Relasi Tafsir Al-Qur’an dalam Politik di Era Orde Baru

al quran dan orde baru

Pecihitam.org – Al-Qur’an di turunkan oleh Allah swt kepada nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril tidak lain bertujuan sebagai pedoman bagi manusia. Seperti dalam proses muamalah, hukum, teologi, sosial, ekonomi dan politik.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Untuk dapat menggali makna dalam setiap ayat Al-Qur’an dibutuhkan berbagai disiplin ilmu dan pendekatan tertentu. Karena teks yang ada di dalam Al-Qur’an bersifat statis namun maknanya bersifat dinamis.

Hal tersebut juga menjadi salah satu latar belakang tertentu bagi seorang mufasir untuk menggali lebih banyak disiplin ilmu pengetahuan khususya ilmu agama demi mendapatkan makna yang sesuai dengan konteksnya.

Farid Esack contohnya, ia adalah seorang cendikiawan muslim yang memberikan gagasan tentang wacana tafsir Al-Qur’an kedalam politik Islam. Wacana yang dimainkan oleh Farid Esack hampir mirip wacana yang dikembangkan oleh Islah Gusmian dalam penelitian disertasinya yang berjudul “Dialektika Tafsir Alquran dan Praktik Politik Rezim Orde baru”.

Pada tahun 1990-an, di Indonesia banyak bermunculan berbagai macam jenis tafsir dengan kepentingan latar belakang penyususnnya. Pada tahun tersebut Indonesia masih di kuasai rezim orde baru. Artinya banyak latar belakang para mufasir dalam menyusun kitab tafsir atas dasar kepentingan politik dan akademisi.

Baca Juga:  Ukhuwah Islamiyah, Persaudaraan Sesama Islam yang Harus Selalu Dijaga (Bagian II)

Seperti, Jalaludin Rahmat “Tafsir bil ma’tsur; pesan moral Al-Qur’an”, Syu’bah Asa “ Tafsir, dalam Cahaya Alquran: Tafsir Sosial ayat-ayat politik “,Omar Bakri “ Tafsir Rahmat ”, Bakri Syahid “ Tafsir berbahasa Jawa, al-Huda; Tafsir Alquran Bahasa Jawi “, Abdullah Tufail Saputra “ Tafsir Gelombang Ketujuh” dan masih banyak lagi yang lainya.

Kontestasi dalam penulisan kitab tafsir di rezim orde baru memang menjadi konsen tersendiri bagi kaum politik dan akademisi. Sebab, lahirnya kitab-kitab tafsir di era tersebut sangat kental dengan persaingan antar lembaga ormas Islam, politik Islam, dan bahkan politik nasional.

Hal tersebut dapat kita lihat dari tiap-tiap tokoh mufasir seperti, Bakri Syahid yang lahir dan besar dilingkungan militer dan termasuk pengurus besar Muhammadiyah, Jalaludin Rahmat seorang akademisi bidang ilmu komunikasi, Abdullah Tufail Saputra (seorang aktivis organisasi masyarakat Islam), pada era 1970-an mendirikan majelis tafsir Al-Qur’an (MTA) yang ada di Solo.

Baca Juga:  Pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab Mengkafirkan Para Ulama

Sejarah politik Indonesia di era rezim orde baru telah menjadi rekaman sejarah tersendiri dalam perjalanan bangsa Indonesia, bahkan menjadi catatan perjalanan dunia. Lebih-lebih ketika runtuhnya pada tahun 1998, berbagai wartawan dari penjuru dunia merekam dan mengabadikan pergerakan mahasiswa dalam meruntuhkan rezim kekuasaan Soeharto.

Gambaran mengenai rezim orde baru pun banyak ditemui dalam berbagai macam bentuk analisis, persfektif dan alur narasi. Namun, narasi yang berbeda muncul ketika fokus wacana rezim orde baru berkuasa. Isu politik rezim orde baru yang  berfokus pada tafsir Al-Qur’an, jika dirincikan dan mengerucut pada tafsir Al-Qur’an sebagai berikut.

Isu pertama, tafsir ideologi politik. Terdapat beberapa tafsir yang bermain dalam medan corak ini, seperti al-Huda : Tafsir Alquran Basa Jawi karya Bakri Syahid, Ayat Suci Dalam Renungan karya Emon Hasyim, Tafsir Al-Hijri karya Didin Hafifuddin, Ensklipodi Al-Qur’an karya Dawam Raharjo dan Dalam Cahaya AlQur’an karya Syu’bah Asa.

Isu Kedua, tafsir pendayagunaan rezim orde baru atas peran agama. Ada beberapa kitab tafsir seperti Tafsir Kebencian karya Zaitunah Subhan dan Ahl Al-Kitab: Makna Dan Cakupannya karya Muhammad Ghalib. Dengan mengutip ayat-ayat dalam Al-Qur’an, para mufassir Indonesia ini menyuarakan pendapatnya kepada rezim orde baru.

Baca Juga:  Majelis Ulama Indonesia dan Tendensi Politik Penguasa Orde Baru

Hal tersebut di karenakan melalui media kajian keagamaan dan khazanah keilmuan tafsir, para mufasir tersebut membuat gagasan-gagasan penting untuk memberikan kritik dan saran kepada pemerintah yang otoriter di era orde baru tersebut.

M. Dani Habibi, M. Ag