Inilah Masjid Tertua di Indonesia dan Tradisi yang Terus Dipertahankan

Masjid Tertua di Indonesia dan Tradisi yang Terus Dipertahankan

Pecihitam.org – Kira – kira apa ya Masjid yang tertua di Indonesia? sebelumnya kita ketahui terlebih dahulu bahwa Indonesia merupakan negeri dengan mayoritas penduduknya adalah beragama islam, sehingga tidak heran jika Indonesia memiliki adat, budaya, dan kultur yang lekat dengan ajaran agama islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Banyak sekali sejarah-sejarah peradaban Islam yang ada di Indonesia, salah satunya adalah masjid, sebenarnya banyak sekali masjid-masjid yang dibangun pada zaman dahulu, sebagai tempat untuk melakukan dakwah oleh para pembawa agama islam ke Nusantara.

Salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia yang sampai sekarang masih berdiri kokoh adalah masjid Jami Baitussalam Cikakak Satu atau yang biasa dikenal dengan nama masjid saka tunggal.

Masjid ini terletak di Desa Cikakak kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, provinsi Jawa Tengah. Masjid ini di bangun oleh seorang Kyai yang bernama Kyai Mustolih. Beliau menulis kitab-kitab yang berisi sejarah dibangunnya masjid tersebut, sehingga jelas tentang pembanguanan masjid saka tunggal kala itu.

Baca Juga:  Sejarah Awal Mula Munculnya Sajadah Sebagai Alas Shalat

Namun sangat disayangkan kitab-kitab beliau kini telah hilang bertahun-tahun lalu, sehingga sumber informasi mengenai masjid saka tunggal berkurang. Namun ada yang menyebutkan bahwa masjid saka tunggal di bangun pada tahun 1288 seperti yang tertulis pada saka guru masjid.

Masjid ini berukuran 12 meter x 17 meter,  masjid ini dibangun di hutan desa, yang berjarak sekitar 1 Km dari jalan raya kabupaten Banyumas. Masjid ini memiliki banyak keunikan, salah satunya yaitu memiliki satu saka guru (tiang tunggal), tiang ini mempunyai tinggi 5 meter dengan diameter 30 cm. Yang asli dan masih utuh dari sejak awal pembuatan masjid ini.

Adapun peninggalan-penginggalan lain yang masih terjaga dari awal pembangunan masjid ini yaitu mimbar, tongkat, kentong, lampu, dan lainnya. Selain terkenal karena keunikan dan sejarah, masjid ini juga terkenal sebagai destinasi wisata religi, dilungkangan masjid terdapat gerombolan-gerombolan kera yang sudah akrab dengan masusia.

Disana pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan kera-kera yang ada, bisa memberi makanan ataupun yang lainnya. Selain bangunan yang sudah didirikan tujuh abad lalu, tradisi yang ada di lingkungan masjidpun tetap dilestarikan.

Baca Juga:  Alasan Mengapa 10 Muharram Disebut Hari Raya Anak Yatim

Seperti halnya setiap tanggal 27 Rajab diadakan ritual penggantian Jaro atau pagar bambu dan juga pembersihan makam Kyai Mustolih. Para warga mengganti pagar bambu yang berada di area masjid yang sudah berusia satu tahun, kemudia diganti dengan bambu yang baru.

Sebelum potongan bambu dipasang, potongan bambu terlebih dahulu dicuci di sungai pintu masuk makam. Setelah dicucui barulah warga memasang pagar bambu dimulai dari makam Mbah Tolah yang terletak di atas bukit sekitar 100 meter dari Masjid Saka Tunggal setelah itu baru dipasang diarea masjid.

Selain tradisi diatas ada juga tradisi yang masih dijaga sampai sekarang, yaitu dalam rangkaian sholat jum’at. Dimasjid ini segala rangkaian sholat dalam sholat jum’at dilakukan secara berjama’ah. Seperti sholat tahiyyatul masjid, kobliyah jum’at, sholat fardhu jum’at, ba’diyah jum’at, dan juga sholat dzuhur, semuanya di lakukan secara berjama’ah.

Baca Juga:  4 Etika Berteman dalam Islam Menurut Imam Al Ghazali

Selain itu adzan yang dikumandangan dilakukan oleh 4 orang sekaligus, dengan seragam yang sama, yaitu berpakaian putih dan memakai udeng batik sebagai penutup kepadanya, tidak seperti biasanya yang memaki peci, atau kopyah begitu juga pakaian sang imam.

Selain itu ada juga tradisi ura-ura, yaitu para jama’ah berdzikir dan bersholawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa, dengan bahasa campuran anata Arab dan jawa. Hal itu dilakukan sambil menunggu waktu sholat jum’at.

Kemudian adalagi yang berbeda dengan masjid ini yaitu tidak menggunakan pengeras suara, tidak seperti masjid-masjid umumnya.

Wallahua’lam.

Lukman Hakim Hidayat