibn Shalah menerima pendapat dari al Syafi’i terkait pendapat ini rupanya kemudian beliau mempersamakannya dengan hadis munkar.

Padahal bagi Ibn Hajar al ‘Asqalani sendiri menganggap antara hadis Syadz dengan hadis munkar jelas berbeda. Dan ini bisa dipandang dari periwayatnya. Yang dimana periwayat hadis Syadz tsiqah sedangkan hadis munkar sendiri ada yang lemah.

5. Hadis dhaif karena mengandung Illat

Menurut istilah terkait pengertian hadis dhaif yang mengangung illat dari ahli hadis seperti Ibn Shalah, al Nawawi, dan Nur al Din’Itr beranggapan bahwa illat adalah sebab yang tersembunyi dan dapat merusak kualitas hadis. Yang menyebabkan hadis yang pada lahirnya tampak berkualitas Shahih menjadi tidak Shahih. (Abu ‘Amr ‘Utsman ibn ‘Abd al Rahman ibn al Shalah, ‘Ulum al Hadits, h. 81. Abu Zakariyah Yahya bin Syarf al Nawawi, al Taqrib, h. 10 dan Nur al Din ’Itr, h. 447)

Dalam hal ini, Al Khathib al Baghdadi menjelaskan terkait bagaimana cara mengetahui keberadaan illat itu dalam sebuah hadis. Yakni dengan menghimpun seluruh sanadnya, melihat perbedaan diantara para periwayatnya, dan memperhatikan status hafalan, keteguhan maupun pada kedhabithan masing masing periwayat (Shalah al Din al Adhabi, Manhaj, h. 148)

Sedangkan menurut al Hakin al Naysaburi dalam memandang illat sebuah ialah dengan menjadikan hafalan, pemahaman dan pengetahuan yang luas tentang hadis itu sebagai acuan utama penelitian.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 350 – Kitab Shalat

Dan yang perlu diketahui ialah Illat hadis bisa saja terjadi pada sanad atau matan bahkan bisa pada keduanya secara bersamaan, namun adanya illat baik itu pada sanad, matan atau keduanya tetap disebut dengan hadis mu’allal (hadis yang mengandung ‘illat).

Itulah sekilas informasi terkait macam macam hadis dhaif, semoga dengan paparan singkat diatas dapat kita jadikan sebagai pertimbangan sekaligus pembelajaran dan penerimaan hadis atau pengaplikasian sebuah hadis dalam keseharian, dan semoga bermanfaat!

Sumber: DR. Idris, M.Ag., Studi Hadis (Jakarta: Kencana, 2010)

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *